etatutwuni

HPLC

Posted on: April 25, 2013

berhubung penelitian tentang HPLC bagi-bagi ilmu dikit lah yaaa

mudah-mudahan bermanfaat, lumayanlah buat tinjauan pustaka :D

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

G.3.1   Teori Dasar

Kromatografi pada hakekatnya merupakan metode pemisahan dimana komponen yang akan dipisahkan terdistribusi diantara dua fase yang saling tidak bercampur, yaitu fasa diam dan fasa gerak. (Bahti, 1998 cit Harmita, 2006).

Kromatografi merupakan suatu cara pemisahan fisik dengan unsur-unsur yang akan dipisahkan terdistribusikan antara dua fasa, satu dari fasa-fasa ini membentuk suatu lapisan stasioner dengan luas permukaan yang besar dan yang lainnya merupakan cairan yang merembes lewat atau melalui lapisan yang stasioner. Fasa stasioner atau diam dapat berupa zat padat atau suatu cairan, dan fasa gerak dapat berbentuk cairan ataupun gas. Maka semua jenis kromatografi yang dikenal, terbagi menjadi empat golongan, yaitu cair-padat, gas-padat, cair-cair, dan gas-cair (Harmita, 2006).

G.3.2   Alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Alat KCKT terdiri dari beberapa bagian, yaitu pompa, injektor, kolom, detektor, dan integrator.

  1. Pompa

Pompa yang cocok digunakan untuk KCKT adalah pompa yang harus inert terhadap fase gerak. Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan (Gandjar dan Rohman, 2007). Pompa berfungsi untuk mengalirkan eluen dari wadah ke dalam kolom pada laju alir terkontrol (Harmita, 2006).

  1. Injektor

Injektor berfungsi untuk memasukkan cuplikan ke dalam kolom.

  1. Kolom

Kolom berfungsi untuk memisahkan masing-masing komponen yang terdapat dalam sampel yang tersedia. Kolom yang telah tersedia dalam berbagai macam ukuran. Kolom merupakan bagian terkecil dari KCKT, karena ikut menentukan keberhasilan analisis (Harmita, 2006).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih kolom antara lain (Harmita, 2006) :

  1. Panjang kolom

Panjang kolom biasanya berkisar antara 5-100 cm. Bertambahnya panjang kolom akan mengakibatkan waktu retensi bertambah, dan pemisahan yang semakin baik.

  1. Diameter kolom

Dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kolom analitik (diameter 2-6 mm), dan kolom preparatif (diameter 6 mm atau lebih).

  1. Pengisi kolom

Kolom yang berisi partikel bulat cendrung sedikit lebih mantap terhadap goncangan mekanis dan tekanan pelarut tinggi. Ukuran bahan pengisi sangat berpengaruh pada resolusi kolom. Ukuran dan bentuk partikel akan mempengaruhi aliran fase gerak secara langsung dan pemisahan atau efisiensi kolom secara tidak langsung.

  1. Fase gerak

Harus selektif terhadap komponen yang dikehendaki dan tidak kental agar dapat memperkecil penurunan tekanan.

  1. Tekanan kolom

Tekanan kolon timbul akibat hambatan terhadap eluen. Partikel yang berdiameter lebih kecil, dan menggunakan eluen dengan viskositas rendah dapat menurunkan tekanan kolom.

Kemampuan kolom untuk memisahkan senyawa yang dianalisis merupakan ukuran kinerja kolom. Dasar yang banyak digunakan untuk pengukuran kinerja kolom adalah resolusi (R) dan efisiensi kolom. Resolusi didefenisikan sebagai jarak antara dua puncak dibagi rata-rata lebar (W) dua puncak yang diukur pada alas puncak. Bila nilai resolusi lebih besar dari pada 1,5 maka pemisahan yang dihasilkan baik atau lebih dari 99,7%. Sedangkan bila nilai resolusi kurang dari 1,5 maka pemisahan yang dihasilkan tidak baik (Harmita, 2006).

Efisiensi menunjukkan kemampuan kolom untuk menghasilkan puncak sempit dan perbaikan pemisahan. Efisiensi kolom dapat dihitung sebagai jumlah pelat teoritis atau Height Equivalent to Theoretical Plate (HETP). HETP adalah panjang kolom yang diperlukan untuk tercapainya keseimbangan komponen sampel antara eluen dengan kolom (Harmita, 2006).

Pemisahan berbagai komponen sampel oleh kolom tergantung kepada daya pisah kolom terhadap komponen tersebut. Daya pisah ini sangat dipengaruhi oleh faktor kapasitas tiap komponen sampel. Faktor kapasitas (k’) didefenisikan sebagai waktu tambahan yang diperlukan oleh zat terlarut untuk terelusi dibandingkan dengan tidak tertahan (k’ = 0), dibagi dengan waktu elusi dari zat yang tidak tertahan tersebut. Faktor kapasitas merupakan ukuran kekuatan kolom untuk menahan molekul sampel pada suatu kondisi isokratik (Harmita, 2006).

  1. Detektor

Detektor berfungsi untuk mendeteksi atau mengidentifikasi komponen-komponen sampel di dalam fase gerak dan megukur jumlahnya (Johnson & Stevenson, 1991 cit Harmita, 2006).

  1. Integrator

Integrator berfungsi untuk menghitung luas puncak

G.3.3   Fase Gerak

Fase gerak pada KCKT merupakan salah satu pengubah yang mempengaruhi pemisahan. Variasi fase gerak pada KCKT sangat beragam dalam hal kepolaran dan selektifitas terhadap komponen dalam sampel (Harmita, 2006).

Secara umum fase gerak yang baik harus mempunyai sifat sebagai berikut (Johnson & Stevenson, 1991 cit Harmita, 2006).:

  1. Murni
  2. Tidak bereaksi dengan kolom
  3. Sesuai dengan detektor
  4. Dapat melarutkan cuplikan
  5. Selektif terhadap komponen
  6. Viskositasnya rendah
  7. Memudahkan dengan mudah untuk memperoleh cuplikan kembali jika diperlukan
  8. Harganya wajar
  9. Dapat memisahkan zat dengan baik.

 

G.3.4   Fase Diam

Kebanyakan fase diam pada KCKT berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH) (Harmita, 2006).

G.3.5   Analisis Kuantitatif dengan KCKT

Dasar perhitungan kuantitatif untuk suatu komponen zat yang dianalisis adalah dengan mengukur luas puncaknya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu (Harmita, 2006):

  1. Penggunaan baku luar

Larutan baku dengan berbagai konsentrasi disuntikkan dan diukur luas puncaknya. Buat kurva kalibrasi antara luas puncak terhadap konsentrasi. Kadar sampel diperoleh dengan cara memplot luas puncak sampel pada kurva kalibrasi baku atau dengan perbandingan langsung. Kekurangan metode ini adalah diperlukan baku yang murni serta ketelitian dalam pengenceran dan penimbangan (Harmita, 2006).

  1. Penggunaan baku dalam

Sejumlah baku dalam ditambahkan pada sampel dan standar. Larutan campuran komponen standar dan baku dalam dengan konsentrasi tertentu disuntikkan dan hitung perbandingan luas puncak kedua zat tersebut. Buat kurva baku antara perbandingan luas puncak terhadap konsentrasi komponen standar. Kadar sampel diperoleh dengan memplot perbandingan luas puncak komponen sampel dengan baku dalam pada kurva standar. Keuntungan menggunakan cara ini adalah kesalahan volume injeksi dieliminer. kesulitan cara ini adalah diperlukan baku dalam yang tepat (Harmita, 2006).

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh senyawa baku dalam, yaitu (Johnson & Stevenson, 1991 cit Harmita, 2006):

  1. Harus terpisah sama sekali dari puncak cuplikan
  2. Harus terelusi dekat puncak yang diukur
  3. Konsentrasi dan tanggapan detektornya harus sama dengan konsentrasi dan tanggapan detektor puncak yang diukur
  4. Tidak boleh bereaksi dengan komponen cuplikan
  5. Tidak terdapat dalam cuplikan asal
  6. Harus sangat murni dan mudah diperoleh

judulnya boleh ganti gak BLOG YANG TERLUPAKAN

ternyata gw pnya blog

woyyy…gw punya blog dari taon 2011

berarti gw gak gaptek2 amat kan yaaaaa

hahaha (ketawa setan)

maafkan kalo isi blog kali ini rada gak jelas, postingan gw sebelumnya serius amat yahhh… materi kuliah, tugas, astagaaaaa mahasiswi farmasi yang baikk salutt

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sedikit penjelasan tentang respirasi, Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untak kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan.

Contoh:

Respirasi pada Glukosa, reaksi sederhananya:

C6H1206 + 6 02 ———————————> 6 H2O + 6 CO2 + Energi (glukosa)

Reaksi pembongkaran glukosa sampai menjadi H20 + CO2 + Energi, melalui tiga tahap :

1. Glikolisis.

2. Daur Krebs.

3. Transpor elektron respirasi.

 

1. Glikolisis:

Peristiwa perubahan :

Glukosa Þ Glulosa – 6 – fosfat Þ Fruktosa 1,6 difosfat Þ 3 fosfogliseral dehid (PGAL) / Triosa fosfat Þ Asam piravat.

Jadi hasil dari glikolisis :

1.1. 2 molekul asam piravat.

1.2. 2 molekul NADH yang berfungsi sebagai sumber elektron berenergi

tinggi.

1.3. 2 molekul ATP untuk setiap molekul glukosa.

 

2. Daur Krebs:

Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau daur asam sitrat merupakan pembongkaran asam piravat secara aerob menjadi CO2 dan H2O serta energi kimia

 

 

 

3. Rantai Transportasi Elektron Respiratori:

Rantai transpor elektron adalah tahapan terakhir dari reaksi respirasi aerob. Transpor elektron sering disebut juga sistem rantai respirasi atau sistem oksidasi terminal. Transpor elektron berlangsung pada krista (membran dalam) dalam mitokondria. Molekul yang berperan penting dalam reaksi ini adalah NADH dan FADH2, yang dihasilkan pada reaksi glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, dan siklus Krebs. Selain itu, molekul lain yang juga berperan adalah molekul oksigen, koenzim Q (Ubiquinone), sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a.

Pertama-tama, NADH dan FADH2 mengalami oksidasi, dan elektron berenergi tinggi yang berasal dari reaksi oksidasi ini ditransfer ke koenzim Q. Energi yang dihasilkan ketika NADH dan FADH2 melepaskan elektronnya cukup besar untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP. Kemudian koenzim Q dioksidasi oleh sitokrom b. Selain melepaskan elektron, koenzim Q juga melepaskan 2 ion H+. Setelah itu sitokrom b dioksidasi oleh sitokrom c. Energi yang dihasilkan dari proses oksidasi sitokrom b oleh sitokrom c juga menghasilkan cukup energi untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP. Kemudian sitokrom c mereduksi sitokrom a, dan ini merupakan akhir dari rantai transpor elektron. Sitokrom a ini kemudian akan dioksidasi oleh sebuah atom oksigen, yang merupakan zat yang paling elektronegatif dalam rantai tersebut, dan merupakan akseptor terakhir elektron. Setelah menerima elektron dari sitokrom a, oksigen ini kemudian bergabung dengan ion H+ yang dihasilkan dari oksidasi koenzim Q oleh sitokrom b membentuk air (H2O). Oksidasi yang terakhir ini lagi-lagi menghasilkan energi yang cukup besar untuk dapat menyatukan ADP dan gugus fosfat organik menjadi ATP. Jadi, secara keseluruhan ada tiga tempat pada transpor elektron yang menghasilkan ATP.

 

Ketiga proses respirasi yang penting tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

PROSES AKSEPTOR ATP

1. Glikolisis: Glukosa ——> 2 asam piruvat 2 NADH 2 ATP

2. Siklus Krebs: 2 asetil piruvat ——> 2 asetil KoA + 2 C02 2 NADH 2 ATP 2 asetil KoA  —> 4 CO2 6 NADH 2 PADH2

3. Rantai trsnspor elektron respirator: 10 NADH + 502 ——> 10 NAD+ + 10 H20 30 ATP 2 FADH2 + O2 ——> 2 PAD + 2 H20 4 ATP

Total 38 ATP

 

Jadi Oksigen yang dihasilkan dari proses respirasi merupakan energi karena:

v  Pembongkaran 1 mol glukosa (C6H1206) + O2 ——> 6 H20 + 6 CO2 menghasilkan energi sebanyak 38 ATP.

Memerlukan O2  untuk menghasilkan ATP

v  Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah dihasilkan NADH dan FADH2 sebanyak 10 dan 2 molekul. Dalam transpor elektron ini, kesepuluh molekul NADH dan kedua molekul FADH2 tersebut mengalami oksidasi sesuai reaksi berikut.

 

O2 dibutuhkan untuk mengoksidasi, sehinggan menghasilkan energi NAD+ dan FAD

v  Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi.

v  Tahap respirasi aerob adalah rangkaian reaksi-reaksi respirasi yang merupakan kelanjutan dari tahap reaksi respirasi anaerob. Dimulai dari masuknya asam piruvat menjadi asetil koensim A terus masuk ke dalam rangkaian reaksi-reaksi oksidasi sampai selesai menghasilkan CO2. Pada beberapa reaksi oksidasi tersebut, pada saat berpindahnya hidrogen, mengeluarkan energi yang ditangkap melalui proses fosforilasi sehingga terbentuk ATP. Tahap akhir dari rangkaian pemindahan hidrogen akan ditangkap oleh Oksigen (sebagai aseptor hidrogen terakhir, lihat oksidasi Biologi) melalui enzim sitokrom oksidase.

v  Rantai transpor elektron adalah tahapan terakhir dari reaksi respirasi aerob. Transpor elektron sering disebut juga sistem rantai respirasi atau sistem oksidasi terminal. Transpor elektron berlangsung pada krista (membran dalam) dalam mitokondria. Molekul yang berperan penting dalam reaksi ini adalah NADH dan FADH2, yang dihasilkan pada reaksi glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, dan siklus Krebs. Selain itu, molekul lain yang juga berperan adalah molekul oksigen, koenzim Q (Ubiquinone), sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a.

Sebuah atom oksigen mengoksidasi sitokrom a, oksigen tersebut merupakan zat yang paling elektronegatif dalam rantai tersebut, dan merupakan akseptor terakhir elektron. Setelah menerima elektron dari sitokrom a, oksigen ini kemudian bergabung dengan ion H+ yang dihasilkan dari oksidasi koenzim Q oleh sitokrom b membentuk air (H2O). Oksidasi yang terakhir ini lagi-lagi menghasilkan energi yang cukup besar untuk dapat menyatukan ADP dan gugus fosfat organik menjadi ATP. Jadi, secara keseluruhan ada tiga tempat pada transpor elektron yang menghasilkan ATP.

 

BAKTERI GRAM NEGATIF

 

  1. I.      PADA MATA

 

  1. 1.    Moraxella catarrhalis

Moraxella catarrhalis adalah, cerewet nonmotile, Gram-negatif , aerob , oksidase-positif Diplococcus yang dapat menyebabkan infeksi pada sistem pernapasan , telinga tengah , mata , sistem saraf pusat dan sendi manusia.

 

 

Moraxella catarrhalis

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:        Bakteri

Filum:             Proteobacteria

Kelas:             Gammaproteobacteria

Urutan:           Pseudomonadales

Keluarga:        Moraxellaceae

Genus:            Moraxella

Spesies:          M. Catarrhalis

 

Selama kasus yang dilaporkan pertama M. Catarrhalis menyebabkan bakteremia yang terkait dengan artritis septik , para mikroba yang berbudaya , yang mengungkapkan banyak tentang morfologi dari koloni M. Catarrhalis serta M. Catarrhalis sendiri. M.  Catarrhalis adalah besar, berbentuk ginjal gram negatif Diplococcus .  Hal ini dapat dikultur pada darah dan cokelat piring agar-agar setelah aerobik inkubasi pada 37 derajat Celcius selama 24 jam. Budaya dari M. Catarrhalis bakteri mengungkapkan abu-abu putih belahan koloni sekitar 1 milimeter di diameter .  Ini koloni itu rapuh dan mudah pecah dan tampak memiliki lilin permukaan.

 

Juga, hoki keping tes diterapkan ini M. Catarrhalis koloni .  Ini adalah tes di mana tongkat kayu digunakan untuk mencoba dan mendorong koloni di plate agar . M. Catarrhalis koloni mencetak positif pada tes ini, yang berarti bahwa koloni dapat meluncur di piring.  Juga, selama tes ini tidak ada hemolisis .  Selain itu, koloni tidak dapat memfermentasi glukosa , sukrosa , maltosa , dan laktosa .  Namun, mereka mampu menghasilkan DNase .  Akhirnya, budaya dari M. catarrhalis dites positif untuk oksidase dan catalyzation dari nitrat , yang merupakan karakteristik M. Catarrhalis.

 

Pengakuan M. Catarrhalis sebagai bakteri patogenik telah menyebabkan studi untuk kemungkinan antibodi terhadap itu.  Oleh karena itu, penelitian ini telah menyebabkan pemahaman yang lebih luas dari komposisi M. Catarrhalis.  Sebuah studi oleh Merja Helminen dan rekan-rekannya mengungkapkan bahwa protein membran luar (OMP) profil yang berbeda strain M. Catarrhalis yang sangat mirip satu sama lain.  Selanjutnya, analisis ini protein membran luar profil dengan antibodi monoklonal (mAbs) mengungkapkan bahwa beberapa protein dengan serupa massa molekul dalam strain yang berbeda M. Catarrhalis telah silang-reaktif epitop . percobaan mereka juga mengidentifikasi permukaan yang terpapar protein pada M. Catarrhalis yang memiliki luar biasa massa molekul tinggi .  Telah ada laporan bahwa 80kDa membran protein luar di M. Catarrhalis adalah imunogenik dan umum untuk semua nonencapsulated helai M. Catarrhalis, yang menunjukkan bahwa hal itu dapat digunakan sebagai antigen untuk imunisasi .

Moraxella catarrhalis diklasifikasikan dengan Neisseria genera, Moraxella, Kingella, dan Acinetobacter di Neisseriaceae keluarga. Posisi taksonomi M. catarrhalis saat ini sedang diperdebatkan; telah diusulkan bahwa M. catarrhalis ditugaskan ke Moraxella genus (M. catarrhalis) di Moraxellaceae keluarga, atau genus sendiri, Branhamella, di Branhamaceae keluarga. Pada awal 1900-an, deskripsi “N. catarrhalis” dalam flora normal orofaringeal mungkin salah. Sebelum tahun 1962, ketika N. cinerea digambarkan, strain spesies ini adalah misidentified sebagai N. catarrhalis. Terlepas dari pertanyaan mengenai status taksonomi spesies ini, di laboratorium klinis, isolat M. catarrhalis harus dibedakan dari Neisseria spp.

Koloni M. catarrhalis mungkin memiliki permukaan kasar dan rapuh dalam konsistensi, merah muda kecoklatan, dan buram. Sedangkan Neisseria spp. memiliki suhu pertumbuhan optimal 35C-37C, M. strain catarrhalis toleransi terhadap suhu rendah dan tumbuh baik pada 28C. M. catarrhalis tidak sering terisolasi dari orofaring orang dewasa sehat, tetapi dapat dilakukan lebih sering pada anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua.

Meskipun M. catarrhalis telah diakui sebagai penyebab infeksi manusia sejak awal 1900-an, berbagai infeksi yang disebabkan oleh spesies ini hanya didokumentasikan dengan jelas dalam 10 sampai 15 tahun terakhir. M. catarrhalis menyebabkan akut, infeksi lokal seperti otitis media, sinusitis, dan bronkopneumonia serta mengancam jiwa, penyakit sistemik termasuk endokarditis dan meningitis. M. catarrhalis juga menyebabkan sebagian besar kasus infeksi saluran pernafasan pada pasien usia lanjut dengan penyakit paru obstruktif kronik dan bronkitis kronis dan pneumonia jujur. Mekanisme yang menyebabkan infeksi M. catarrhalis tidak dipahami.

Karakteristik M. catarrhalis

Ciri Ilustrasi
Gram stain
Morfologi sel
Gram-negatif Diplococcus
Morfologi koloni
Pewarnaan pigmen
Uji oksidase
Produksi Asam
Enzim Uji Substrat Tidak ada reaksi
Pengurangan Nitrat Uji Nitrat ve
Polisakarida dari Sukrosa Polisakarida-ve
Produksi
Deoxyribonuclease (DNase)
DNase-positif ve
Uji Superoxol
(Reaksi dengan hidrogen peroksida 30%)
Saring variabel; reaksi bervariasi dari lemah (1 +) untuk sangat kuat (4 +)
Uji katalase
(Reaksi dengan hidrogen peroksida 3%)

Ketika dilakukan pada medium dasar yang jelas tanpa hemoglobin, reaksi katalase M. catarrhalis dapat terjadi dengan penuh semangat, tapi sangat cepat dan kemudian menjadi “negatif;” gelembung yang gigih tidak dapat diamati. Dengan demikian, reaksi harus diawasi untuk mengamati reaksi katalase positif.

Katalase-positif
Colistin Perlawanan Kebanyakan strain colistin-sensitif, beberapa strain colistin-tahan.

Spesies yang dapat misidentified sebagai M. catarrhalis dalam tes deteksi asam

Berdasarkan pola produksi asam, M. catarrhalis dapat misidentified sebagai N. cinerea, N. flavescens, atau sebagai strain glukosa negatif N. gonorrhoeae. Tes tambahan yang dapat membantu dalam membedakan antara spesies yang tidak menghasilkan asam terdeteksi dari karbohidrat ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Tes tambahan yang memungkinkan diferensiasi antara gram negatif diplococci yang tidak menghasilkan asam terdeteksi dari karbohidrat.

Spesies yang menghasilkan
ada asam terdeteksi
Gram Stain Enzim Substrat
DNase Superoxol Polisakarida
dari sukrosa
Nitrat
pengurangan
Pigmen Colistin
kerentanan
M. catarrhalis GND Tidak ada
reaksi
+ Ketegangan
variabel
(1 + sampai 4 +)
- + - (R)
(Glukosa-negatif
N. gonorrhoeae )
GND Hidroksi
prolylamino-
peptidase ve
- Kuat
4 +
“Explosive”
- - - R
N. cinerea GND Hidroksi
prolylamino-
peptidase ve
- Lemah
(2 +)
- - - (R)
N. elongata GNR Hidroksi
prolylamino-
peptidase ve
- - - - - S
N. flavescens GND Hidroksi
prolylamino-
peptidase ve
- Lemah (2 +)
reaksi
+ - + S

Singkatan: GND, Gram-negatif Diplococcus, GNR, Gram-negatif batang, +, strain yang paling positif; -, strain yang paling negatif, R, strain tumbuh baik pada media selektif untuk N. gonorrhoeae dan / atau tidak menunjukkan inhibisi sekitar disk colistin (10 mikrogram); (R), strain yang paling rentan, beberapa strain tidak diketahui resisten, S, strain yang paling sensitif, tidak diketahui resisten.

Meskipun tes enzim substrat yang dimaksudkan untuk digunakan hanya untuk identifikasi Neisseria spp. diisolasi pada media selektif untuk N. gonorrhoeae, tes ini memberikan informasi tambahan yang dapat membantu dalam mengidentifikasi suatu mengisolasi akurat. Namun, tes ini tidak boleh digunakan sebagai uji identifikasi utama untuk diisolasi pada media nonselektif. M. catarrhalis adalah unik di antara gram-negatif diplococci; strain M. catarrhalis menghasilkan tidak ada reaksi dalam tes substrat enzim .

 

  1. PSEUDOMONAS

    A. TERMASUK FAMILI : Pseudomonadaceae.

Kuman Pseudomonas berbentuk batang bergerak dan menghasilkan pigmen yang mudah larut dalam air dan berdifusi di dalam medium pertumbuhan. Kuman ini terdapat banyak di tanah, sampah, air dan udara.Diantara 30 species dari Pseudomonas yang diketahui, hanya sati yang pathogen terhadap hewan dan manusia yaitu Pseudomonas aeruginosa.Sdillet (1850) seorang ahli bedah Prancis sudah melihat adanya eksudat yang berwarna biru kehijauan pada pakaian-pakaian operasi. Fordas (1860) dapat mengisolasi kristal dari kain yang terkena luka bernanah dan menamakannya pyocianine.

Gessard dapat mengisolasi penyebabnya dan terus dipelajarinya sampai tahun 1882-1925.

B. PENYEBABNYA DAN PENULARANNYA

Pseudomonas aeruginosa tersebar luas di dunia dan terdapat di tanah, sampah, air dan udara.

Infeksi pada manusia adalah karena kulit tercemar oleh Pseudomonas aeruginosa dan adanya predisposisi seperti lecet atau berupa luka-luka tusuk/iris.

C. MORFOLOGI

Kuman ini berbentuk batang pendek lurus atau bengkok.Ukuran 0.5 X 1-3 mikron. Bergerak aktif dengan satu / lebih flagella dan flagellanya terletak pada kedua ujung kuman.Tidak berspora dan tidak berselubung serta Gram (-).

D. SIFAT BIAKAN

Tumbuh aerobe, membentuk pigmen kehijauan dan dalam keadaan anaerobe tidak membuat pigmen.Tumbuh di media biasa, di media padat bentuk koloni besar tidak teratur, abu-abu gelap dan terlihat adanya untaian pada tepinya.Pigmen disebarkan dalam medium pertumbuhan
E. REAKSI BIOKIMIA

Kuman ini dapat mencairkan gelatin dan tidak membentuk H2S.

Indol (-) dan kadang-kadang terjadi false indol (+). Hal ini terjadi bila dipakai reagensia Erlich dan sebaiknya memakai reagensia dari Kovac. Tidak memecah urea.Pseudomonas aeruginosa yang baru diisolir dari jaringan tubuh mampu membentuk 2 macam pigmen, yaitu :1. Pyocinine adalah berwarna hijau kebiruan yang dapat larut dalam air dan chloroform dan mempunyai kemampuan anti jasad renik.2. Flourescine berwarna kehijau-hijauan, berflouresensi, larut dalam air dan tidak larut dalam chloroform.

F. STRUKTUR ANTIGEN

Pseudomonas aeruginosa memiliki 2 macam antigen, ialah : antigen-H dan antigen-O, dan paling sedikit ada 7 tipe antigen Pseudomonas aeruginase yang telah ditetapkan. Lipopolisakarida menentukan kekhususan antigen.

Vaksin dari tipe-tipe ini yang diberikan pada penderita “high-risk” akan memberikan perlindungan terhadap sepsis Pseudomonas 10 hari kemudian. Pengobatan seperti ini diberikan pada kasus-kasus leukemia, luka bakar, fibrosis kristik dan penekanan immun.

G. RESISTENSI

Kuman ini sensitif terhadap desinfektan biasa dan pada pemanasan 55oC dalam 1 jam mati.

H. KLINIS

Kuman dapat menginfeksi tractus uregenitalis, septicemia, ulcus cornea, gastroenteritis pada anak-anak dan meningitis.

I. TERAPI

Polimiksin B, Gentamycin, Rafidin, Mindilanin. Karbenisillin dan Khloramfenikol.
Kuman ini cepat resisten terhadap antibiotika.

 

  1. 3.    Chlamydia

Morfologi

Chlamydia merupakan bakteri obligat intraselular, hanya dapat berkembang biak di dalam sel eukariot hidup dengan membentuk semacam koloni atau mikrokoloni yang disebut Badan Inklusi (BI). Chlamydia membelah secara benary fision dalam badan intrasitoplasma.

C. trachomatis berbeda dari kebanyakkan bakteri karena berkembang mengikuti suatu siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu berupa Badan Inisial. Badan Elementer (BE) dan Badan Retikulat (BR) atau Badan Inisial. Badan elementer ukurannya lebih kecil (300 nm) terletak ekstraselular dan merupakan bentuk yang infeksius, sedangkan badan retikulat lebih besar (1 um), terletak intraselular dan tidak infeksius.

Morfologi inklusinya adalah bulat dan terdapat glikogen di dalamnya. C. trachomatis peka terhadap sulfonamida, memiliki plasmid, dan jumlah serovarnya adalah 15.

 

 

b. Klasifikasi

Klasifikasi Ilmiah dari Chlamydia trachomatis adalah sebagai berikut:

Ordo : Chlamydiales

Famili : Chlamydiaceae

Genus : Chlamydia

Spesies : Chlamydia trachomatis
penyakit yang diakibatkan
1. Pria.
- Epididimitis : infeksi pada epididimis, yang bisa menyebabkan nyeri pada buah zakar

- Striktur uretra : penyempitan uretra, yang bisa menyebabkan penyumbatan aliran air kemih.

2. Wanita.
- Infeksi saluran telur, bisa menyebabkan nyeri, kehamilan ektopik (di luar kandungan) dan kemandulan
- Infeksi pembungkus hati dan daerah di sekeliling hati, bisa menyebabkan nyeri perut bagian atas

3. Pada pria dan wanita.
- Konjungtivitis : infeksi pada bagian putih mata, bisa menyebakan nyeri mata dan belekan

4. Pada bayi baru lahir.
- Konjungtivitis, bisa menyebabkan nyeri mata dan belekan
- Pneumonia, bisa menyebabkan demam dan batuk.

Pemeriksaan Mikroskopik2

Pemeriksaan dalam gelas objek diwarnai dengan pewarnaan giemsa atau larutan jodium dan diperiksa dengan mikroskop cahaya biasa. Pada pewarnaan Giemsa, Badan Inklusi (BI) terdapat intra sitoplasma sel epitel akan nampak warna ungu tua, sedangkan dengan pewarnaan yodium akan terlihat berwarna coklat. Jika dibanding dengan cara kultur, pemeriksaan mikrosopik langsung ini sensitifitasnya rendah dan tidak dianjurkan pada infeksi asimtomatik.

 

Deteksi Antigen Langsung2

Dikenal 2 cara pemeriksaan antigen yaitu :

1. Direct Fluorescent Antibody (DFA)

Cara ini merupakan test non-kultur pertama dimana C. trachomatis dapat ditemukan secara langsung dengan metode monoklonal antibodi yang dilabel dengan fluorescein. Dengan teknik ini Chlamydia bebas ekstraseluler yang disebut badan elementer (BE) dapat ditemukan. Kadang-kadang juga dapat ditemukan badan inklusi intrasitoplasmik. Cara ini tidak dapat membedakan antara organisme mati atau hidup, tetapi keuntungannya tidak membutuhkan biakan sel jaringan dan hasilnya dapat diketahui dalam 30 menit.

2. Enzym Immuno Assay (EIA)

Banyak tes-tes yang tersedia saat ini menggunakan teknik ini. Tidak seperti DFA, EIA bersifat semiautomatik dan sesuai digunakan untuk memproses spesimen dalam jumlah besar.

Test DNA Chlamydia2

1. DNA Hibridisasi (DNA Probe)

Test ini sensitifitasnya kurang dibandingkan metode kultur yaitu 75-80% dan spesifitas lebih dari 99 %.

2. Nucleic Acid Amplification.

Teknik amplifikasi nukleat yang terbanyak dipakai yaitu : Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Ligase Chain Reaction (LCR). Test ini memiliki sensitifitas dan spesifisitas tinggi, dan dapat menggunakan non-invasif spesimen seperti urine untuk menskrining infeksi asimtomatik pada wanita maupun pria.

 

  1. 4.      Proteus Sp.

 

 

• Proteus vulgaris dan Proteus mirabilis

• Morfologi mikroskopis :

-gram negatif

-batang pendek

-susunan berkelompok, satu-satu

-ukuran (1-3) (0,4-0,6) μm

-bergerak dengan flagel peritrikh

-tidak berspora

-tidak berkapsul

Morfologi makroskopis :

• Pada blood agar koloni terlihat swarming

• Pada Mc Conkey koloni tidak berwarna

• Patogenesis :

Bakteri masuk melalui makanan ke dalam usus, di usus terjadi proliferasi, terjadi kerusakan dinding usus, bakteri masuk ke peredaran darah, jika bakteri masuk sampai kantung kemih, terjadi sistitis

Penyakit-penyakit disebabkan Proteus :

1.Gastroenteritis akut

2.Pleuritis

3.Peritonitis

4.Pyelitis

5.Pyelonephritis

6.sistitis

7.Septikemia

8.Empyema

9.Abses supuratif

10.Infeksi pada mata dan telinga

5.    Providencia sp.

Providencia adalah Gram negatif , motil bakteri dari keluarga Enterobacteriaceae .

 

Providencia alcalifaciens

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:         Bakteri

Filum:             Proteobacteria

Kelas:             Gammaproteobacteria

Urutan:            Enterobacteriales

Keluarga:         Enterobacteriaceae

Genus:             Providencia

 

Spesies

 

P. stuartii

P. sneebia

P. rettgeri

P. rustigianii

P. heimbachae

P. burhodogranariea

P. alcalifaciens

Spesies Providencia ditemukan di waduk beberapa hewan, termasuk lalat, burung, kucing, anjing, sapi, domba, babi guinea, dan penguin, dan penduduk oral flora pada reptil seperti ular piton, ular berbisa, dan Boas. Providencia spesies juga ditemukan biasanya dalam tanah, air limbah, dan. Contoh infeksi Providencia pada hewan termasuk diare neonatal akibat infeksi stuartii P pada sapi perah dan enteritis yang disebabkan oleh infeksi alcalifaciens P pada anjing P rettgeri telah diisolasi di buaya dengan meningitis / septikemia dan pada ayam dengan enteritis..  P heimbachae telah telah diisolasi di penguin tinja dan janin sapi dibatalkan.

 

Pada manusia, spesies Providencia telah diisolasi dari air seni (paling umum), feses, dan darah, serta dari dahak, kulit, dan budaya luka. P stuartii septicaemia terutama asal kemih. Satu studi kasus menggambarkan P stuartii sebagai etiologi endokarditis infektif . Laporan lain kasus ini menemukan P rettgeri menjadi penyebab infeksi okular, termasuk keratitis , konjungtivitis , dan endophthalmitis.

 

 

  1. II.   TOPIKAL
  2. A.    KULIT

 

  1. 1.    Pseudomonas

Batang, non spora, gram (-)

Berflagella, kecuali P. mallei

Indol (-), MR (-), VP (-), Katalase (+), Oksidase (+), Urease (+), Hemolitik (-)

Pigmen:

Florescent: hijau kekuningan → oxidase → kuning

Tidak larut CCl4

Piosianin: hijau kebiruan → oxidase → coklat

Larut CCl4

Hanya di aeruginosa

 

PENYAKIT YANG DITIMBULKAN

Pseudomonas aeruginosa menimbulkan berbagai penyakit diantaranya yaitu :

- Infeksi pada luka dan luka bakar menimbulkan nanah hijau kebiruan

- Infeksi saluran kemih.

- Infeksi pada saluran napas mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis.

- Otitis eksterna ringan pada perenang

- Infeksi mata

  • • pseudomonad : anggota genus Pseudomonas
  • • yang terpenting : Pseudomonas aeruginosa
  • • sifat : membutuhkan nutrisi minimum
  • • pendapat lain : omnivora
  • • merupakan contoh bakteri patogen Ekstraseluler

 

Faktor Virulensi

  • • pili
  • • lipopolisakarida
  • • flagelum
  • • eksotoksin A
  • • eksoenzim S
  • • elastase
  • • protease alkalin
  • • fosfolipase C/hemolisin tidak-tahan panas
  • • fosfolipase tahan panas

 

 

Ciri-Ciri Lain

  • • berbentuk batang
  • • bersifat Gram negatif
  • • bersifat aerob obligat
  • • nonfermenter
  • • TSI : Alk/Alk Gas (−) H2S (−)
  • • uji biokimiawi : Oksidase (+), Ind (-), MR (−), VP (−), Cit (+), Mot (+), dan Ure (−)

 

 

  1. 2.    Chromobacterium violaceum

 

Chromobacterium violaceum adalah bakteri fakultatif anaerob, gram-negatif dan berbentuk batang serta berpigmen ungu. Bakteri ini umumnya ditemukan di daerah beriklim tropis dan subtropis, pada air dan tanah juga pada manusia dan hewan (bila terjadi infeksi). Bakteri ini merupakan satu-satunya spesies Chromobacterium yang bersifat patogen pada manusia.

Chromobacterium violaceum adalah Gram-negatif , fakultatif anaerob, non-sporing coccobacillus . Ini adalah bagian dari flora normal air dan tanah daerah tropis dan sub-tropis di dunia. Ini menghasilkan antibiotika alami yang disebut violacein, yang mungkin berguna untuk pengobatan usus dan kanker lainnya. Hal ini tumbuh dengan mudah pada agar nutrisi, menghasilkan koloni yang halus khas cembung rendah dengan logam ungu gelap kemilau (karena produksi violacein). Genom penuh diterbitkan pada tahun 2003. Ia memiliki kemampuan untuk memecah tarballs .

 

 

Darah piring agar-agar budaya C. violaceum. Gambar dari CDC .

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:         Bakteri

Filum: Proteobacteria

Kelas: Betaproteobacteria

Urutan:            Neisseriales

Keluarga:         Neisseriaceae

Genus:             Chromobacterium

Spesies:            C. violaceum

Nama binomial Chromobacterium violaceum

C. violaceum jarang menginfeksi manusia, tetapi ketika itu tidak menyebabkan lesi kulit, sepsis , dan abses hati yang mungkin berakibat fatal.Perawatan harus diambil karena Burkholderia pseudomallei sering salah mengartikannya sebagai C. violaceum oleh banyak metode identifikasi umum.  Keduanya mudah dibedakan karena B. pseudomallei menghasilkan koloni keriput besar, sedangkan C. violaceum menghasilkan pigmen ungu khas.

C. violaceum menghasilkan sejumlah antibiotik alami:

Aztreonam adalah antibiotik monobactam yang aktif terhadap gram negatif bakteri aerobik termasuk Pseudomonas aeruginosa . Hal ini dipasarkan sebagai Azactam.

  1. 3.      Burkholderia pseudomallei

 

 

Burkholderia pseudomallei (Malleomyces pseudomallei, Actinobacillus pseudomallei) adalah batang, Gram negatif, bakteri bergerak hadir di tanah dan air di daerah tropis. Bakteri ini menarik karena dianggap senjata biologis potensial terorisme biologis.

Rute penularan

binatang ternak (kambing, kuda, babi, domba), hewan pengerat liar, monyet. Manusia terinfeksi terhirup kontak langsung dengan tetesan atau terkontaminasi, makanan air atau tanah. Ada juga kasus penularan melalui hubungan seksual.

 

Patologis (medis) signifikansi

Melioidoza adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Gram-negatif Burkholderia pseudomallei, yang paling umum di daerah tropis. Masa inkubasi tidak tepat didefinisikan dan dapat berlangsung dari 2 hari dan sampai beberapa tahun.

Infeksi lokal akut: ditandai dengan nodulima (node) yang membentuk titik masuk untuk penyebab kulit sebelumnya rusak. Perubahan ini mungkin menyertai tempeartura tubuh tinggi, nyeri otot umum, dapat menyebar dengan cepat melalui darah ke seluruh tubuh.

 

Infeksi paru: dimulai dengan demam tinggi, sakit kepala, kelemahan otot dan anoreksia. Dia adalah nyeri dada dan batuk. Gambaran klinis dapat menyerupai banyak penyakit paru-paru dari bronchitis pneumonia parah.

 

Infeksi umum: terjadi pada pasien dengan sistem kekebalan yang lemah (HIV, penyakit ginjal, diabetes, dll.) Ditandai dengan gangguan pernapasan, sakit kepala parah, demam, diare, perubahan kulit bernanah, kelemahan otot, disorientasi dan sering menyebabkan sepsis.

 

Infeksi kronis: operasi sendi terutama, kelenjar getah bening, kulit, otak, hati, paru-paru, tulang dan limpa.

 

Diagnosis mikrobiologi

 

Bakteriologi-serologis diagnosis adalah pemeriksaan bahan dihapus dari pasien: darah, urin, sputum, lesi kulit. Kemudian, pemeriksaan mikroskopis dilakukan, kulturelnih, sifat fisiologis dan biokimia dan antigenik.

 

Pengobatan

 

Diperintah antibiotik, biasanya sefalosporin generasi III, penisilin, kloramfenikol, dan trimetoprim-sulfametoksazol.

 

  1. Rickettsia

Gambaran Umum

Rickettsia adalah genus bakteri gram-negatif. Rickettsia bersifat parasit intraselular obligat, dan dapat menyebabkan penyakit Rickettsia.

Metode perkembangan Rickettsia dalam embrio ayam ditemukan oleh Ernest William Goodpasture dan koleganya di Universitas Vanderbilt pada tahun 1930-an.                 Penyemprotan insektisida DDT ke tubuh prajurit untuk membunuharthropoda pembawa penyakit Rickettsia.

Penyakit Rickettsia atau tifus adalah berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri familia Rickettsiae.Penyakit ini disebarkan oleh arthropoda, khususnya kutu, tungau, dan caplak.Tiga jenis typhus utama adalah tifus epidemik, tifus endemik, dan tifus belukar.Jenis lain tifus yang juga sering ditemukan adalah penyakit Brill-Zinsser, yang merupakan tifus epidemik yang muncul kembali setelah bertahun-tahun sembuh.Tifus epidemik dan penyakit Brill-Zinsser disebabkan oleh bakteri Rickettsia prowazekii.Tifus epidemik disebarkan oleh kutu badan.Tifus endemik disebabkan oleh bakteri Rickettsia typhi, yang disebarkan oleh kutu.Tifus belukar disebabkan oleh bakteri Rickettsia tsutsugamushi (dahulu bernama Orientia tsutsugamushi), dan disebarkan oleh tungau dan caplak.Jenis tifus lainnya antara lain demam berbintik gunung Rocky, Rickettsialpox, demam Boutonneuse, tifus caplak Siberia, tifus caplak Australia, dan demam berbintik Oriental.

 

  • Filum:Proteobacteria
  • Kelas:Alpha Proteobacteria
  • Ordo:Rickettsiales
  • Famili:Rickettsiaceae

Genus:Rickettsia

 

 

 

  1. Borrelia burgdorferi

 

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Prokaryotae
Filum: Spirochaetes
Kelas: Spirochaetes
Order: Spirochaetales
Genus: Borrelia
Spesies: B. burgdorferi
Nama binomial
Borrelia burgdorferi

  • burgdorferi Borrelia dapat menyebar ke seluruh tubuh selama penyakit dan telah ditemukan di kulit, jantung, sendi, sistem saraf perifer, dan sistem saraf pusat

 

  1. 6.      Rickettsia prowazeki

 

Rickettsia rickettsia adalah prowazeki. Rickettsia adalah bakteri Gram-negatif yang berkembang biak hanya dalam hidup host rentan sel. Selama 0,3 hingga 0,5 mikron dan disimpan atau intranuklearno intrasitoplasma. Pleomorfizam rickettsia adalah salah satu karakteristik utama mereka. Mereka muncul sebagai kokobacili, diplobacili atau tongkat individu. Mudah untuk menonaktifkan pengeringan, pengaruh sinar ultraviolet dan berarti dezificijentnim.

 

 

 

Rute penularan

 

Reservoir hanya dalam alam dan manusia yang merupakan pasien tifus berbintik-bintik primer atau Brill-Zinsser penyakit adalah rikecionoša. Menular dari manusia ke manusia hanya melalui kutu tubuh manusia (Pediculus korporis humanis). Tubuh Anda menghabiskan seumur hidup dalam pakaian, makan pada kali darah beberapa kali sehari. Sišući Anda terinfeksi darah manusia. Terkontaminasi rikeciju menggigit Anda tidak mengirimkan, tetapi dalam tinja. Setiap kali gigitan untuk menghisap darah, dan juga defecira Anda. Sejak gigitan penyebab gatal, menggaruk dan pria itu mengusap ke dalam kulit dengan tinja rickettsia. Kurang rute umum penularan infeksi juga kutu kotoran melalui konjungtiva atau lapisan dari sistem pernapasan. Orang sakit, yang memiliki tinggi tempreraturu, Anda segera pergi dan mencari seorang pria dengan suhu normal.

 

Patologis (medis) signifikansi

 

Tifus (exanthematicus tifus) – Setelah inkubasi, yang berlangsung selama 10-14 hari mengarah pada munculnya gatal-gatal dan kondisi tifoznog parah. Penyakit ini dimulai tiba-tiba dengan menggigil, menggigil, sakit kepala mual, dan muntah. Ada rasa sakit di semua otot dan sendi, suhu mencapai 39-40 derajat, pasien terlihat wajah merah dan mata, kulit hangat, kering, merah, lidah kering, pecah-pecah. Berikutnya adalah kedua, tifozni tahap ditandai oleh negara-tifoznim mengoceh sakit,, terganggu mudah tersinggung, agresif, dengan episode depresi. Javalja ruam, yang kehilangan tekanan, dan ada wajah, tangan dan kaki, pembesaran hati dan limpa. Tahap ini berlangsung 12-14 hari, dan pemulihan setelah 20-30 hari.

 

Brill-Zinsser penyakit (tifus diperbarui) – terjadi pada orang yang memiliki tifus sudah preležali. Penyakit ini dimulai tiba-tiba dengan demam tinggi, nyeri otot dan nyeri sendi, sakit kepala parah dan insomnia. Semua gejala ini berlangsung selama 5-6 hari selama waktu itu otot-otot di daerah ruam tampaknya menyebar ke dada dan punggung, tetapi tidak ekstremitas bawah. Pasien tenang dan komunikatif seperti berkembang tifozni di atas panggung.

 

Diagnosis mikrobiologi

 

Rickettsia dapat diisolasi dari darah, potongan jaringan, cairan serebrospinal, dahak dan urin, tetapi isolasi tidak dilakukan di laboratorium diagnostik rutin karena prosedur rumit dan infektivitasnya tinggi agen ini, sehingga reaksi serologis mewakili metode pilihan (Weil-Welixova reaksi, fiksasi komplemen, reaksi aglutinasi tes, imunoflorescencije tidak langsung).

Pengobatan

Terapi kausal terdiri dalam aplikasi antibiotik, terutama tetrasiklin dan kloramfenikol. Selain biaya terapi simtomatis dan penerapan vitamin cair adalah aplikasi corticoid mungkin.

 

  1. 7.      Burkholderia pseudomallei

 

Burkholderia cepacia adalah batang gram negatif yang 1,6-3,2 m m panjang. Hal ini ditemukan pada tahun 1949 oleh Walter Burkholder di Cornell University di bawang membusuk. B. cepacia adalah aerob ketat dan chemoorganotroph dengan suhu optimum 30 hingga 35 derajat Celcius. Hal ini ditemukan dalam tanah, air dan pada tanaman dan dapat bertahan lebih lama di lingkungan yang basah kemudian di kering. Ini adalah unik dalam cara yang dapat fleksibel dalam penggunaannya, patogen tanaman, patogen manusia, agen bioremediasi, dan agen biokontrol.

 

Hal ini dapat digunakan sebagai agen biokontrol karena menghasilkan antibiotik terhadap beberapa jamur patogen pada tanaman. Ini bukan beracun fungisida, sehingga tidak mencemari air atau tanah. Burkholderia cepacia memiliki kemampuan untuk memetabolisme hampir apa saja yang tersedia untuk itu, bahkan hidrokarbon diklorinasi. Ini hidrokarbon biasanya ditemukan dalam pestisida komersial dan herbisida. Hal ini dimungkinkan untuk menambahkan bakteri ini untuk situs yang terkontaminasi oleh racun dan membersihkan lingkungan. Gulma-B-Gone, herbisida rumah tangga biasa, populer karena ia melakukan pekerjaan dan mudah terdegradasi oleh organisme di dalam tanah. B. cepacia adalah salah satu bakteri yang paling efektif menurunkan bahan kimia.

 

Saprofit ditemukan dalam tanah, air dan vegetasi dan lazim di Asia Tenggara, India, Afrika dan Australia

 

Diakui sebagai penyebab melioidosis selama Perang Vietnam ketika tanah melayang di udara dengan baling-baling helikopter itu dihirup oleh personil militer

 

Melioidosis terjadi sebagai:

i) Infeksi supuratif akut

ii) penyakit paru kronis atau

iii) lokal infeksi supuratif kulit dengan limfadenitis, malaise demam,

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     ORGAN REPRODUKSI

 

  1. 1.    Chlamydia trachomatis

 

 

Pendahuluan:

Chlamydia tergolong salah satu penyakit menular seksual (sexual transmitted diseases), seperti kencing nanah, sifilis, dan tentu HIV/AIDS. Bedanya dengan HIV, chlamydia masih bisa disembuhkan. Manusia adalah inang alami untuk C trachomatis.

Infeksi Chlamydia trachomatis pada banyak negara merupakan penyebab utama infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Laporan WHO tahun 1995 menunjukkan bahwa infeksi oleh C. trachomatis diperkirakan 89 juta orang. Di Indonesia sendiri sampai saat ini belum ada angka yang pasti mengenai infeksi C. trachomatis

Infeksi C. trachomatis sampai saat ini masih merupakan problematik karena keluhan ringan, kesukaran fasilitas diagnostik, mudah menjadi kronis dan residif, dan mungkin menyebabkan komplikasi yang serius seperti infertilitas dan kehamilan ektopik.

Selain menular pada kelamin, chlamydia tak jarang pula bisa ditularkan lewat liang dubur jika melakukan sodomi. Dapat pula melalui rongga mulut jika melakukan oral seks dengan pasangan seks yang positif chlamydia. Namun, bukan penyakitnya benar yang dirisaukan, melainkan komplikasi yang mungkin ditimbulkannya. Salah satu komplikasi yang mungkin timbul di kalangan orang modern menambah besar angka kemandulan pada pihak istri.

1. ASPEK BIOLOGI

a. Morfologi

 

Chlamydia merupakan bakteri obligat intraselular, hanya dapat berkembang biak di dalam sel eukariot hidup dengan membentuk semacam koloni atau mikrokoloni yang disebut Badan Inklusi (BI). Chlamydia membelah secara benary fision dalam badan intrasitoplasma.

C. trachomatis berbeda dari kebanyakkan bakteri karena berkembang mengikuti suatu siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu berupa Badan Inisial. Badan Elementer (BE) dan Badan Retikulat (BR) atau Badan Inisial. Badan elementer ukurannya lebih kecil (300 nm) terletak ekstraselular dan merupakan bentuk yang infeksius, sedangkan badan retikulat lebih besar (1 um), terletak intraselular dan tidak infeksius.

Morfologi inklusinya adalah bulat dan terdapat glikogen di dalamnya. C. trachomatis peka terhadap sulfonamida, memiliki plasmid, dan jumlah serovarnya adalah 15.

b. Klasifikasi

Klasifikasi Ilmiah dari Chlamydia trachomatis adalah sebagai berikut:

Ordo : Chlamydiales

Famili : Chlamydiaceae

Genus : Chlamydia

Spesies : Chlamydia trachomatis

c. Siklus Hidup

Secara singkat, perkembangan C.trachomatis adalah sebagai berikut:

 

2. PENYAKI T YANG DITIMBULKAN

 

• Penyebab penyakit

 

Chlamydia trachomatis, imunotipe D sampai dengan K, ditemukan pada 35 – 50 % dari kasus uretritis non gonokokus di AS.

• Jenis Penyakit, Penyebaran dan Penularan

 

Infeksi pada Pria

- Uretritis

Infeksi di uretra merupakan manifestasi primer infeksi chlamydia. Masa inkubasi untuk uretritis yang disebabkan oleh C. trachomatis bervariasi dari sekitar 1 – 3 minggu. Pasien dengan chlamydia, uretritis mengeluh adanya duh tubuh yang jernih dan nyeri pada waktu buang air kecil (dysuria). Infeksi uretra oleh karena chlamydia ini dapat juga terjadi asimtomatik.

Diagnosis uretritis pada pria dapat ditegakkan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram atau biru methylene dari sedian apus uretra. Bila jumlah lekosit PMN melebihi 5 pada pembesaran 1000 x merupakan indikasi uretritis. Perlu diketahui bahwa sampai 25% pria yang menderita gonore, diserta infeksi chlamydia. Bila uretritis karena chlamydia tidak diobati sempurna, infeksi dapat menjalar ke uretra posterio dan menyebabkan epididimitis dan mungkin prostatitis.

- Proktitis

C. trachomatis dapat menyebabkan proktitis terutama pada pria homoseks. Keluhan penderita ringan dimana dapat ditemukan cairan mukus dari rektum dan tanda-tanda iritasi, berupa nyeri pada rektum dan perdarahan.

- Epididimitis

Sering kali disebabkan oleh C. trachomatis, yang dapat diisolasi dari uretra atau dari aspirasi epididimis. Dari hasil penelitian terakhir mengatakan bahwa C. trachomatis

merupakan penyebab utama epididimitis pada pria kurang dari 35 tahun (sekitar 70 -90%).

Secara klinis, chlamydial epididimitis dijumpai berupa nyeri dan pembengkakan

scrotum yang unilateral dan biasanya berhubungan dengan chlamydial uretritis, walaupun uretritisnya asimptomatik.

- Prostatitis

Setengah dari pria dengan prostatitis, sebelumnya dimulai dengan gonore atau uretritis non gonore. Infeksi C. trachomatis pada prostat dan epididimis pada umumnya merupakan penyebab infertilitas pada pria.

- Sindroma Reiter

Suatu sindroma yang terdiri dari tiga gejala yaitu: artritis, uretritis dan konjungtivitis, yang dikaitkan dengan infeksi genital oleh C. trachomatis. Hal ini disokong dengan ditemukannya “Badan Elementer” dari C. trachomatis pada sendi penderita dengan menggunakan teknik Direct Immunofluerescence.

Infeksi pada Wanita

Sekitar setengah dari wanita dengan infeksi C. trachomatis di daerah genital ditandai dengan bertambahnya duh tubuh vagina dan atau nyeri pada waktu buang air kecil, sedangkan yang lainnya tidak ada keluhan yang jelas. Pada penyelidikan pada wanita usia reproduktif yang datang ke klinik dengan gejala-gejala infeksi traktus urinarius 10 % ditemukan carier C. trachomatis.

Faktor resiko infeksi C. trachomatis pada wanita adalah :

- Usia muda, kurang dari 25 tahun

- Mitra seksual dengan uretritis

- Multi mitra seksual

- Swab endoserviks yang menimbulkan perdarahan

- Adanya sekret endoserviks yang mukopurulen

- Memakai kontrasepsi “non barier” atau tanpa kontrasepsi.

- Servisitis

Chlamydia trachomatis menyerang epitel silindris mukosa serviks. Tidak ada gejala-gejala yang khas membedakan servisitis karena C. trachomatis dan servisitis karena organisme lain. Pada pemeriksaan dijumpai duh tubuh yang mukopurulen dan serviks yang ektopi.

Pada penelitian yang menghubungkan servisitis dengan ektopi serviks, prevalerisi servisitis yang disebabkan C. trachomatis lebih banyak ditemukan pada penderita yang menunjukkan ektopi serviks dibandingkan yang tidak ektopi. Penggunaan kontrasepsi oral dapat menambah resiko infeksi Chlamydia trachomatis pada serviks, oleh karena kontrasepsi oral dapat menyebabkan ektopi serviks.

- Endometritis

Servisitis oleh karena infeksi C. trachomatis dapat meluas ke endometrium sehingga terjadi endometritis. Tanda dari endometritis antara lain menorrhagia dan nyeri panggul yang ringan. Pada pemeriksaan laboratorium, chlamydia dapat ditemukan pada aspirat endometrium.

- Salfingitis (PID)

 

Salfingitis terjadi oleh karena penjalaran infeksi secara ascenden sehingga infeksi sampai ke tuba dan menyebabkan kerusakan pada tuba (terjadi tuba scarring). Hal ini dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik. Wanita dengan PID, lebih separuh disebabkan oleh chlamydia, umumnya mengeluh rasa tidak enak terus di perut bawah. Itu lantaran infeksi menyebar ke rahim, saluran telur, indung telur, bahkan sampai ke leher rahim juga.

- Perihepatitis (Fitz – Hugh – Curtis Syndrome)

Infeksi C. trachomatis dapat meluas dari serviks melalui endometrium ke tuba dan kemudian parakolikal menuju ke diafragma kanan. Beberapa dari penyebaran ini menyerang permukaan anterior liver dan peritoneum yang berdekan sehingga menimbulkan perihepatitis. Parenchym hati tidak diserang sehingga tes fungsi hati biasanya normal.

Bila tidak diobati, kendati tidak menimbulkan keluhan berarti, penyakit bisa menjalar ke mana-mana bagian organ reproduksi baik pria maupun wanita.. Pengidap chlamydia juga lebih rentan untuk terserang HIV/AIDS dibanding yang tidak mengidapnya. Diperkirakan yang positif chlamydia 3 sampai 5 kali lebih berisiko terserang HIV/AIDS.

Selain itu chlamydia juga lebih gampang berjangkit pada mereka yang sudah memiliki penyakit menular seksual lain sebelumnya, dan berisiko tinggi pula pada mereka yang pasangan seksnya sudah positif mengidap salah satu penyakit STD.

Bayi baru lahir berisiko tertular chlamydia pada matanya jika tidak dicegah dengan salep mata begitu dilahirkan. Kuman chlamydia bisa juga menyerang selaput lendir bolamata yang dikenal sebagai penyakit trachoma. Bila dibiarkan tanpa pengobatan, trachoma bisa berakhir dengan kebutaan. Pada bayi, kuman chlamydia bisa menyerang paru-paru dan menimbulkan radang paru-paru (pneumonia).

 

 

  1. 2.    Haemophilus ducreyi

 

 

 

Haemophilus ducreyi merupakan sejenis bakteri yang berbentuk batang

kecil, tidak bergerak, termasuk golongan bakteri gram negative, dan bersifat parasit pada media yang mengandung darah. Haemophilus ducreyi merupakan bakteri penyebab penyakit “Chancroid” (soft chancre). Bakteri Haemophilus ducreyi ini disebut juga “Bacilus Ducrey”. Haemophilus ducreyi ini merupakan bakteri fakultatif anaerob, yang kadang-kadang memiliki kapsul tetapi juga terkadang tidak memiliki kapsul. Suhu optimum untuk tumbuhnya adalah 37ºC, untuk tumbuhnya memerlukan hemin (X faktor) atau nikotinamida-adenin

difosfat (V faktor) atau kedua-duanya. Haemophilus ini menyusun dirinya berupa

rantai pendek maupun panjang atau berpasangan secara parallel. Sifat bakteri ini

hampir sama dengan Haemophilus influenza hanya ukurannya agak lebih besar.

ASPEK BIOLOGI

Siklus Hidup

Bakteri Haemophilus Ducreyi ini pertama kali ditemukan oleh Ducrey pada tahun 1889. Bakteri ini sangat kecil dan nonmotil (tidak bergerak). Inang dari bakteri ini secara alami ada di tubuh manusia bagian luar sel. Bakteri ini merupakan organisme yang tidak pernah puas untuk mengharuskan tumbuh dengan kondisi yang keras agar sukses tumbuh “in vitro”. Tempat infeksi yang umum pada pria adalah sulkus koronanius, meatus atau glans penis, sedangkan pada wanita adalah vulva, labia, uretra, paha, vagina atau serviks. Siklus hidup dari bakteri ini belum  teridentifikasi secara lengkap, sehingga para ilmuwan masih meneliti siklus hidup dari bakteri ini.

Morfologi

Secara morfologi bakteri ini menyusun dirinya berupa rantai pendekmaupun panjang atau berpasangan secara parallel. Bakterinya juga berukuran agak besar. Kadang-kadang bakteri ini memiliki kapsul, tetapi terkadang juga bakteri ini tidak memiliki kapsul.

Sistem klasifikasi :

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Pasteurellales

Family : Pasteurellaceae

Genus : Haemophilus

Species : H. ducreyi

Binominal name : Haemophilus ducreyi

PENYAKIT YANG DITIMBULKAN

Pada manusia, bakteri Haemophilus ini menimbulkan penyakit Chancroid

(penyakit kelamin). Sampai saat ini penyakitnya masih timbul hanya di daerah tropika. Namun penyakit ini di Amerika Serikat jumlahnya makin bertambah.

Satu sampai lima hari setelah tereksposi timbul borok yang sakit pada situs atau bagian yang terkontak.

Cara bakteri menginfeksi penyakit

Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang lecet dan menimbulkan terjadinya ulcus pada alat kelamin yang pinggirnya tidak rata dan terasa sakit bila dipijit dan biasanya terdapat beberapa ulcus.

 

 

  1. 3.    Klebsiella granulomatis

Bakteri Calymmatobacterium granulomatis memang jarang terdengar namanya dalam dunia mikrobiologi. Namun, bakteri ini juga perlu mendapatkan “perhatian” khusus karena dapat meyebabkan penyakit di organ reproduksi kita ketika bakteri ini “singgah” di daerah kelamin kita. Bakteri ini menyebabkan penyakit Granuloma inguinale atau  Granuloma venereum atau lebih dikenal dengan nama penyakit Donovanosis.

 

History (Sejarah)

Granuloma inguinale atau  Granuloma venereum atau Donovanosis pertama kali dijelaskan oleh McLeod dari India pada tahun 1882. Namun, penyakit ini ’disahkan’ dan lebih dikenal masyarakat umum ketika dijelaskan oleh Donovan pada tahun 1905. Bahkan pada saat itu, bakteri ini menyerang dan menginfeksi tubuh Donovan.

Nama Calymmatobacterium granulomatis merupakan nama original (asli) dari Aragao dan Vianna pada tahun 1913. Kemudian pada tahun 1945 Anderson, de Monbreun, dan Goodpasture melakukan isolasi bakteri ini dengan cara menanamnya dalam embrio anak ayam pada kuning telur. Kemudian mereka menamai bakteri ini Donovania granulomatis.

Namun, nama bakteri yang dipakai adalah nama yang lebih awal muncul. Sehingga nama Calymmatobacterium granulomatis mendapat prioritas dan digunakan sampai saat ini.

Klasifikasi

Calymmatobacterium granulomatis oleh bangsa Yunani disebut  Klebsiella granulomatis, di mana berasal dari kata kalymma yang artinya ’tudung’ atau ’peci’ yang menunjukan pada bentuk luka yang disebabkan oleh bakteri ini. Nama granulomatis didapat dari bentuk luka yang ditimbukan oleh bakteri ini mirip granul (butir-butir).

Sekarang ini bakteri in berada di dalam genus Klebsiella, di mana membawa perubahan yang drastis dalam taksonominya. Hal ini dikarenakan pada determinasi bakteri menggunakan metode kolorimetri Calymmatobacterium granulomatis menunjukan 99% kemiripan dengan organisme lain yang berada pada genus Klebsiella.

Taksonomi dari Calymmatobacterium granulomatis

Kingdom         =  Bacteria
Phylum            =  Proteobacteria
Class                =  Gamma Proteobacteria
Order               =  Enterobacteriales
Family             = Enterobacteriaceae
Genus              = Calymmatobacterium atau Klebsiella
Species            = Granulomatis

 

Morfologi

Calymmatobacterium granulomatis merupakan bakteri berbentuk batang (kapsul). Memiliki panjang sekitar 1-1.5  mikrometer dan memiliki lebar sekitar 0.1 mikrometer. Calymmatobacterium granulomatis merupakan bakteri non-motil (diam) dan termasuk jenis bakteri gram negative, dimana dinding sel dan membrannya memiliki lapisan luar, berupa lipopolisakarida yang terdiri atas lapisan peptidoglikan yang tipis terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasmik).

 

 

 

Donovanosis

Donovanosis disebut juga Granuloma inguinale atau  Granuloma venereum, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Calymmatobacterium granulomatis. Donovanosis sering tidak terdeteksi pada saat melakukan tes kesehatan. Penyakit ini biasanya ditemui pada daerah yang tropis dan subtropis. Donovanosis memiliki karakteristik yaitu luka yang perih pada daerah genital.

Pria memiliki kemungkinan lebih besar terjangkit penyakit ini di bandingkan dengan wanita, di mana kebanyakan orang tersebut berumur sekitar 20 – 40 tahun.  Penyakit Donovanosis jarang ditemukan pada anak-anak atau yang seumuran (sekitar 5-10tahun).

Penularan penyakit ini kebanyakan dikarenakan melakukan anal intercourse (berhubungan intim melalui anus). Sehingga 50% wanita atau pria yang terkena infeksi bakteri ini mengalami luka yang perih pada daerah anus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      Veillonella spp

 

 

 

Veillonella spp. adalah Gram-negatif anaerob coccus dan merupakan bagian dari flora normal dari saluran, mulut pencernaan dan vagina manusia.

 

Media selektif untuk Veillonella, Schaedler agar untuk bakteri anaerob dengan vitamin K, thioglycollate agar jantung, otak agar infus, agar Brucella, agar trypticase kedelai, dan agar-agar Columbia, semua Mereka dengan dan Tanpa Penambahan vankomisin, dan darah laked Apakah Digunakan untuk penelitian ini. Sampel diuji air liur WS kolam renang. Kedua koloni Veillonella,, dan jumlah total mikroorganisme dihitung, dan Dinyatakan sebagai CFU / ml air liur. Pemulihan terbesar dalam air liur, WS Veillonella Diperoleh Dengan media selektif untuk Veillonella dan darah laked dengan vankomisin. Produksi fluoresensi Diamati Apakah Hanya Dalam media ini.

Kata kunci: Veillonella. Air liur. Pemulihan. Fluoresensi.

 

Veillonella adalah Gram-negatif dan merupakan fraksi besar dari populasi bakteri total permukaan epitel rongga mulut manusia dan anaerob lebih banyak dalam air liur

Dalam mulut edentulous, hidup bahasa dan mukosa oral di mulut dan gigi juga pada plak . Kolonisasi Veillonella lisan spp. dianggap sebagai indikator kesehatan mulut, kemampuan mereka untuk menetralkan keasaman lokal di plak seperti yang ditunjukkan dalam model hewan percobaan. Veillonella ini adalah ditandai dengan metabolisme yang tidak biasa mereka. Mereka umumnya tidak mampu fermentasi karbohidrat, tetapi tumbuh baik pada laktat anaerob, piruvat, malat atau fumarat. Mengurangi beban acidogenic plak gigi dicapai dengan mengubah metabolisme intermediet dan produk akhir dari bakteri lain seperti asam laktat dan piruvat, asam organik lemah. Ini ditemukan di rongga mulut orang dewasa dan anak-anak bebas karies, proporsi sangat tinggi dari Veillonella . Organisme ini jarang menyebabkan infeksi lokal atau meluas, tetapi ketika ditemukan, hampir selalu pada infeksi polymicrobial terkait dengan kondisi melemahkan dan .

Spesies Veillonella di antara yang pertama menjajah rongga mulut dan Bakteri anaerob yang sering dijumpai pada alat genitalia. Persyaratan untuk lampiran awal kolonisasi mikroba bakteri pada permukaan oral. Veillonella kolonisasi Primer spp. adalah independen dari kehadiran gigi meletus. Kepatuhan Veillonella spp. untuk menjadi tuan rumah jaringan dan dilapisi hidroksiapatit dengan air liur miskin, tapi interbacterianas coagregaciones berpartisipasi dalam mode yang diatur melalui ikatan sekunder bakteri lain yang mampu adhesi primer. Karena interaksi menguntungkan yang terlibat dalam kaskade kolonisasi oral dan pemeliharaan homeostasis, seseorang harus mengetahui peran khusus mereka dan dampak.

 

Untuk isolasi mikroorganisme ini telah dilaporkan dalam media kultur yang berbeda selektif dan nonselektif. Di antara yang pertama adalah yang dibuat oleh natrium laktat Morrison mengandung Rogosa sebagai sumber karbon. Di antara nonselektif berhasil digunakan untuk menentukan jumlah bakteri menyoroti flora, agar Brucella, agar trypticase kedelai dan otak jantung agar infus (BHI agar-agar)

Selama pemutaran rutin isolat klinis anaerob, Chow et al. mengamati bahwa koloni Veillonella spp. teratur menghasilkan fluoresensi merah terlihat pada agar BHI saat terkena UV gelombang cahaya yang panjang (366 nm), sebuah fenomena terbalik oleh paparan oksigen atmosfer. Properti ini dapat berguna untuk identifikasi cepat dari dugaan organisme . Penambahan darah laked, meningkatkan deteksi fluoresensi

 

 

  1. 5.    Fusobacterium (necrophorwn)

 

Fusobacterium adalah genus berserabut, anaerob , Gram-negatif bakteri, mirip dengan Bacteroides . [1] Fusobacterium berkontribusi terhadap penyakit manusia, termasuk penyakit periodontal , sindrom Lemierre itu , dan topikal ulkus kulit alat genital . Meskipun sumber daya yang lebih tua telah menyatakan bahwa Fusobacterium adalah kejadian umum di manusia orofaring , konsensus saat ini adalah bahwa Fusobacterium harus selalu diperlakukan sebagai patogen.

 

 

Struktur Genom

 

Dua genom telah saat ini telah diurutkan: Fusboacterium nucleatum subsp. nucleatum ATCC 25586 dan Fusobacterium nucleatum subsp. vincentii ATCC 49256. Kedua urutan genom yang oleh Genomics Integreated . Sebuah kekayaan pengetahuan telah ditemukan oleh dua sequencings pertama perintis.

Struktur sel dan Metabolisme

 

Ini berbentuk gelendong atau fusiform bakteri berbentuk batang bervariasi dalam ukuran, bentuk motilitas, dan sel-sel Fusobacterium telah diidentifikasi baik sebagai motil dan non-motile.When berbentuk batang, sel Fusobacterium memiliki dinding sejajar ujung membulat atau meruncing wuth (Terpadu). Fusobacterium sel. mendapatkan energi melalui fermentasi karbohidrat dan asam amino tertentu. Fermentasi ini menciptakan butirat dan dalam beberapa kasus asam asetat sebagai metabolisme utama oleh-produk (oral).

Ekologi

Fusobacterium nucleatum Gambar Courtesy of. BCM.

 

Fusobacterium mendiami selaput lendir manusia dan hewan, melayani sebagai patogen untuk keduanya. Karena sifat patogen dan parasit, Fusobacterium tidak mempengaruhi lingkungan secara langsung, tetapi dapat mengubah ekosistem dengan efek pada populasi hewan inang terinfeksi

 

 

 

  1. III.         SISTEMIK
    1. A.    PENCERNAAN

 

 

1. Proteus vulgaris

 

TERMASUK FAMILI : Enterobacteriaceae

 

 

Kuman yang termasuk genus Proteus berbentuk batang, pleomorph, bergerak aktif dengan flagella peritrika dan Gram (-). Tumbuh aerob.

Terdapat di alam bebas seperti air, tanah, sampah dan tinja (Proteus vulgaris).

Proteus morgani dan Proteus rettgeri dapat menyebabkan infeksi nosocomial (hospital-acquired) dan Proteus morgani menyebabkan diarrhea pada anak-anak terutama dimusim panas.

 

B. SIFAT BIAKAN

 

Tumbuh di bouillon keruh merata dan di bagian atasnya terdapat langit-langit, dan pada media padat tumbuhnya cenderung menyebar ke seluruh permukaan media dan disebut SWARMING. Penyeberan pertumbuhan kuman Proteus ini dapat dihambat dengan jalan menambahkan feniletil alcohol atau 0.1 persen chloral hidrat ke media.

Kuman Proteus tidak tumbuh baik pada media dalam suasana asam.

 

C. SIFAT BIOKIMIA

 

Memecah urea dengan cepat, mencairkan gelatin, glukosa dan sukrosa dipecah menjadi asam dan gas, mannit dan laktosa tidak dipecah.

 

D. STRUKTUR ANTIGEN

 

Menurut Ewing terdapat 3 macam antigen :

- Antigen-O

- Antigen-H

- Antigen-K (hanya terdapat pada Proteus morgani).

 

Pada strain-strain tertentu, terdapat polisakarida spesifik yang identik dengan Richettsia sehingga dapat mengadakan reaksi silang agglutinasi dengan Richettsia.

Kuman-kuman Proteus yang dapat beragglutinasi dengan Richettsia, ialah :

Proteus OX19 : dengan serum Spotted fever

Proteus OX2 : dengan serum Shop fever.

Proteus OX1 : dengan serum Scrub fever.

Reaksi silang agglutinasi ini disebut Reaksi VILL-FLIX, dan yang dipergunakan sebagai antigen adalah strain-strain tertentu dari Proteus.

 

E. PENYAKITNYA

Proteus morgani menyebabkan gastroenteritis terutama pada anak-anak dengan gejala-gejala yang hebat.

 

2.  E. Coli
Etiologi; Kuman E. coli merupakan kuman yang selalu dapat diisolasi dari saluran pencernaan makanan.

Karakteristik

Bakteri Escheria Coli merupakan kuman dari kelompok gram negatif, berbentuk batang dari pendek sampai kokus, saling terlepas antara satu dengan yang lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua-dua (diplobasil) dan ada juga yang bergandeng seperti rantai pendek, tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter ± 1,1 – 1,5 x 2,0 – 6,0 µm, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasikan laktosa menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 sampai 51 mol % (Pelczar dan Chan, 1988:949) .
Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas (Pelczar dan Chan, 2005:169). Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 80C-460C, tetapi suhu optimumnya adalah 370C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya (Dwidjoseputro, 1978:82).
Taksonomi Escherichia coli sebagai berikut (Dwidjoseputro, 1978:105):
Divisi      : Protophyta
Kelas      : Schizomycetes
Ordo      : Eubacteriales
Famili      : Enterobacteriaceae
Genus      : Escherichia
Spesies   : Escherichia coli
Pelczar dan Chan (1988:809-810) mengatakan Escherichia coli merupakan bagian dari mikrobiota normal saluran pencernaan. Escherichia coli dipindahsebarkan dengan kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat makanan atau minuman. Morfologi dan ciri-ciri pembeda Escherichia coli yaitu: (1) merupakan batang gram negatif, (2) terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek, (3) biasanya tidak berkapsul, (4) tidak berspora, (5) motil atau tidak motil, peritrikus, (6) aerobik, anaerobik fakultatif, (7) penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi.
Escherichia coli dalam usus besar bersifat patogen apabila melebihi dari jumlah normalnya. Galur-galur tertentu mampu menyebabkan peradangan selaput perut dan usus (gastroenteritis) (Pelczar dan Chan, 1988:809-810). Bakteri ini menjadi patogen yang berbahaya bila hidup di luar usus seperti pada saluran kemih, yang dapat mengakibatkan peradangan selaput lendir (sistitis) (Pelczar dan Chan, 1988:545).
Escherichia coli dapat dipindahsebarkan melalui air yang tercemar tinja atau air seni orang yang menderita infeksi pencernaan, sehingga dapat menular pada orang lain. Infeksi yang timbul pada pencernaan akibat dari serangan bakteri Escherichia coli pada dinding usus menimbulkan gerakan larutan dalam jumlah besar dan merusak kesetimbangan elektrolit dalam membran mucus. Hal ini dapat menyebabkan penyerapan air pada dinding usus berkurang dan terjadi diare .(Pelczar dan Chan, 1988:810).

 

3.  Brucella abortus

Brucella abortus masuk dalam genus Brucella. Brucella adalah parasit obligat pada hewan dan manusia. Ciri khas bakteri ini adalah bakteri ini terletak intraseluler. Brucella Abortus khususnya menginfeksi sapi. Brucella abortus merupakan bakteri gram negatif yang sering hidup di daerah peternakan.

Brucella abortus memiliki ciri-ciri: Bakteri gram-negatif, aerob, tidak membentukspora, berbentuk batang pendek, oval dan nonmotil yang tumbuh secara optimal pada suhu37oC dan labil terhadap panas. Nilai pH optimal untuk pertumbuhan: 6,6—7,4.

 

 

Gambar Brucella Abortus

 

Klasifikasi

Kingdom         :Bacteria

Filum               :Proteobacteria

Class                :Alphaproteobacteria

Ordo                :Rhizobiales

Famili              :Brucellaceae

Genus              :Brucella

spesies             :Brucella Abortus

 

Morfologi dan identifikasi

Bentuk pada biakan muda berkisar dari kokus sampai batang dengan panjang 1,2 μm. Yang terbanyak adalah bentuk kokobasil pendek. Bakteri ini merupakan gram negatif tertapi sering berwarna tidak teratur, bersifat aerob, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora.

Brucella teradaptasi pada kehidupan intraseluler, dan kebutuhan nutrisinya kompleks. Beberapa strain dapat ditanam  pada perbenihan yang terdiri atas asam amino, vitamin, garam, dan glukosa. Brucella menggunakan karbohidrat tetapi tidak menghasilkan asam atau gas dalam jumlah yang cukup untuk klasifikasi. Katalase dan oksidase di hasilkan oleh empat spesies yang menginfeksi manusia . brucella secara moderat bersifat peka terhadap panas dan keasaman . dalam susu, bakterri ini dimatikan dengan pasteurisasi.

 

Sumber Brucella abortus: sapi. Penyakit berjangkit terutama karena hubungan yang yang erat dengan hewan yang terinfeksi. terlibat dalam KLB Oleh karena itu, bruselosis merupakan penyakit okupasional yang menyerang petani, peternak, dokter hewan dan pekerja pada rumah penjagalan. Bruselosis juga dapat ditularkan melalui konsumsi susu (biasanya susu kambing atau domba) dan produk yang dibuat dari susu yang tidak dipasteurisasi, misalnya keju yang dibuat dari susu segar domba.

 

Differensiasi

 

Kebutuhan CO2 pada isolasi primer Br. Abortus, Br. Ovis → 5% CO2 → inkubator anaerobik

 

Sifat biokimiawi

 

H2S = Br. Abortus, suis, neotome

Oxidase (+) = abortus, canis, suis, melitensis,

Reduksi nitrat = abortus, suis, canis, melitensis, neotome

Media yang digunakan

1. Brucella agar plat

Untuk pertumbuhan brucella → melihat morfologi

2. Brucella agar miring

Fungsi: mengetahui produksi H2S dari Brucella

Indikator → Pb acetat

(+) → hitam

(-) → putih

Reaksi:

Pb acetat + H2S → PbS + acetat

PbS → menghitamkan kertas

3. Basic Fuchsin Agar

1 : 50.000

1 : 100.000

Thionin agar

1 : 25.000

1 : 50.000

1 : 100.000

Crystal violet agar

1 : 50.000

1 : 100.000

Fungsi: mengetahui kemampuan pertumbuhan Brucella pada media dengan inhibitor zat warna

Prinsip

Umumnya gram (+) lebih peka dibanding bakteri gram (-) terhadap zat warna. Zat warna bagi gram (+) bisa dianggap sebagai desinfektan dan bersifat toksin.

4. Urea agar

Urease (+) / (-)

5. Peptone

6. Citrat (jernih seperti air)

Fungsi:

Differensiasi species berdasarkan kemampuan menggunakan citrat sebagai sumber carbon

Interpretasi hasil:

 

(+) → tumbuh ada kekeruhan

 

(-) → tidak tumbuh, tetapi jernih

 

7. Motility agar

 

Untuk mengetahui motilitas bakteri

 

(+) → motil

 

(-)→ non motil

8. Pengecatan gram

 

 

  1. 4.    Enterobacter sakazakii

 

Bakteri sakazakii adalah termasuk jenis bakteri gram negatif yang bersifat anaerob fakultatif. Memiliki ciri-ciri berbentuk koliform (kokoid), berpigmen kuning dan tidak membentuk spora. Secara taksonomi sampai tahun 1980 bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae, genus Enterobacter dan punya nama spesies Enterobacter cloacae.  Berikut penjelasan deret taksonominya:

Kingdom: Bacteria

Phylum: Proteobacteria

Class: Gamma proteobacteria

Ordo: Enterobacteriales

Famili:: Enterobactericeae

Genus: Enterobacter

Spesies: Enterobacter sakazakii/ Enterobacter cloacae

 

 

Reklasifikasi ini dilakukan berdasarkan studi DNA hibridisasi yang menunjukkan kemiripan 41% dengan Citrobacter freundii dan 51% dengan Enterobacter cloacae. Kemudian nama bakteri tersebut lebih dikenal dengan nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii.

Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia, sehingga disinyalir bahwa tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi. Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan industri makanan (pabrik susu, coklat, kentang, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk

 

 

5. Vibrio cholerae

 

Vibrio cholerae termasuk vibrionaceae, merupakan bakteri batang pendek gramnegatif,

(berdiameter 0,5 (m dengan panjang 0,5-3,0(m) yang terlihat berbentuk koma

pada awal isolasi. Pada kenyataannya, Koch merupakan orang yang pertamakali

menamakan isolat bakteri ini yaitu Komabacillus. Setelah beberapa kali dipindahkan,

isolat menjadi bentuk batang lurus. Motilitas disebabkan flagela tunggal polar,

berselaput, dan tebal.

 

Bakteri gram-negatif, anaerob fakultatif, motil,berbentuk batang yang tidak membentuk spora, dan dapat tumbuh pada suhu 18—42oC dengan pertumbuhannya yang paling optimal pada suhu 37oC. Pertumbuhan V. cholerae akan menurun pada aw 0,97 dan pH di luar kisaran 6—11; pH optimal untuk pertumbuhan organisme ini adalah 7,6. Pertumbuhannya distimulasi oleh kadar salinitas sekitar 3% namun akan dicegah jika kadar salinitas mencapai 6%. Organisme ini resisten terhadap pembekuan dingin tetapi sensitif terhadap panas serta asam, dan dapat hidup selama beberapa hari pada sayuran serta buah. V. cholerae bersifat non-invasif dan gejala diare diperantarai oleh toksin kolera yang terbentuk di dalam usus.

Uji biokimia pendahuluan

Uji Oksidase

Goreskan 1 ose dari T1N1 agar atau TSA + NaCl 1,5 % atau medium lain yang tidak memfermentasikan karbohidrat kedalam cawan petri yang berisi TSA agar. Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 18 jam – 24 jam. Teteskan 2 – 3 tetes pereaksi oksidase pada koloni bakteri dan amati reaksinya. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru tua pada koloni. Uji oksidase dapat dilakukan dengan menggunakan kertas oksidase dengan cara menggoreskan koloni dari T1N1 agar atau TSA + NaCl 1,5 % keatas permukaan  kertas oksidase menggunakan tusuk gigi (jangan menggunakan ose yang terbuat dari nikel atau krom). Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru tua secara cepat.

 

Uji sensitifitas terhadap 0/129 vibriostat

Goreskan 1 ose dengan cepat dari T1N1 agar atau TSA + NaCl 1,5 % kedalam cawan Petri yang berisi TSA dengan rapat. Letakkan disk 0/129 10 µg dan 150 µg pada goresan yang paling rapat dan inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 18 jam – 24 jam. Amati pertumbuhan disekitar disk . Reaksi sensitif ditunjukkan dengan terbentuknya zona disekitar disk (S), sedangkan reaksi resisten ditandai dengan adanya pertumbuhan disekeliling disk (R). Vibrio cholerae sensitive terhadap       0/129 µg dan 150 µg.

Triple Sugar Iron (TSI) Agar dan Kligger Iron Agar (KIA)

Inokulasikan koloni dari T1N1 agar atau TSA + NaCl 1,5 % dengan cara menggoreskan agar miring dan menusuk agar tegak media TSI agar dan KIA. Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 18 jam – 24 jam. Vibrio cholerae menghasilkan asam (warna kuning) pada agar miring, asam (warna kuning) pada agar tegak dan tidak mengasilkan gas serta H2S. Reaksi Vibrio spp dalam beberapa media agar miring yang berbeda dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Reaksi Vibrio spp dalam beberapa media agar yang berbeda

Bakteri KIA TSI
Agar Miring Agar Tegak Agar Miring Agar Tegak
v. cholerae K A A (K jarang) A
v. mimicus K A K (A jarang) A
v. parahaemolyticus K A K A
v. alginolytus K A A A
v. vulnificus K atau A A K (A jarang) A
a.hidrophilla K atau A A K atau A A
p.shigoleides K atau A A K atau A A

Uji ONPG

Untuk uji ONPG gunakan kultur dari TSI atau media lain yang mengandung lactose. Inokulasikan 1 ose kultur dari TSI kedalam tabung yang berisi 0,5 ml larutan psysiological saline. Masukkan disk ONPG lalu inkubasikan pada suhu  36 oC ± 1 oC selama 20 menit  sampai dengan 1 jam. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna kuning pada media dalam tabung.

 

Uji Oksidatif – fermentatif ( OF )

Inokulasikan 2 tabung kedalam media OF yang telah ditambahkan glukosa 1 % dengan kultur dari T1N1 agar atau TSA + NaCl 1,5 % tambahkan mineral oil steril setinggi 1 cm – 2 cm kedalam salah satu tabung. Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 1 hari – 2 hari. Reaksi oksidatif ditunjukkan dengan terbentuknya warna kunimg (reaksi asam) pada tabung yang tidak ditambahkan dengan mineral oil, sedangkan reaksi fermentative ditunjukkan dengan terbentuknya warna kuning pada tabung yang ditambahkan mineral oil. Asam mengubah media dari warna hijau menjadi kuning.

Pewarnaan gram

Lanjutan pengujian apabila pada uji biokimia pendahuluan diatas ditemukan reaksi Vibrio cholerae . Kultur diambil  agar miring atau TSA miring + NaCl 1,5 % yang telah diinkubasi selama 24 jam. Bakteri Vibrio cholerae termasuk gram – negatif, berbentuk batang pendek atau koma.

 Uji Biokimia Lanjutan .

Lanjutkan pengujian apabila pada uji biokimia pendahuluan diatas ditemukan reaksi  Vibrio cholerae yang khas ( tabel 1). Goreskan kembali kultur dari T1N1 agar atau TSA + NaCl 1,5 % ke TSA dan TSB. Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 18 jam – 24 jam.

Uji Hidrolisis Urea.

Inokulasikan 1 ose dari TSA + NaCl 1,5 % kedalam media urea. Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 18 jam. Reaksi positif ditunjukkan dengan perubahan warna media dari orange menjadi merah muda. Vibrio cholerae tidak mempunyai kemampuan dalam menghidrolisis urea (reaksi negatif)

Uji Arginin dihydrolase, Lysin dekarboksilase dan ornithin dekarboksilase.

Inokulasikan kultur dari TSA + NaCl 1,5 % kedalam tabung media dasar dekarboksilase yang masing – masing mengandung arginin, Lysine, ornithin serta kedalam 1 tabung kontrol media dasar dekarboksilase yang tidak mengandung asam amino. Tambahkan masing – masing tabung dengan mineral oil steril setinggi 1 cm – 2 cm. Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 4 hari. Lakukan pengamatan setiap hari. Reaksi dekarboksilase terhadap asam amino menghasilkan pH alkaline dan mengubah media menjadi ungu cerah (reaksi positif). Sedangkan reaksi fermentasi glucose menghasilkan asam dan mengubah media menjadi warna kuning (reaksi negatif). Tabung control yang tidak mengandung asam amino berubah menjadi kuning Vibrio cholerae menghasilkan reaksi arginin dihydrolase negative, Lysine dan ornithin positif dan orithin decarboxylase positif

Uji Toleransi terhadap garam

Inokulasikan kultur dari TSB kedalam 3 tabung yang masing – masing mengandung tryptone broth 1 % yang ditambahkan NaCl 0 % ; 1 % dan 3 % (T1N0,T1N3). Inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 18 jam – 24 jam. Reaksi positif ditandai dengan terjadinya keruhan yang menunjukkan pertumbuhan. Vibrio cholerae dalam media T1N0 dan T1N3 (table 2).

Uji pertumbuhan pada suhu 42 oC

Inokulasikan 1 ose dari TSB yang telah diinkubasikan selama 24 jam kedalam TSB yang telah dihangatkan dalam waterbath 42 oC. Inkubasikan pada suhu 42 oC dalam waterbath selama 24 jam. Reaksi positif ditandai dengan terjadinya kekeruhan yang menunjukkan adanya pertumbuhan. Vibrio cholerae mengasilkan reaksi variable.

Uji voges-proskauer

Inokulasikan 1 ose dari TSA+ NaCl 1,5 % kedalam MRV – VP broth inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 2 hari. Pindahkan 1 ml dari setiap MRV – VP broth yang menunjukkan pertumbuhan kedalam tabung reaksi ukuran 13 mm x 100 mm steril. Tambahkan 0,6 ml larutan alphanaphtol dan 0,2 ml KOH 40 % lalu kocok. Tambahkan sedikit kristal keratin untuk mempercepat reaksi. Kocok kembali dan diamkan selama 2 jam. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna merah muda sampai warna merah mirah delima (ruby) pada media Vibrio cholerae menghasilkan reaksi variable.

Uji Fermentasi karbohidarat

Inokulasikan 1 ose dari TSA+ NaCl 1,5 % kedalam masing – masing satu tabung purple broth base yang mengandung sucrose, lactose, D-mannitol, mannose, arabinosa atau cellobiose. Tambahkan masing – masing tabung dengan mineral oil steril setinggi 1 cm – 2 cm. inkubasikan pada suhu 36 oC ± 1 oC selama 4 hari – 5 hari  dan lakukan pengamatan setia hari. Reaksi positif fermentasi karbohidrat menghasilkan asam dan mengubah media menjadi kuning ( table 2).

 

 

 

 

  1. 6.    Yersinia enterocolitica.

 

Karakteristik agens Bakteri dari famili Enterobacteriaceae yang gramnegatif, motil, berbentuk batang yang anaerobfakultatif dan tidak membentuk spora. Y. enterocolitica merupakan bakteri psikrotrofik yang dapat tumbuh pada suhu antara 0oC—44oC kendati pertumbuhan optimalnya terjadi pada suhu 29oC. Pertumbuhan akan terjadi pada pH yang berkisar 4,6—9,0 tetapi pH optimal bagi pertumbuhannya adalah 7—8. Kuman ini akan tumbuh pada media yang mengandung 5% garam tetapi tidak tumbuh pada media yang mengandung 7% garam.

 

uji fisiologis dan morfologis (uji motiliti, pewarnaan Gram), pengujian biokimia (uji Fermentasi Karbohidrat, uji Katalase, uji Oksidase, uji Indol, uji Methyl-Red, uji Voges-Proskauer, uji Sitrat) dan karakteristik pertumbuhan (pH dan suhu).

 

7.    Campylobacter jejuni

Campylobacter jejuni adalah spesies yang melengkung, berbentuk heliks , non-spora membentuk, Gram-negatif  mikroaerofil , bakteri yang biasa ditemukan pada hewan tinja. Ini adalah salah satu penyebab paling umum manusia gastroenteritis di dunia. keracunan makanan yang disebabkan oleh Campylobacter spesies dapat sangat melemahkan, tetapi jarang mengancam nyawa. Ini telah dikaitkan dengan perkembangan selanjutnya dari sindrom Guillain-Barré (SGB), yang biasanya berkembang dua sampai tiga minggu setelah penyakit awal.

 

C. jejuni umumnya terkait dengan unggas , dan secara alami colonises pada saluran pencernaan dari banyak spesies burung. Satu studi menemukan bahwa 30% dari jalak Eropa dalam pengaturan pertanian di Oxfordshire, Inggris , adalah pembawa C. jejuni.Ini juga telah diisolasi dari wombat dan kanguru feses, menjadi penyebab bushwalkers ‘ diare. Terkontaminasi minum air dan susu yang tidak dipasteurisasi menyediakan sarana efisien untuk distribusi. Makanan yang terkontaminasi merupakan sumber utama infeksi terisolasi, dengan daging dan unggas tidak benar disiapkan biasanya sumber bakteri.

Infeksi dengan C. jejuni biasanya menghasilkan enteritis , yang ditandai dengan nyeri perut, diare, demam, dan malaise . Gejala biasanya bertahan selama antara 24 jam dan seminggu, namun dapat lebih lama. Diare dapat bervariasi dalam keparahan dari kotoran longgar untuk tinja berdarah. Penyakit ini biasanya membatasi diri. Namun, tidak merespon terhadap antibiotik. Parah (demam yang menyertainya, darah di tinja) atau kasus yang berkepanjangan mungkin membutuhkan ciprofloxacin , eritromisin , azitromisin atau norfloxacin . Obat pilihan biasanya eritromisin. Sekitar 90% kasus merespon pengobatan ciprofloxacin. Cairan dan elektrolit pengganti mungkin diperlukan untuk kasus-kasus serius.

Urutan genom lengkap pertama dari C. jejuni dilakukan pada tahun 2000 (regangan NCTC11168 dengan kromosom melingkar 1.641.481 pasang basa).

 

Laboratorium karakteristik

Ciri      Result

Pertumbuhan pada 25 ° C       -

Pertumbuhan pada 35-37 ° C +

Pertumbuhan pada 42 ° C       +

Nitrat reduksi +

Uji katalase     +

Uji oksidase    +

Pertumbuhan pada agar-agar MacConkey      +

Motilitas (preparat basah)       +

Glukosa pemanfaatan             -

Adanya kenaikan hippurate hidrolisis             +

Resistensi terhadap asam naladixic     -

Resistensi terhadap sefalotin +

 

Campylobacter adalah ditanam di khusus selektif “CAMP” piring agar-agar pada 42 ° C, suhu tubuh normal burung, bukan pada 37 ° C, suhu di mana sebagian besar bakteri patogen lainnya tumbuh. Karena koloni oksidase positif, mereka biasanya hanya akan tumbuh dalam jumlah hanya sedikit di atas piring. mikroaerofilik kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhan mewah. Media selektif yang dikenal sebagai media Skirrow itu digunakan. Media Skirrow adalah darah agar diresapi dengan koktail antibiotik: vankomisin , polymixin-B dan trimetoprim bawah mikroaerofilik kondisi pada 42 ° C

 

 

Darah-bebas, arang berbasis menengah agar selektif (CSM) untuk isolasi Campylobacter jejuni

 

  1. 8.      Helicobacter pylori

 

Helicobacter pylori (HP) sangat kecil, dalam bentuk koma yang sangat mobile dan basil Gram negatif. Helicobacter pylori adalah bakteri spiral yang ditemukan pada mukosa lambung. Hanya bakteri yang dapat bertahan dalam isi lambung yang sangat asam, dengan oksigen sangat sedikit, pada suhu 37 C. Selain želudačanoj mukosa, ditemukan dan luka pada mukosa mulut, dalam plak, dalam air liur, dan terbukti pada tinja.

 

H. pylori infeksi disertai oleh respon imun humoral dan seluler. Namun, organisme inang tidak berhasil dalam menghilangkan mikroorganisme ini. Begitu dibuat, H. pylori infeksi, jika tidak diobati, terus berlanjut selama beberapa dekade, dan mungkin sepanjang hidup. Ini adalah karakteristik yang mayoritas ada yang terinfeksi tidak ada gejala penyakit, sementara sejumlah kecil mengembangkan gejala gastritis, penyakit ulkus peptikum, kanker lambung dan limfoma MALT.

 

Rute penularan

 

HP modus penularan infeksi belum sepenuhnya dieksplorasi. Semua temuan sebelumnya berbicara dalam mendukung infeksi ditularkan langsung dari orang yang terinfeksi ke orang sehat, dan dalam tiga cara utama:

-Perut-mulut, ketika povraćanog konten orang yang terinfeksi yang mengandung sejumlah besar bakteri, mereka masuk ke mulut orang lain;

Mulut-mulut-saat mulut orang yang terinfeksi melewati bakteri di mulut orang sehat;

-Kursi-mulut, dimana bakteri dari tinja orang yang terinfeksi, tangan kotor, masuk ke mulut Anda sehat.

 

Ada juga indikasi rute lain infeksi (dari lingkungan melalui air atau dengan kucing, anjing, dll.), Tapi ini harus dikonfirmasi dengan penelitian lebih rinci.

 

Cara tercepat untuk menginfeksi anak-anak kecil miskin yang tinggal di kondisi sosial ekonomi. HP infeksi paling umum pada anak-anak yang berbagi tempat tidur dengan orang tua atau anak-anak lain di masyarakat dimana mereka mengunyah makanan ibu memberikan anak atau anak ditempatkan di atas puting ke dalam mulutnya. Infeksi lebih sering terjadi pada anak-anak ditempatkan di lembaga-lembaga dari berbagai jenis.

 

Patologis (medis) signifikansi

 

Agresivitas dari bakteri di satu sisi dan kerentanan host pada sisi lain, yang mungkin bertanggung jawab untuk beberapa pasien yang terinfeksi tetap tanpa gejala (hanya meradang mukosa želudačane – gastritis, ditemukan di review), sementara di lain berbagai penyakit berkembang seperti bisul atau bahkan tumor ( kanker perut atau limfoma).

H. pylori dapat dideteksi secara kultur, biokimia, histopatologi , akan tetapi diperlukan prosedur yang cukup lama dan sensitivitas metode tersebut rendah [4,5]. Oleh karenanya, diperlukan teknik biologi molekuler yang cepat, sensitif dan spesifik. Teknik ini telah banyak dilakukan oleh para peneliti [6-9], yang dapat digunakan sebagai pelengkap prosedur diagnostik. Gen-gen yang bertanggung jawab terhadap infeksi H.pylori antara lain meliputi gen-gen untuk; urease (ureA, ureB dan ureC), protein sitotoksin, protein antigen species-specific dan gen rpoB yang menyandi sub-unit β dari RNA polymerase.

 

 

  1. B.     SALURAN KEMIH

 

  1. 1.    PROTEUS MIRABILIS

 

         Aspek Biologi

  1. Morfologi

Setelah tumbuh selama 24-48 jam pada media padat, kebanyakan sel seperti tongkat, panjang 1-3 m dan lebar 0,4-0,6 m, walaupun pendek dan gemuk bentuknya kokus biasa. Dalam kultur muda yang mengerumun di media padat, kebanyakan sel panjang, bengkok, dan seperti filamen, mencapai 10, 20, bahkan sampai panjang 80 m. dalam kultur dewasa, organisme ini tidak memiliki pengaturan karakteristik : mereka mungkin terdistribusi tunggal, berpasangan atau rantai pendek. Akan tetapi, dalam kultur muda yang mengerumun, sel-sel filamen membentang dan diatur konsentris seperti isobar dalam diagram angin puyuh. Kecuali untuk varian tidak berflagella dan flagella yang melumpuhkan, semua jenis dalam kultur muda aktif bergerak dengan flagella peritrik. Flagella tersebut terdapat dalam bnayak bentuk dibanding kebanyakan enterobakter lain, normal dan bentuk bergelombang kadang-kadang ditemukan bersama dalam organisme sama dan bahkan dalam flagellum yang sama. Bentuk flagellum juga dipengaruhi pH media.

 

2.Klasifikasi

Kingdom         :           Bacteria

Phylum            :           Proteobacteria

Class                :           Gamma Proteobacteria

Order               :           Enterobacteriales

Family             :           Enterobacteriaceae

Genus              :           Proteus

Species            :           Proteus mirabilis

 

3. Siklus hidup

Sebenarnya Proteus mirabilis merupakan flora normal dari saluran cerna manusia. Bakteri ini dapat juga ditemukan bebas di air atau tanah. Jika bakteri ini memasuki saluran kencing, luka terbuka, atau paru-paru akan menjadi bersifat patogen. Perempuan muda lebih beresiko terkena daripada laki-laki muda, akan tetapi pria dewasa lebih beresiko terkena daripada wanita dewasa karena berhubungan pula dengan penyakit prostat. Proteus sering juga terdapat dalam daging busuk dan sampah serta feses manusia dan hewan. Juga bisa ditemukan di tanah kebun atau pada tanaman.

 

         Penyakit yang ditimbulkan

Bakteri ini mampu memproduksi enzim urease dalam jumlah besar. Enzim urease yang menghidrolisis urea menjadi ammonia (NH3) menyebabkan urin bertambah basa. Jika tidak ditanggulangi, pertambahan kebasaan dapat memicu pembentukan kristal sitruvit (magnesium amonium fosfat), kalsium karbonat, dan atau apatit. Bakteri ini dapat ditemukan pada batu/kristal tersebut, bersembunyi dalam kristal dan dapat kembali menginfeksi setelah pengobatan dengan antibiotik. Semakin banyak batu/kristal terbentuk, pertumbuhan makin cepat dan dapat menyebabkan gagal ginjal. Proteus mirabilis memproduksi endotoksin yang memudahkan induksi ke sistem respon inflamasi dan membentuk hemolisin. Bakteri ini dapat pula menyebabkan pneumonia dan juga prostatitis pada pria.

Tes mikro-organisme:
Indol negatif dan Nitrat reduktase positif (tidak ada gelembung gas yang dihasilkan)
Metil Merah positif dan Voges-Proskauer negatif
Katalase positif dan sitokrom oksidase negatif
Fenilalanin Deaminase positif
Tryptophan tes negatif (-)
Urea tes-positif
Kasein tes-negatif
Pati tes-negatif
Hidrogen sulfida tes-positif
Sitrat agar-agar tes-positif

 

 

 

  1. 2.    Acinetobacter baumannii

 

 

 

Acinetobacter baumannii adalah bakteri gram-negatif yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial pada manusia. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 44°C, menggunakan berbagai jenis karbohidrat sebagai sumber nutrisi, dan mampu melekat pada sel epitelial manusia. Karakteristik dari bakteri ini adalah aerobik, berbentuk koko-basil, dan dapat dengan cepat tahan (resisten) terhadap berbagai antibiotik. Acinetobacter baumannii juga diketahui tahan (reisten) terhadap sabun dan antiseptik konvensional sehingga kontaminasi koloni bakteri ini pada tangan petugas kesehatan mudah terjadi.

Acinetobacter baumannii adalah jenis bakteri patogen yang bersifat aerobik gram-negatif baksilus dan secara alami relatif peka terhadap beberapa antibiotik. Infeksi  A.baumannii berbentuk   penyakit oportunistik. Multi-obat tahan Acinetobacter baumannii ‘akan disingkat sebagai MDRAB. Multidrug tahan Acinetobacter bukan merupakan fenomena baru, tetapi J baumannii selalu inherently tahan terhadap beberapa antibiotik.

Bakteri Acinetobacter baumannii merupakan bakteri patogen opportunistik atau patogen nosokomial. Sebagai patogen opportunistik, banyak terdapat dilingkungan, air, tanah, kotoran dan bahkan ditubuh manusia.

Acinetobacter baumannii dapat menyebabkan infeksi jika menyerang pada orang/individu dengan kondisi jelek. Sedangkan sebagai patogen nosokomial, sering terjadi kolonisasi dan infeksi di rumah sakit, terutama di ruang perawatan intensif. Dapat menyebabkan infeksi pneumonia, ISK, meningitis, septikemi, infeksi luka bakar atau luka operasi.

 

 

  1. 3.    Pseudomonas cepacia

 

 

 

Pseudomonas cepacia pertama kali digambarkan sebagai phytopathogen, dan terisolasi dari bawang membusuk dan tanah, dan berbagai

sumber hewan.

 

Dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi Pseudomonas cepacia oportunis, menyebabkan infeksi nosokomial

termasuk endokarditis, pneumonia, luka, dan infeksi saluran kemih

 

Burkholderia cepacia kompleks (BCC), atau hanya Burkholderia cepacia adalah sekelompok katalase -memproduksi, non- laktosa – fermentasi Gram-negatif bakteri terdiri dari sedikitnya sembilan spesies yang berbeda, termasuk B. cepacia, B. multivorans , B. cenocepacia , B. vietnamiensis , B. stabilis , B. ambifaria , B. dolosa , B. anthina , dan B. pyrrocinia .  B. cepacia merupakan patogen manusia penting yang paling sering menyebabkan pneumonia pada immunocompromised individu dengan penyakit paru yang mendasari (seperti cystic fibrosis atau penyakit granulomatosa kronis ).

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:        Bakteri

Filum:             Proteobacteria

Kelas:             Beta Proteobacteria

Urutan:           Burkholderiales

Keluarga:        Burkholderiaceae

Genus:            Burkholderia

Spesies:           B. cepacia kompleks

Sinonim           Pseudomonas cepacia

 

 

 

Diagnosis BCC melibatkan kultur bakteri dari spesimen klinis seperti sputum atau darah.  BCC organisme secara alami resisten terhadap umum banyak antibiotik termasuk aminoglikosida dan polimiksin B . dan fakta ini dimanfaatkan dalam identifikasi organisme.

 

Oksidasi-fermentasi polimiksin-bacitracin-laktosa (OFPBL) agar-agar mengandung polimiksin (yang paling membunuh bakteri gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa ) dan bacitracin (yang paling membunuh bakteri gram positif dan Neisseria spesies). Hal ini juga mengandung laktosa , dan organisme seperti BCC yang memfermentasi laktosa gilirannya kuning pH indikator, yang membantu untuk membedakannya dari organisme lain yang dapat tumbuh pada agar OFPBL, seperti Candida spesies, Pseudomonas fluorescens , Stenotrophomonas spesies, dan Proteus spesies.

 

 

  1. 4.    Pseudomonas aeruginosa

 

 

Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Hal ini ditemukan dalam tanah, air, flora di kulit dan sebagian besar lingkungan manusia di seluruh dunia. Ia tidak hanya berkembang di atmosfir biasa, tetapi juga dengan sedikit oksigen. Selain itu, kuman ini dapat menggunakan berbagai bahan organik untuk makanan kita sehari-hari sebagai tempat hidupnya; termasuk juga dapat hidup pada hewan, yang memungkinkan fleksibilitas organisme ini untuk menulari sel-sel rusak atau orang dengan kekebalan tubuh yang rendah. Gejala-gejala infeksinya berupa  peradangan dan keracunan darah. Jika kolonisasi terjadi di organ tubuh penting seperti paru-paru, saluran kencing, dan ginjal, hasilnya bisa fatal. Bakteri ini  berkembang di permukaan yang lembab, termasuk di dalam dan pada permukaan peralatan medis seperti kateter. Hal ini  menyebabkan terjadinya lintas infeksi di rumah sakit dan klinik.

Identifikasi
Bakteri ini merupakan jenis spesies dari genus Pseudomonas, gram-negatif, aerobik, bakteri berbentuk batang dengan  unipolar motility. Sebuah patogen oportunistik pada manusia, P. aeruginosa juga merupakan patogen oportunistik pada tanaman.

Identifikasi klinis definitif   P. aeruginosa sering memasukkan identifikasi produk pyocyanin dan fluorescein, serta kemampuannya untuk tumbuh pada suhu 42 ° C. P. aeruginosa mampu tumbuh pada bahan bakar diesel dan jet. Microbial ini bisa menyebabkan korosi.

 

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan          :           Bacteria

Filum               :           Proteobacteria

Kelas               :           Gamma Proteobacteria

Ordo                :           Pseudomonadales

Famili              :           Pseudomonadaceae

Genus              :           Pseudomonas

Spesies             :           Pseudomonas aeruginosa

Nama binomial            Pseudomonas aeruginosa

 

Pada uji biokimia, bakteri ini menghasilkan hasil negatif pada uji [[[indol]], Merah Metil, dan Voges-Proskauer. Bakteri ini secara luas dapat ditemukan di alam, contohnya di tanah, air, tanaman, dan hewan. P. aeruginosa adalah patogen oportunistik. Bakteri ini merupakan penyebab utama infeksi pneumonia nosokomial.Meskipun begitu, bakteri ini dapat berkolonisasi pada manusia normal tanpa menyebabkan penyakit.

Ketika bakteri ini ditumbuhkan pada media yang sesuai, bakteri ini akan menghasilkan pigmen nonfluoresen berwarna kebiruan, piosianin.Beberapa strain Pseudomonas juga mampu menghasilkan pigmen fluoresen berwarna hijau, yaitu pioverdin.Pseudomonas aeruginosa memproduksi katalase,oksidase, dan amonia dari arginin. Bakteri ini dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbonnya.

 

  1. 5.     Klebsiella pneumoniae

 

Klasifikasi secara ilmiah :

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria

Class : Gamma Proteobacteria

Order : Enterobacteriales

Family : Enterobacteriaceae

Genus : Klebsiella

Species : K.pneumoniae

Binomial name : Klebsiella pneumoniae

 

 

Pada tahun 1882 Friedlander mengisolasi kuman ini dari pneumonia labor, kemudian penyediaan disempurnakan oleh Frenkel dan Weichelbaum pada tahun 1886 menemukan organisme batang pendek yang umumnya berbentuk coccoid disebut Klebsiella pneumoniae.

MORFOLOGI

Berbentuk batang pendek dengan ukuran 0.5-1.5 x 1-2 mikron.

Mempunyai selubung yang lebarnya 2-3 kali ukuran kuman. Tidak berspora, tidak bergerak dan Gram (-).

SIFAT BIAKAN

Mudah dibiakkan di media sederhana (bouillon agar).

Pada media padat tumbuh dengan koloni mucoid (24 jam), putih keabuan dan permukaannya mengkilat. pH untuk hidup 6.0-7.8 dan suhu 35o C.

REAKSI BIOKIMIA

Memecah karbohidrat menjadi asam dan gas : laktosa sukrosa dan inositol Merah metal (+) dan Voges Proskauer (-) dan lambat memecah urea.

STRUKTUR ANTIGEN

Antigen-K terdiri dari polisakarida, bersifat spesifik dan menimbulkan immunitas yang cukup baik.

 

  1. 6.       Klebsiella aerogenes

 

 

-Klebsiella aerogenes / Aerobacter aerogenes kuman ini mempunyai sifat sama dengan Escherichia coli, terdapat di air, tanah, sampah dll

dibedakan pada tes IMViC Escherichia coli : ++ – -

Klebsiella aerogenes : – - ++

 

masuk dalam tubuh per oral, infeksi pada saluran urine biasanya setelah kateterisasi , maka perlu tes resistensi dahulu

 

-Klebsiella edwardsi

-Klebsiella cloacae

-Klebsiella atlantae

Morfologi dan sifat – sifat

 

-Bentuk batang, Gram negatf

-Ukuran 0,5 – 1,5 x 1 – 2 µ

-Mempunyai selubung yang lebarnya 2 – 3 x

 

ukuran kuman

-Tidak berspora, tidak berflagela

-Menguraikan laktosa

-Membentuk kapsul baik invivo atau invitro,

sehingga koloni berlendir (mukoid)

 

-Kapsul terdiri dari antigen K dan antigen M

dapat menutupi antigen O, berdasarkan antigen ini ditemukan 70 tipe dan penentuan dengan reaksi Quellung test

 

Sifat biakan

 

-Mudah dibiakan di media sederhana (bouillon agar) koloni putih keabuan dan permukaan mengkilap

-Pada media EMB dan mac conkey koloni merah

-Pada media padat tumbuh koloni mucoid (24 jam)

Biokimia

-Memecah karbohidrat menjadi asam dan gas : laktose dan sukrose

-Inositol Merah Metil negatif

-Voges Proskuer positif

-Lambat memecah urea

 

 

  1. C.    ORGAN REPRODUKSI

 

  1. 1.    Neisseria gonorrhoeae

 

Secara umum ciri-ciri neisseriae adalah bakteri gram negatif, diplokokus non motil, berdiameter mendekati 0,8 μm. Masing-masing cocci berbentuk ginjal; ketika organisme berpasangan sisi yang cekung akan berdekatan. Bakteri ini adalah patogen pada manusia dan biasanya ditemukan bergabung atau di dalam sel polimorfonuklear. Pada gonococci memiliki 70% DNA homolog, tidak memiliki kapsul polisakarida, memiliki plasmid. Gonococci paling baik tumbuh pada media yang mengandung substansi organik yang kompleks seperti darah yang dipanaskan, hemin, protein hewan dan dalam ruang udara yang mengandung 5% CO2. Gonococci hanya memfermentasi glukosa dan berbeda dari neisseriae lain. Gonococcus biasanya menghasilkan koloni yang lebih kecil dibandingkan neisseria lain.

 

Neisseria gonorrhoeae adalah kuman gram negatif bentuk diplokokus yang merupakan penyebab infeksi saluran urogenitalis. Kuman ini bersifat fastidious dan untuk tumbuhnya perlu media yang lengkap serta baik. Akan tetapi, ia juga rentan terhadap kepanasan dan kekeringan sehingga tidak dapat bertahan hidup lama di luar host-nya. Penularan umumnya terjadi secara kontak seksual dan masa inkubasi terjadi sekitar 2–5 hari.

Isolasi dan Identiflkasi Kuman Gonore

 

Isolasi kuman dilakukan pada medium Thayer Martin Agar, inkubasi pada suhu 37oC dalam sungkup lilin. Pengamatan adanya koloni kuman gonore dilakukan sampai 48 jam.

 

Identifikasi kuman dilakukan dengan cara sebagai berikut: koloni yang dicurigai diuji oksidase dan katalase (hasil oksidase dan katalase positif). Kuman dengan hasil uji oksidase dan katalase positif dilakukan uji biokimia (gula-gula) pada medium Cystein Tlypticase Agar. Konfirmasi selanjutaya dilakukan uji iodometri untuk mengetahui produksi enzim betalaktamase

 

  1. 2.    Treponema pallidum

 

Karakteristik

Penyebab sifilis adalah spiroketa Treponema pallidum, mikroorganisme ini halus, berpilin ketat dengan ujung meruncing dan terdiri dari 6 sampai 14 spiral; berukuran lebar 0,25 sampai 0,3 um dan panjang 6 sampat 15 um. Organisme ini dapat dikenali paling jelas pada suatu spesimen klinis yang berasal dari luka sifilitik stadium primer dan sekunder dibawah mikroskop medan gelap ; ini jelas terlihat dari bentuk spiral dan pergerakannya yang seperti putaran pembuka sumbat.

 

Treponema pallidum mempunyai membran luar, atau selongsong yang disebut periplas yang melingkungi komponen-komponen dalam sel (keseluruhannya disebut silinder protoplasma). Suatu filamen aksial, yang terdiri dari tiga sampai enam fibril, terletak diantara periplas dan silinder protoplasma.

T. pallidum yang virulen belum berhasil di biakkan secara in vitro. Galur-galur T.pallidum yang non virulen (tidak patogenik), seperti galur Reiter dan Noguchi, telah berhasil dibiakkan invitro dan menjadi sumber antigen untuk uji-uji diagnostik laboratoris.

 

Struktur Antigen

T.pallidum tidak dapat dibiakkan in-vitro yang jelas memiliki ciri khas terbatas dari antigennya. Hal ini menjadi tidak jelas jika selubung glikosaminoglikan berasal dari sel inang atau dibuat oleh treponema. Fungsi selubung untuk menghambat pemtumbuhan organisme berperantara antibodi atau berperantara komplemen. Terdapat asam sialat pada permukaan organisme yang berfungsi untuk menghambat aktivasi jalur komplemen altematif. T.pallidum subsp pallidum memiliki hialuronidase yang menguraikan asam hialuronat dalam substansi dasar jaringan dan diduga meningkatkan kemampuan invasif organisme. Bentuk protein T. pallidum (semuanya subspesies ) tidak dapat dibedakan ; lebih dari 100 protein antigen. Endoflagel terdiri dari 3 protein inti yang homolog terhadap protein flagelin bakteri lain, ditambah protein selubung yang tidak berhubungan. Terdapat banyak kelompok lipoprotein yang telah diketahui fungsinya, diduga semua ini tampak penting dalam respon imun. Kardiolipin adalah komponen renting dari antigen treponema.

 

 

Patogenitas

Sifilis berjangkit secara alamiah hanya pada manusia dan terutama ditularkan lewat hubungan kelamin atau dari ibu yang terinfeksi kepada janinnya (sifilis bawaan atau sebelum lahir) lewat ari-ari. Pada kasus yang tidak diobati 25% di antara janin meninggal meninggal sebelum lahir 25-30% meninggal segera setela dilahirkan yang lain menunjukkan gejala komplikasi lanjut (misalnya menjadi tuli).Sejumlah besar treponema dalarn darah dan jaringan musnah selama sifilis sekunder. Penisilin adalah adalah antibiotik yang dipilih untuk pengobatan sifilis.

 

  1. 3.    Leptospira interoogans

 

 

Klasifikasi
Kingdom         : Monera

Phylum            : Spirochaetes

Class                : Spirochaetes

Order               : Spirochaetales

Family             : Leptospiraceae

Genus              : Leptospira

Species            : Leptospira  interoogans


Karakteristik

Ciri-ciri bakteri Leptospira antara lain berbentuk spiral, dapat hidup di air tawar selama satu bulan, bersifat patogen dan saprofitik. Spesies Leptospira yang mampu menyebabkan penyakit (patogen) bagi manusia adalah Leptospira interrogans.

Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Setiap spesies leptospira terbagi menjadi puluhan serogrup dan terbagi lagi menjadi puluhan, bahkan ratusan serovar. Saat ini, Leptospira interrogans yang bersifat patogen telah dikenal lebih dari 200 serovar. Jasad renik ini biasanya hidup di dalam ginjal host dan dikeluarkan melalui air kencing (urin) saat berkemih. Host tersebut antara lain tikus, babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, kelelawar, tupai dan landak. Tikus sering menjadi host bagi berbagai serovar leptospira. Akan tetapi, Leptospirosis akan mati apabila masuk ke air laut, selokan, dan air kemih manusia.

Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Resevoar paling utama adalah binatang pengerat dan tikus adalah yang paling sering ditemukan di seluruh belahan dunia. Di Amerika yang paling utama adalah anjing, ternak, tikus, binatang buas dan kucing.

 

Penularan

Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui binatang tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui: permukaan kulit yang terluka, selaput lender mata dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik urine tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia. Urine tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis dapat mencemari air di kamar mandi atau makanan yang tidak disimpan pada tempat yang aman.

Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama

penyebab leptospirosis. Beberapa jenis hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi hewan-hewan ini menularkan leptospirosis ke manusia tidak sehebat tikus.

Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien. Masa inkubasi leptospirosis adalah dua hingga 26 hari. Sekali berada di aliran darah, bakteri ini bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan khususnya hati dan ginjal. Saat kuman masuk ke ginjal akan melakukan migrasi ke interstitium, tubulus renal, dan tubular lumen menyebabkan nefritis interstitial dan nekrosis tubular. Ketika berlanjut menjadi gagal ginjal biasanya disebabkan karena kerusakan tubulus, hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas kapiler. Gangguan hati tampak nekrosis sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer, ikterus terjadi karena disfunsi hepatocellular. Leptospira juga dapat menginvasi otot skletal menyebabkan edema, vacuolisasi miofibril, dan nekrosis focal. Muscular Gangguan sirkulasi mikro muskular dan peningkatan permeabilitas kapiler dapat menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemi sirkulasi. Dalam kasus berat “disseminated vasculitic syndrome” akan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Gangguan paru adalah meknisme sekunder kerusakan pada alveolar and vaskular interstitial yang mengakibatkan hemoptu. Leptospira juga dapat menginvasi humor akuos mata yang dapat menetap dalam beberapa bulan, seringkali mengakibatkan uveitus kronis dan berulang. Meskipun kemungkinan dapat terjadi komplikasi yang berat tettapi lebih sering terjadi self limiting disease dan tidak fatal. Sejauh ini, respon imun siostemik dapat mengeliminasi kuman dari tubuh, tetapi dapat memicu reaksi gejala inflamasi yang dapat mengakibatkan “secondary end-organ injury”.

 

  1. 4.    Gardnerella vaginalis

 

Klasifikasi

Kingdom          : Bacteria

Phylum            : Actinobacteria

Order               : Bifidobacteriales

Family             : Bifidobacteriaceae

Genus              : Gardnerella

Species            : Gardnerella vaginalis

Karakteristik

Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H. vaginalis kemudian diubah menjadi genus Gardnerella atas dasar penyelidikan mengenai fenetopik dan asam dioksi-ribonukleat. Tidak mempunyai kapsul, tidak bergerak dan berbentuk batang gram negatif atau variabel gram. Bewarna abu-abu dan tipis. Tes katalase, oksidase, reduksi nitrat, indole, dan urease semuanya negatif

Kuman ini bersifat fakultatif, dengan produksi akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang juga menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob obligat. Dan untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin, purin, dan pirimidin.

Berbagai literatura dalam 30 tahun terakhir membuktikan bahwa G. vaginalis berhubungan dengan bacterial vaginalis.

 

Penularan

Penyakit bakterial vaginosis lebih sering ditemukan pada wanita yang memeriksakan kesehatannya daripada vaginitis jenis lainnya. Frekuensi bergantung pada tingkatan sosial ekonomi penduduk pernah disebutkan bahwa 50 % wanita aktif seksual terkena infeksi G. vaginalis.

Gardnerella vaginalis dapat diisolasi dari 15 % anak wanita prapubertas yang masih perawan, sehingga organisme ini tidak mutlak ditularkan lewat kontak seksual. Meskipun kasus bakterial vaginosis dilaporkan lebih tinggi pada klinik PMS, tetapi peranan penularan secara seksual tidak jelas .Bakterial vaginosis yang rekuren dapat meningkat pada wanita yang mulai aktivitas seksualnya sejak umur muda, lebih sering juga terjadi pada wanita berkulit hitam yang menggunakan kontrasepsi dan merokok. Bakterial vaginosis yang rekuren prevalensinya juga tinggi pada pasangan-pasangan lesbi, yang mungkin berkembang karena wanita tersebut berganti-ganti pasangan seksualnya ataupun yang sering melakukan penyemprotan pada vagina.

Hampir 90 % laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi Gardnerella vaginosis, mengandung G.vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra, tetapi tidak menyebabkan uretritis.

 

Infeksi

Wanita dengan bakterial vaginosis dapat tanpa gejala. Gejala yang paling sering pada bakterial vaginosis adalah adanya cairan vagina yang abnormal (terutama setelah melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang khas yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor). Bau tersebut disebabkan oleh adanya amin yang menguap bila cairan vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa (pH 7,2) menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap menimbulkan bau yang khas. Walaupun beberapa wanita mempunyai gejala yang khas, namun pada sebagian besar wanita dapat asimptomatik. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa terbakar), kalau ditemukan lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis atau C.albicans. Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen, dispareuria, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi, dan kalau ada karena penyakit lain. Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina yang tipis dan sering berwarna putih atau abu-abu, viskositas rendah atau normal, homogen, dan jarang berbusa. Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kelainan yang difus. Gejala peradangan umum tidak ada. Sebaliknya sekret vagina normal, lebih tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel vagina yang memberikan gambaran yang bergerombol.

Pada penderita dengan bakterial vaginosis tidak ditemukan inflamasi pada vagina dan vulva. Bakterial vaginosis dapat timbul bersama infeksi traktus genital bawah seperti trikomoniasis dan servisitis sehingga menimbulkan gejala genital yang tidak spesifik.

 

 

  1. Bacteroides fragilis

 

Bacteroides fragilis adalah basil Gram-negatif dan anaerob obligat usus dan Bakteri anaerob yang sering dijumpai pada alat genitalia (wanita)

Bacteroides

B. fragilis kelompok adalah bacteriodaceae paling sering terisolasi di infeksi anaerobik terutama yang berasal dari flora gastrointestinal. B. fragili s adalah organisme paling umum di B. fragilis kelompok, akuntansi untuk 41% sampai 78% dari isolat kelompok. B. fragilis kelompok adalah spesies Bacteroidaceae yang terisolasi dengan frekuensi terbesar dalam spesimen klinis. Organisme ini resisten terhadap penisilin berdasarkan produksi beta-laktamase, dan oleh faktor lain yang tidak diketahui.

 

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan          :           Bakteri

Filum               :           Bacteroidetes

Kelas               :           Bacteroidetes

Urutan             :           Bacteroidales

Keluarga          :           Bacteroidaceae

Genus              :           Bacteroides

Spesies            :           fragilis

 

Organisme ini sebelumnya diklasifikasikan sebagai subspesies dari B. fragilis (yaitu ss fragilis,. ss. distasonis, ss. ovatus, ss. thetaiotaomicron, dan ss. vulgatus). Mereka telah direklasifikasi menjadi spesies yang berbeda berdasarkan homologi DNA studi.  B. fragilis (sebelumnya dikenal sebagai B. fragilis ss fragilis,. salah satu subspesies B. fragilis) adalah anaerob yang paling sering diisolasi dari infeksi.

 

Meskipun B. fragilis kelompok spesies yang paling umum ditemukan pada spesimen klinis, itu adalah Bacteroides paling umum hadir flora tinja, yang terdiri dari hanya 0,5% dari bakteri hadir dalam tinja. Patogenisitas dari kelompok organisme mungkin hasil dari kemampuannya untuk menghasilkan bahan kapsuler, yang protektif terhadap fagositosis.

Mikroba kontaminasi: pembusukan dan bahaya

S.F.Bloomefield

King’s College London, Chelsea Departement of Pharmacy, Manresa Road, London, SW3 6LX, UK

 

 

  1. Pendahuluan………………………………………………………………………………….
  2. Kontaminasi produk pharmaceutical……………………………………………….
  3. Sumber kontaminasi mikroba dalam produk pharma ceutical…………………..
  4. Faktor yang mempengaruhi survival dan pertumbuhan organisme dalam produk…………………………………………………………………………………………..
  5. Pembusukan mikroba produk farmasi………………………………………………..

5.1  Perincian bahan aktif………………………………………………………………..

5.2  Produksi racun………………………………………………………………………..

5.3  Rumusan umum rincian…………………………………………………………….

5.3.1        Degradasi surfaktan……………………………………………………………..

5.3.2        Degradasi penebalan dan menangguhkan agen………………………………

5.3.3        Pemanfaatan humektan dan co-pelarut………………………………………

5.3.4        Degradasi agen pemanis, penyedap dan pewarna…………………………….

5.4  Geneal penurunan penerimaan produk………………………………………………

5.5  Degradasi pengawet………………………………………………………………………

  1. Infeksi bahaya dari kontaminasi mikroba farmasi…………………………………..

6.1  Jenis organisme………………………………………………………………………

6.2  Dosis infektif………………………………………………………………………………

6.3  Host resistensi terhadap infeksi……………………………………………………..

6.4  Rute administrasi…………………………………………………………………………

6.4.1        Oral obat-obatan……………………………………………………………………..

6.4.2        Topikal administrasi……………………………………………………………….

6.4.3        Infeksi pernapasan…………………………………………………………………..

6.4.4        Desinfektan…………………………………………………………………………..

6.4.5        Persiapan Kedokteran Mata…………………………………………………………

6.4.6        Mengairi cairan dan cairan dialisis………………………………………………

6.4.7        Injeksi…………………………………………………………………………………

  1. Gambaran umum…………………………………………………………………………….

 

1. PENDAHULUAN

Setiap produk farmasi, baik diproduksi di rumah sakit atau lingkungan industri, memiliki potensi untuk terkontaminasi dengan mikro-organisme seperti bakteri, ragi atau jamur. Kontaminasi mikroba mungkin berasal dari bahan baku atau mungkin terkontaminasi selama pembuatan. Produk juga dapat menjadi terkontaminasi selama penyimpanan dan penggunaan.

Kontaminasi mikroba pada produk farmasi merupakan potensi berbahaya karena dua alasan. Pertama, dapat menimbulkan pembusukan produk; fleksibilitas metabolisme mikro-organisme seperti bahwa setiap bahan berasal dari gula sederhana untuk molekul aromatik yang kompleks dapat mengalami modifikasi kimia dalam kehadiran suatu organisme yang cocok. Pembusukan tidak hanya akan mempengaruhi sifat terapeutik tetapi juga dapat mencegah komplen pasien. Kedua, kontaminasi produk memberikan bahaya kesehatan kepada pasien, meskipun tingkat bahaya akan bervariasi dari produk ke produk dan pasien ke pasien, tergantung pada jenis dan jumlah organisme ini, rute penyebaran dan ketahanan pasien terhadap infeksi .

Pendekatan yang paling logis untuk meminimalkan bahaya mikroba akan menentukan bahwa semua produk diproduksi sebagai produk steril dalam kemasan dosis tunggal. Meskipun produk digunakan ke daerah steril tubuh, atau berasal dari ke dalam kontak dengan mata atau produk yang digunakan  pada kulit rusak dan selaput lendir, yang diproduksi tidak sesuai dianggap tidak layak atau layak secara komersial untuk produk topikal oral atau lainnya pada saat ini . Jadi tingkat yang dapat diterima jaminan kualitas mikroba perlu ditetapkan untuk produk tersebut.

Namun, dalam upaya untuk mengatur batas mikroba yang cocok atau standar, kita dihadapkan dengan masalah, karena beberapa faktor dan beragam yang terlibat, kita tidak dapat mendefinisikan dengan tepat tingkat dan jenis kontaminasi yang merupakan bahaya dan apa yang aman. Jadi dengan membatasi kontaminasi mikroba kami hanya mengurangi risiko infeksi dan pembusukan ke tingkat ditentukan oleh pengetahuan kami saat ini dan sumber daya keuangan yang tersedia.

Dalam bab ini, pengetahuan saat ini kontaminasi mikroba produk farmasi dan bahaya terkait terakhir. Ulasan sebelumnya tentang hal ini diberikan oleh smart dan Spooner (1972), Beveridge (1975, 1987), Baird (1988) dan Spooner (1988)

 

 

 

2. KONTAMINASI PRODUK PHARMACEUTICAL

Selama tahun 1960, terutama karena keprihatinan atas meningkatnya jumlah wabah dilaporkan infeksi disebabkan obat-obatan dan kosmetik yang terkontaminasi, sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menilai sejauh mana masalah dan untuk membuat rekomendasi. Di Inggris dua penelitian telah dilakukan, satu oleh Public Health Laboratory Service (PHLS) untuk menyelidiki obat-obatan rumah sakit, dan bahan baku (Anon. 1971a, 1971b). obyek studi ini adalah untuk menilai kualitas mikroba produk diproduksi dan untuk mengidentifikasi sumber-sumber kontaminasi produk. Investigasi ekstensif juga dilakukan di negara-negara Eropa lainnya (terutama Swedia) dan Amerika Serikat. Hasil keseluruhan dari studi ini diringkas pada Tabel 1. Dari 6700 sampel diperiksa, sekitar 27% ditemukan

Tabel 1 – survei kualitas mikroba obat-obatan, perlengkapan mandi dan kosmetik.

Referensi

 

Tipe produk

Nomor
yang diselidiki

Nomor

Baker (1959) Perlengkapan mandi

5

2 (40%)

Kallings et al. (1966) Obat-obatan

134

91 (68%)

Ulrich (1968) Obat-obatan

696

535 (76%)

Hirsch et al. (1969) Obat-obatan

57

47 (82%)

Wolven and Levenstein (1969) Cosmetik

250

61 (24%)

Dunnigan and Evans (1970) Cosmetik

169

33 (20%)

Anon (1971a) Obat-obatan

1220

390 (31%)

Beveridge and Hope (1971) Obat-obatan

138

58 (42%)

Robinson (1971) Obat-obatan

279

85 (30%)

Wolven and Levenstein (1972) Cosmetics

228

8 (3%)

Ahearn et al. (1973) Cosmetik

200

3 (2%)

Baird et al. (1976) Obat-obatan

499

46 (9%)

Awad (1977) Obat-obatan

911

109 (13%)

Awad (1977) Obat-obatan

247

79 (32%)

Awad (1977) Obat-obatan

110

31 (28%)

Awad (1977) Obat-obatan

1462

184 (13%)

Baird (1977) Cosmetik

147

48 (32%)

Wallhaeusser (1978) Obat-obatan

17

12 (70%)

Total    

6764

1814 (27%)

 

Kontaminasi terdeteksi, meskipun tingkat kontaminasi bervariasi dari 2% hingga 82% sesuai dengan jenis produk. Kontaminasi tingkat untuk sampel individu berkisar dari kurang dari sepuluh organisme per sampel sampai dengan 105-106 organisme per gram atau per mililiter. Hasil khas dari survei PHLS (Tabel 2) menunjukkan bahwa.

 

Tabel 2 – Kontaminasi tarif untuk produk farmasi yang diproduksi (PHLS survei, Anon 1971a.)

Tipe produk

Persentase total kontaminasi

Persentase kontaminasi dengan > 105 g-1 or ml-1

Cairan

35%

22%

Gel

34%

15%

Minyak

26%

10%

Kering

33%

7%

Spirits

3%

3%

Total

32%

18%

 

Tingkat kontaminasi keseluruhan adalah untuk air, gel, produk berminyak dan kering, frekuensi banyak kontaminasi tergantung dengan kadar air dalam produk.

Untuk 6000 atau lebih sampel dimana isolat diidentifikasi, sebagian besar ditemukan basil Gram-positif dan micrococci; organisme ini umumnya dianggap sebagai non-patogenik. Ragi dan jamur juga sering ditemukan, terutama dalam krim dan salep. Dari spesies dianggap sebagai patogen potensial (Tabel 3) Pseudomonas aeruginosa dan pseudomonas lainnya yang paling sering diisolasi. Kontaminan lain yang dilaporkan termasuk spesies Alcaligenes, Flavobacterium, Acinetobacter, Serratia dan Citrobacter.

 

Table 3 – Kontaminan terisolasi dari 6068 pharmasetika, produk kosmetik dan perlengkapan mandi selama survei dilakukan dari 1959 sampai 1979

Contaminant

No. isolates

Ps. Aeruginosa

46

Other pseudomonads

36

E. coli

6

Staphylococcus aureus

2

Salmonella spp.

Nil

Enterobacter

5

Klebsiella spp.

6

Proteus spp.

1

aAs described in Table 1.

 

3. SUMBER KONTAMINASI MIKROBA DALAM PRODUK PHARMA CEUTICAL

Dalam rangka mengoptimalkan metode untuk mengendalikan kontaminasi mikroba obat-obatan, perlu untuk memahami sumber-sumber dan rute dari mana kontaminasi mungkin berasal. Kontaminasi mikroba dari bahan baku selalu akan ditransfer ke produk, sedangkan kontaminasi lebih lanjut mungkin diperoleh dari peralatan dan lingkungan, dari operator proses dan bahan kemasan.

Dalam bubuk kering umum asal sintetis yang digunakan sebagai bahan baku obat-obatan hasil jumlah bakteri rendah, organisme ini sedang sporebearers terutama aerobik. Sebaliknya, bubuk kering asal alami banyak terkontaminasi, kebanyakan oleh Gram-positif pembentuk spora-dan mould, dan juga dengan coliforms dan Gram-negatif spesies (Westwood dan Pin Lim 1971;. Anon 1971a, 1971b). Sumber yang paling umum dari spesies pembusukan atau patogen adalah air atau larutan stok unpreserved, misalnya, solusi seperti air peppermint dapat terkontaminasi dengan organisme Gram-negatif jika tidak disiapkan dengan baik atau jika tidak benar disimpan.  Spesies  Gram-negatif yang terbawa air yang dapat tumbuh, bahkan dalam air suling, Acinetobacter, Achromobacter, Enterobacter, dan Pseudomonas Flavobacterium; spesies asal enterik seperti Escherichia coli dan Salmonella, meskipun tidak hidup bebas, dapat bertahan untuk jangka waktu yang substansial dalam air tercemar. Kontaminasi mikroba bahan baku termasuk air dibahas lebih rinci dalam Bab 3.

Kontaminasi yang timbul dari manufaktur dan mengisi pabrik yang disebabkan karena kontak langsung dengan produk tersebut harus dikendalikan dengan hati-hati . Pertumbuhan kontaminan, terutama bakteri Gram-negatif, mudah terjadi pada ruang mati (sendi dan katup, dll) di mana air dan produk residu menumpuk; sekali terkontaminasi akan sangat persistent dan sulit untuk menghilangkan.

Meskipun kontaminasi bisa sangat persistent dan sulit untuk menghilangkan, yang penting  tidak bersentuhan langsung dengan produk, bukti jelas bahwa transfer dapat terjadi di mana kontrol tidak diterapkan dengan benar. Dalam sebuah penelitian dari unit manufaktur rumah sakit (Baird et al. 1976), Maz. Aeruginosa diisolasi dari produk yang diproduksi di apotek. Isolasi strain yang sama dari organisme ini dari lingkungan dalam apotek menunjukkan bahwa sumber kontaminasi dalam banyak produk. Ketika kontrol lingkungan yang ketat prodedures diterapkan, isolasi produk tingkat untuk Mzm. Aeruginosa jatuh ke 2 – 3%.

Kontaminan lingkungan permukaan kering seperti lantai dan dinding terdiri dari batang terutama Gram positif, kokus dan spora jamur. Bakteri Gram-negatif lebih rentan terhadap efek mematikan saat pengeringan, tetapi sejumlah kecil dapat bertahan pada permukaan kering untuk waktu yang cukup (Scott dan Bloomfield 1990). Di daerah basah seperti tenggelam dan mengalir, terutama di mana air tergenang, spesies seperti Pseudomonas dan Acinetobacter dapat bertahan dan tumbuh. Kontaminasi udara terutama berhubungan dengan debu dan skala kulit, sebagian besar jamur dan spora bakteri dan kulit coccus. Baca Bab 3 untuk pembahasan lebih rinci tentang pencemaran lingkungan.

Kontaminasi dari operator proses dianggap sebagai bahaya yang signifikan. Selama aktivitas normal, hilangnya scales kulit akan mudah terkontaminasi dengan spesies dari flora kulit normal. Terutama non-patogen micrococci, diphtheroid dan staphylococci tetapi mungkin juga termasuk Staphylococcus aureus sebagai bagian dari flora kulit normal. Organisme lain (misalnya Salmonella dan E. coli),  juga dapat dilakukan transiently pada permukaan kulit dimana praktek-praktek higienis yang buruk oleh operator; berpotensi ini bisa dimasuk ke dalam produk melalui scales kulit dan langsung kontak. Pengendalian pencemaran manufaktur dibahas lebih lanjut dalam Bab 3, 4 dan 5.

Wadah produk dan penutupan harus bersih bakteriologis. Mereka harus secara memadai dirancang dan dibangun untuk melindungi produk. Ini sangat penting terutama dengan cairan steril. Felts dkk. (1972) melaporkan kontaminasi cairan intravena dengan jenis Erwinia, Enterobacter dan Pseudomonas. Menjadi terkontaminasi ketika botol semprot-didinginkan dengan air keran berikut sterilisasi. Dalam insiden lain dilaporkan (Phillips et al. 1972), kontaminasi cairan infus untuk menyemprotkan-pendingin air yang terkontaminasi dengan Mzm. Thomasii mendapatkan ingress untuk botol infus. Percobaan lebih lanjut menunjukkan bahwa sejumlah kecil air terperangkap karet dan dalam benang sekrup dari leher botol (Coles dan Tredree 1972). Robertson (1970) melaporkan kontaminasi infus glukosa salin dengan Trichoderma dan Penicillium spp. Disebabkan oleh penggunaan botol infus retak. Masalah serupa juga dilaporkan oleh Sack (1970) dan Daisy dkk. (1979).

Selain kontaminasi yang timbul dari bahan baku dan selama pembuatan, produk dapat menjadi terkontaminasi selama penyimpanan dan penggunaan .tipe dan tingkat kontaminasi hampir tidak mungkin untuk diprediksi dan hanya data yang  terbatas yang tersedia. Produk topikal, terutama yang dikemas dalam pot, berada pada risiko tertentu; Baird et al. (1979a) melakukan penelitian terhadap kontaminasi  dari obat-obatan topikal digunakan untuk pengobatan luka . Dalam sampel yang diambil dari dua rumah sakit, 20-25% ditemukan terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginasa (jumlah berkisar 102-106 cfu g-1) dan 21-59% dengan Staph. Aureus (jumlah berkisar 102-104 cfug-1). Dalam sebuah rumah sakit ketiga organisme ini tidak terisolasi dari setiap produk. Pada penyelidikan lebih lanjut ditemukan bahwa perawat di rumah sakit menghapus krim dari wadah dengan tangan kosong, sementara di rumah sakit obat-obatan ketiga krim dikeluarkan dari pot dengan spatulae dan diterapkan dengan tangan memakai sarung tangan. Pengenalan prosedur ini dikombinasikan dengan penggunaan produk dikemas dalam tabung menyebabkan tingkat isolasi untuk jatuh ke 0,4% dan 5% untuk Mzm. Aeruginosa dan Staph. Aureus, masing-masing. Dalam sebuah penelitian obat-obatan topikal yang sama yang digunakan oleh pasien di rumah sakit penyakit kulit, ditemukan bahwa 73% dari 41 sampel salep pengemulsi terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa, dengan jumlah berkisar from104 sampai 106 cfu g-1 (Baird et al. 1980). Proteus spp. Dan Staph. Aureus juga diisolasi dari beberapa sampel. Savin (1967) melaporkan sebuah studi dari 194 pot krim dan salep dimana enam ditemukan mengandung flora kulit dan sebagian mengandung coliform yang tidak ada dalam sampel dari apotek.

Dalam penggunaan obat-obatan kontaminasi digunakan di lingkungan rumah sakit dipelajari oleh Baird dan Petrie (1981). Dari 445 produk sampel, 25,6% ditemukan terkontaminasi, terutama dengan aerobik Gram-positif batang, meskipun batang Gram positif kokus dan Gram-negatif juga ditemukan 2,9% dan 3,1% dari sampel. Sebagian besar Gram-negatif isolat diidentifikasi sebagai Pseudomonas spp, tapi dalam survei Maz. Aeruginosa tidak ditemukan. Jumlah bervariasi antara 102 dan lebih dari 106 cfu ml-1. Sebuah survei kontaminasi mikroba produk farmasi di rumah dilaporkan oleh Baird et al. (1979b). Organisme yang layak itu dari 14% dari 1977 sampel diperiksa. Satu masalah yang dihadapi adalah kurangnya informasi tentang kualitas mikroba sampel tapi itu umumnya menyimpulkan bahwa obat-obatan digunakan di rumah kurang rentan terhadap kontaminasi daripada yang digunakan di rumah sakit.

Sedangkan kontaminasi produk steril selama manufaktur sekarang jarang, kontaminasi cairan intravena dan aparat selama penggunaan klinis masih terjadi. Dari survei literatur (1971 – 1983), Denyer (1984) menyimpulkan bahwa kontaminasi ‘yang digunakan’ cairan intravena dari wadah botol dan wadah plastik drop adalah dari urutan 4,3% dan 2,6%, masing-masing, meskipun secara umum organisme dalam jumlah rendah.

Dalam mengevaluasi hasil ‘di-gunakan’ survei kontaminasi mikroba, harus diingat bahwa tingkat kontaminasi  dalam produk yang digunakan tidak hanya mencerminkan bioburden oleh pasien tetapi juga karakteristik kelangsungan hidup dari kontaminan dalam produk.

 

4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SURVIVAL DAN PERTUMBUHAN ORGANISME DALAM PRODUK

Kualitas mikroba obat-obatan tidak hanya ditentukan oleh jenis dan tingkat organisme yang masuk selama pembuatan, penyimpanan dan penggunaan, tetapi juga oleh perilaku berikutnya dalam produk. Sedangkan sejumlah kecil organisme masuk ke produk selama penggunaan pembuatan mungkin menjadi  konsekuensi pasien, di mana organisme ini mengalami multiplikasi berikutnya dalam produk bahaya infeksi akan meningkat secara signifikan, guyne (1973) dan Felts dkk. (1972) menunjukkan bahwa ketika sejumlah kecil spesies seperti E. coli, Ps. Aeruginosa, Klebsiella pneumoniane, Staph. Aureus dan STAP. Epidemidis masuk ke dalam solusi intravena garam, Ringer-laktat dan dekstrosa 5%, basil Gram-negatif meningkat dalam populasi selama 24 jam sedangkan coccus Gram-positif tetap stasioner atau meninggal off. Dalam semua kasus pertumbuhan, jumlah bakteri dari 106 cfu ml-1 dicatat meskipun solusi tidak menunjukkan kekeruhan terlihat.

Banyak faktor fisikokimia dapat mempengaruhi nasib mikro-organisme memasuki sebuah produk, dalam praktik banyak produk yang disiapkan sendiri sehingga kontaminasi residu berkurang ke tingkat yang rendah selama penyimpanan tidak terdeteksi.

Sebagai mikro-organisme memiliki persyaratan mutlak bagi aktivitas air, air dan ketersediaan air memiliki efek pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Meskipun produk kering kurang rentan daripada produk berair, kontaminasi dan pembusukan bentuk sediaan padat telah dilaporkan dalam literatur pada beberapa kesempatan (Kallings et al 1966; Lang et al 1967; Komarmy et al 1967; Eikhoff 1967…: Beveridge 1975). Faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan kontaminasi mikroba dalam bentuk sediaan padat oral telah dipelajari oleh Blair (1989).

Sejak mikro-organisme tumbuh optimal pada pH netral formulasi atau dekat netral yang asam atau alkali dalam karakter jelas kurang rentan terhadap pembusukan. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah ketersediaan hara, tekanan osmotik, tegangan permukaan, oksigen dan ketersediaan hara (lihat Chapter1). Potensi untuk eksploitasi diri-melestarikan sifat formulasi farmasi diilustrasikan oleh hasil survei PHLS (Anon. 1971a), secara umum, ditemukan bahwa jumlah mikroba yang rendah dikaitkan dengan produk dari ketersediaan air yang rendah, pH rendah dan tinggi sukrosa konten.

 

5. PEMBUSUKAN MIKROBA PRODUK FARMASI

Kemampuan mikro-organisme untuk menghasilkan kerugian degradatif dalam produk tergantung pada kemampuan mereka untuk mensintesis enzim yang sesuai. Fakta bahwa obat-obatan, kosmetik, makanan dan produk lainnya jauh lebih beresiko berasal dari kenyataan bahwa mikro-organisme sangat fleksibel dan adaptif dalam kemampuan mereka untuk mensintesis enzim degradatif. (bakteri, ragi suatu cetakan) kemampuan degradatif bervariasi seperti spesies yang sering terlibat. Degradatif separuh kehidupan untuk konstituen formulasi individu dapat bervariasi dari beberapa jam hingga beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun tergantung pada sifat dari molekul, lingkungan produk, jumlah dan jenis organisme dan apakah metabolit asal yang diproduksi mendukung pertumbuhan lebih lanjut.

Rendah berat molekul substrat seperti gula, asam amino, asam organik dan gliserol dipecah oleh jalur katabolik primer (lihat Bab 1). Enzim-enzim untuk jalur ini konstitutif dalam berbagai organisme. Sebagian besar senyawa kepentingan farmasi, bagaimanapun, molekul-molekul tinggi-berat badan atau aromatik dan lebih tahan terhadap degradasi sehingga enzim yang bertanggung jawab diproduksi oleh berbagai organisme yang lebih kecil.

Kerusakan protein, polisakarida dan lipid yang dibawa oleh proteinase dan peptidases, polysaccharidases dan lipase, masing-masing (lihat Bab 1). Banyak dari enzim ini memiliki spesifisitas substrat rendah dan akan menyerang berbagai senyawa dalam kelompok. Polisakarida mampu hidrolisis pati, agar dan selulosa yang dihasilkan oleh berbagai organisme termasuk Bacillus, Pseudomonas dan Clostridium. Produksi amilase-sangat lazim di Bacillus spp / spesies ini, bersama dengan Aspergillus dan Penicillium spp, merupakan sumber yang paling umum dari enzim proteinase dan peptidase menyebabkan kerusakan senyawa seperti gelatin. Produksi lipase kurang luas dan terjadi paling sering antara cetakan – maka alasan bahwa pembusukan krim dan emulsi umumnya karena pertumbuhan jamur.

Kemampuan organisme tertentu untuk menurunkan senyawa aromatik dan hidrokarbon rantai panjang yang luar biasa karena jenis molekul yang stabil untuk menyerang oleh banyak agen aktif kimia. Namun, dibatasi untuk kelompok terbatas bakteri, yang paling menonjol menjadi pseudomonad dan terkait Gram-negatif spesies, dan beberapa jamur. Kapasitas untuk mendegradasi senyawa aromatik karena sintesis enzim yang mengkatalisis penggabungan oxygenase langsung dari oksigen ke dalam molekul substrat. Untuk molekul aromatik, pengenalan gugus hidroksil, dikatalisis oleh enzim oksigenase, efek resonansi yang stabil dari cincin benzena, sehingga membuat lebih rentan terhadap serangan oleh enzim yang mengkatalisis oksigenase lanjut pembukaan cincin. Produk fisi cincin kemudian lebih lanjut dimetabolisme, memproduksi intermediet dari siklus trikarboksilat yang pada gilirannya dimetabolisme melalui siklus itu. Jalur kemungkinan untuk degradasi asam asetilsalisilat oleh Acinetobacter lwoffii, sebagaimana dijelaskan oleh Grant et al. (1970), diilustrasikan pada Gambar. 1.

Produk pembusukan yang timbul dari degradasi enzimatik dapat memanifestasikan dirinya dalam beberapa cara. Rincian dari bahan aktif akan menyebabkan hilangnya potensi. Atau degradasi komponen formulasi mungkin terjadi terkait dengan pengiriman dosis yang tidak efisien dan bioavailabilitas berkurang. Kerusakan formulasi diamati, seperti produksi pigmen dan bau berbahaya, akan membuat produk tidak dapat diterima pasien, aktivitas mikroba dalam produk tersebut juga dapat menghasilkan produksi racun berpotensi berbahaya atau degradasi pengawet memungkinkan pertumbuhan spesies kontaminan lainnya.

 

5.1 Perincian bahan aktif

Percobaan laboratorium menunjukkan berbagai agen terapi yang dapat terdegradasi oleh enzim mikroba. Degradasi antibiotik, khususnya penisilin degradasi oleh β-laktamase, telah dipelajari secara ekstensif, seperti ditinjau oleh franklin dan Snow (1989). Enzim mikroba yang menurunkan kloramfenikol telah dikenal sejak 1949 (Smith dan Worrel 1949) Studi laboratorium dari degradasi mikroba senyawa seperti aspirin, parasetamol phenacetin dan (Grant 1970,

1971; Grant dan Wilson 1973; Hart dan Orr 1974), alkaloid (Bucherer 1965; Hibah 1973;. Kedzia dkk 1982) telah dilaporkan dalam literatur. Dalam beberapa kasus jalur degradatif telah dijelaskan. Laporan transformasi mikroba molekul biologis aktif dalam produk diformulasikan telah baru-baru ditinjau oleh Denyer (1988) seperti ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4 – transformasi Mikroba senyawa biologis aktif dalam produk diformulasikan

Produk

Transformasi

Organisme

Referensi

Syrup of Tolu Cinnamic acid→toluene-like product Penicillium s  pp. Wills (1958)
Atropine eye-drops Loss of atropine Corynebacterium spp.

Pseudomonas spp.

Kedzia et al.(1961)

Beveridge (1975)

Belladonna and ipecacuanha paediatric mixture BPC Loss of atropine Mixed flora  
Aspirin mixture Aspirin hydrolysis - Beveridge (unpublished)
Paracetamol Mixture Paracetamol degradation - Beveridge (unpublished)
Aspirin and codeine tablets BP Aspirin hydrolysis - Denyer (unpublished)
Prednisolone tablets Localized steroid transformation Aspergillus spp. Beveridge (1987, and unpublished)
Hydrocortisone cream Hydrocortisone androst-4-ene-11-ol-3:17 dione Cladosporium herbarium Cox and Sewell (1968)
Rose-hip preparation Destruction of vitamin C Anaerobic bacteria Beveridge (unpublished)

Dicetak ulang dengan izin dari Elsevier Sains Terapan dari Denyer (1988).

 

5.2 Produksi racun

Beberapa spesies mikro-organisme mampu melepaskan metabolit toksik yang mungkin menjadikan produk tersebut berbahaya bagi pasien. Mungkin yang paling penting dari ini dalam kaitannya dengan produk farmasi pirogen. Ini adalah terutama lipopolisakarida komponen Gram-negatif dinding sel bakteri yang dapat menyebabkan reaksi demam akut jika diperkenalkan secara langsung ke dalam aliran darah. Racun ini adalah panas yang stabil dan dapat hadir bahkan ketika organisme yang layak tidak lagi terdeteksi. Mereka, bagaimanapun, hanya kurang teradsorpsi melalui saluran pencernaan dan karena itu penting kecil dalam persiapan oral.

Racun bakteri yang berhubungan dengan makanan poising akut wabah belum dilaporkan dalam obat-obatan, meskipun kehadiran menghasilkan racun Bacillus cereus (Arribas et al. 1988) dan aflatoksin penghasil Aspergillus flavus (Hikoto et al. 1978) telah terdeteksi . Telah ditunjukkan eksperimental bahwa pati farmasi dapat mendukung pembentukan mikotoksin ketika artifisial diinokulasi dengan strain racun Aspergillus (Fernandez dan Genis 1970). Toksin productiooon dalam farmasi telah dibahas lebih lanjut oleh Wallhaeusser (1977).

 

5.3 Rumusan umum rincian

Pembusukan biasanya diamati sebagai hasil dari gangguan umum formulasi. Formulasi yang kompleks sangat rentan terhadap pembusukan jenis, yang mungkin melibatkan fenomena seperti retak atau creaming emulsi kerusakan formulasi, seperti ditinjau oleh Denyer (1988), ditunjukkan dalam Tabel 5. Perubahan ini tidak hanya akan membuat produk estetis tidak dapat diterima tetapi juga dapat mempengaruhi pengiriman dosis melalui pemisahan pparticles ditangguhkan atau fase berminyak diemulsikan, atau altertation ofdrug charactristics rilis dari permukaan yang rusak tablet. Perubahan fisikokimia pada gilirannya menjadi efek dari banyak peristiwa degradatif yang berbeda dalam produk.

 

5.3.1 Degradasi surfaktan

Banyak dari surfaktan yang digunakan dalam emulsi farmasi mengalami degradasi mikroba, terutama surfaktan non-ionik. Kemampuan untuk menurunkan molekul surfaktan lagi terbatas pada rentang kecil organisme, terutama pseudomonad. Kerentanan terhadap biodegradasi tergantung pada struktur kimia, biodegradasi menurun karena panjang rantai hidrokarbon dan derajat percabangan rantai meningkat. Formulasi yang mengandung surfaktan anionik biasanya cukup terlindung dengan baik karena sifat alkalin dari formulasi. Namun demikian sulfat dan alkil sulfonat ester alkilbenzen dan dapat dihidrolisis dengan alkohol yang sesuai, yang kemudian diubah menjadi asam lemak. ω-Oksidasi dari kelompok metil terminal kemudian diikuti oleh β-oksidasi rantai hidrokarbon dan fisi dari cincin aromatik.

Banyak surfaktan non-ionik yang ditemukan dapat terurai, meskipun jalur degradasi mungkin belum dijelaskan, ini umumnya melibatkan jalur hidrolitik dan oksidatif. Biodegradasi surfaktan telah ditinjau oleh Swisher (1987).

Tabel 5 – Produk menderita perubahan degradatif diamati berikut kontaminasi mikroba

Tipe produk Contoh Perubahan yang diamati pembusukan organisme referensi
Solusi dan campuran Solusi sederhana berair kekeruhan Ganggang, jamur, bakteri, ragi Smart and Spooner (1972)
  Konsentrat dill air Pertumbuhan terlihat Penicillium roqueforti Parker and Barnes (1967)
  Campuran pencernaan Perubahan warna(putih ke hitam) Sulphate reducers Spooner (1988)
  Magnesium Ammoniacal Coliforms Robinson (1971)
  Hydroxida antacids bau    
Suspending/ thickening agents Carboxmethylcellulose gels/ lubricants Hilangnya viskositas Trichoderma spp. Beveridge (1975)
  Pati, tragakan Lendir akasia Hilangnya viskositas - Beveridge (1975)
  Tragacanth mucilage Fermentasi (alcohol dan gas) Ragi Denyer (unpublished)
Sirup Syrup BP Fermentasi Osmotoletant yeasts Westwood and Pin-Lim (1971)
  Syrup-containing cough remedies Microbial deposits Osmotolerant moulds Smart and Spooner (1972)
Emulsi Oil-water olive oil emulsions Pemisahan fase, perubahan warna, rasa tidak enak dan bau Trichoderma viride, Ps. Aeruginosa, Asp. Flavus, Asp. Niger. Beveridge (1975)
Krim Calamine Terlihat pertumbuhan Mould Smart and spooner (1972)
  Cosmetik Terlihat pertumbuhan Penicillium spp. Parker and Barnes (1967)
Tablets Aspirin and codeine BP Permukaan perubahan warna dan bau asam asetat - Denyer (unpublished)
  Nitrazepam Perubahan warna, dan bau asam asetat    
  Prednisolone Permukaan Aspergillus spp. Beveridge (unpublished
  Sugar-coated tablets Disintegrasi dan ‘mengadu’ lapisan Penicillium spp. Aspergillus spp. Parker and Barners (1967)

Dicetak ulang dengan izin dari Elsevier Sains Terapan dari Denyer (1988).

5.3.2 Degradasi penebalan dan menangguhkan agen

Berbagai macam bahan yang digunakan dalam obat-obatan untuk tujuan ini, banyak yang oleh enzim ekstraseluler biodegradable. Degradasi ini menghasilkan monomer polimer molekul seperti gula yang berfungsi sebagai substrat untuk pertumbuhan dan efek pembusukan lebih lanjut. Pati, akasia carboxymethylcelluloses natrium, dan dextran semua biodegradable. Agar-agar tahan terhadap serangan meskipun merendahkan agar-organisme memang ada. Polyethylene glikol kecuali yang berat molekul tinggi yang terdegradasi, meskipun polimer yang digunakan dalam kemasan umumnya tahan. Gelatin dihidrolisis oleh berbagai macam sering terjadi mikro-organisme.

 

5.3.3 Pemanfaatan humektan dan co-pelarut

Gliserol dan sorbitol mendukung pertumbuhan mikroba pada konsentrasi rendah. Pada konsentrasi rendah alkohol dapat berfungsi sebagai substrat untuk pertumbuhan.

 

5.3.4 Degradasi agen pemanis, penyedap dan pewarna

Gula dan agen pemanis lainnya dapat bertindak sebagai substrat untuk serangan mikroba, terutama oleh ragi osmophilic. Suspensi atau emulsi oral yang mengandung gula bertanggung jawab untuk fermentasi dan produksi gas dan asam yang mungkin cukup untuk mengubah stabilitas formulasi, solusi stok agen penyedap dan pewarna, dan larutan garam bahkan sederhana seperti kalium sitrat dan kalsium glukonat, akan mendukung pertumbuhan gizi non-bakteri dan ragi menuntut.

 

5.3.5 Degradasi minyak dan emulsi

Mikro-organisme tidak tumbuh di lingkungan non-air, namun dalam suatu sistem emulsi mereka dapat tumbuh dalam fase berair memproduksi enzim lipolitik yang menyerang komponen trigliserida minyak pada gliserol antarmuka minyak-air membebaskan dan asam lemak. Asam lemak selanjutnya dapat dimetabolisme oleh β-oksidasi rantai alkil dengan produksi keton. Gliserol adalah substrat dapat dipakai untuk banyak organisme. Beberapa wawasan pembusukan sistem emulsi telah diperoleh dari penelitian terhadap pemecahan minyak pemotongan rekayasa (guyne dan Bennett 1959).

Salep dan minyak kurang rentan terhadap serangan, tetapi pembusukan banyak terjadi di mana produk-produk ini mengandung jejak air terkondensasi atau disimpan dalam suasana lembab. Pembusukan minyak Arachis dan parafin cair telah dilaporkan (Rivers dan Walters 1966).

 

5.4 Geneal penurunan penerimaan produk

Perubahan formulasi produk tidak hanya mempengaruhi potensi terapi tetapi juga dapat membuat produk dapat diterima pasien. Selain itu, perubahan lainnya yang melibatkan degradasi mikroba dengan produksi bahan sisa metabolisme dapat membuat produk estetis tidak dapat diterima. Contoh senyawa tersebut meliputi sulfida hidrogen, amina, keton, asam lemak, alkohol atau amonia, yang memberikan bau beracun atau terasa tidak menyenangkan untuk produk. Produk mungkin menjadi berubah warna oleh berbagai pigmen mikroba; organisme yang paling sering terlibat adalah pseudomonad, yang memproduksi pigmen; organisme yang paling sering terlibat adalah pseudomonad, yang memproduksi pigmen bervariasi dari biru menjadi coklat.

Tanda paling jelas dari pembusukan adalah pertumbuhan terlihat baik sebagai koloni atau kulit tipis pada permukaan produk. Atau polimerisasi molekul gula atau sirup atau surfaktan dalam shampoo menghasilkan massa berlendir kental dalam produk, sementara agregasi dari bahan dapat menghasilkan sedimen dalam produk cair atau tekstur berpasir dalam krim.

 

5.5 Degradasi pengawet

Meskipun agen antimikroba digunakan dalam produk farmasi untuk mencegah pembusukan, bahan pengawet yang umum digunakan banyak sendiri terdegradasi oleh mikroorganisme, terutama pseudomonad tetapi juga spesies Acinetobacter, Moracella dan Nocardia. Pengawet diketahui rentan terhadap degradasi termasuk klorheksidin, cetrimide, phenolic, phenyletly alkohol, asam benzoat, benzalkonium klorida dan p-hydroxybenzoates (Beveridge dan Hugo 1964a, 1964b; Hugo dan Foster 1964; Beveridge dan Tinggi 1969; Beveridge dan Hart 1970; Hibah 1970; Hart 1970;. kido et al 1988).

 

6. INFEKSI BAHAYA DARI KONTAMINASI MIKROBA FARMASI

Pengalaman telah menunjukkan bahwa produk tersebut mungkin tidak menunjukkan bukti sensorik kontaminasi tapi masih mungkin mengandung populasi mikroba yang tumbuh. Pada orang dewasa sehat yang normal ini merupakan masalah kecil kecuali organisme adalah patogen utama, tetapi jika pengguna immunocompromised dengan cara apapun, atau produk diperkenalkan ke daerah biasanya steril tubuh atau diterapkan pada kulit rusak, selaput lendir atau mata, infeksi dapat terjadi. Signifikansi klinis dari mikro-organisme dalam obat-obatan yang terakhir oleh Parker (1972) dan ringertz dan Ringertz (1982). Secara keseluruhan risiko infeksi tergantung pada empat faktor.

 

6.1 Jenis organisme

Dari organisme yang telah diisolasi dari produk farmasi, Salmonella adalah satu-satunya yang harus dianggap sebagai patogen utama, i, e. suatu organisme yang menghasilkan penyakit bahkan ketika tidak sengaja diberikan. Sebagian besar patogen primer tidak bertahan dengan baik di luar tubuh manusia atau hewan. Sebaliknya, organisme patogen dianggap sebagai potensial atau bersyarat telah cukup sering dilaporkan sebagai pencemar obat-obatan. Ini umumnya tidak berbahaya bagi orang dewasa normal dan sehat, tetapi mudah menjadi menular dimana mekanisme resistensi terganggu. Patogen oportunis tersebut termasuk pseudomonad dan enterobacteria dan spesies flavobacterium dan Staphylococcus.

Dari Enterobacteriaceae itu adalah spesies yang hidup bebas (Enterobacter, Klebsiella, Serratia) yang sebagian besar biasanya terjadi pada obat-obatan, walaupun dapat menyebabkan penyakit spesies ini tidak biasanya ditemukan sebagai bagian dari flora tubuh normal. Sebaliknya, spesies seperti E. coli, Proteus spp. Dan beberapa spesies Klebsiella biasanya ditemukan sebagai bagian dari flora tubuh normal, walaupun tidak berbahaya dalam usus, mereka mudah menyebabkan penyakit jika dipindahkan ke daerah lain. Organisme ini hanya memiliki kemampuan terbatas untuk bertahan hidup di luar tubuh dan kurang sering ditemukan sebagai pencemar obat-obatan.

Mzm. Aeruginosa adalah organisme hidup bebas. Meskipun hadir sebagai bagian dari flora usus normal hanya sekitar 4-6% dari populasi normal, itu mudah akan menyebabkan infeksi pada luka atau luka bakar. Pseudomonas cepacia lain hidup bebas spesies yang telah menyebabkan infeksi pada sejumlah kesempatan (Levey dan Guinness 1981;. Berkelman et al 1984). Flavobacterium meningosepticum adalah spesies ditularkan melalui air berpigmen yang dapat menyebabkan sepsis umum berat pada bayi (Parker 1972). Sampai dengan 30% dari populasi mungkin pembawa baik persisten atau intermiten Staph.aureus (Armstrong-Ester dan Smith 1976), walaupun organisme ini tidak berkembang di luar tubuh, sangat tahan terhadap pengeringan dan dapat bertahan dalam produk-produk untuk substansial periode waktu.

Spesies lain yang paling sering terlibat dalam infeksi nosokomial oportunistik termasuk Acinetobacter anitratus, Staph. Epidermidis, dan pyogencs Streptococcus. Namun, tidak satupun dari organisme tersebut belum pasti impicated wabah karena obat-obatan yang terkontaminasi.

 

6.2 Dosis infektif

Pengamatan tercatat dalam literatur menunjukkan bahwa ‘infektif dosis’ dari suatu organisme dapat bervariasi dan tergantung pada beberapa faktor. Diberikan secara oral, dosis cukup besar mungkin diperlukan; eksperimen dengan orang dewasa yang sehat menunjukkan bahwa dosis infektif Salmonella atau E. coli dapat setinggi 106-107 organisme atau serendah 102-103, tergantung pada spesies yang terlibat (McCullough dan Eisele 1951; Ferguson dan Juni 1952). Wabah melibatkan coklat dan keju Cheddar menunjukkan bahwa dosis infektif untuk Salmonella dapat sesedikit 50 – 100 organisme, dan kurang dari sepuluh organisme, masing-masing (Gill et al 1983; Greenwood dan Hooper 1983; D’Aoust 1985.). Pada anak-anak sangat kecil dosis infektif untuk Salmonella dapat serendah 200. uang dan Cooke (1969) menemukan bahwa konsumsi minimal 106 Ps. Aeruginosa mungkin diperlukan untuk kolonisasi usus orang normal.

Sejauh preparat topikal yang bersangkutan, percobaan dengan sukarelawan sehat menunjukkan bahwa inokulum hingga 106 Staph. Aureus mungkin diperlukan untuk menghasilkan nanah, namun sesedikit 102 mungkin cukup di mana kulit trauma atau tersumbat (Marples 1976). Menurut Crompton dkk. (1962), suntikan pada mata dari sesedikit 60 sel dari Ps. Aeruginosa cukup untuk menyebabkan infeksi pada kelinci. Lecet bahkan relatif sepele mata secara substansial dapat meningkatkan risiko infeksi.

 

6.3 Host resistensi terhadap infeksi

Meskipun dalam kebanyakan situasi orang dewasa sehat normal memiliki ketahanan yang memadai terhadap infeksi, produk farmasi sering diberikan kepada orang-orang yang tubuhnya pertahanan terhadap infeksi terganggu. Situasi ini mungkin timbul pada pasien dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya seperti leukemia atau diabetes. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan terapi obat imunosupresif yang mungkin termasuk pengobatan steroid atau kemoterapi. Perlawanan lokal Gangguan berhubungan dengan luka bedah dan kecelakaan, luka bakar dan luka tekanan. Hal ini juga sering dikaitkan dengan memasukkan kateter atau perangkat bedah lainnya. Pasien geriatri dan bayi, khususnya selama beberapa hari pertama kehidupan, menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.

 

6.4 Rute administrasi

Infeksi risiko yang terkait dengan farmasi yang terkontaminasi akan sangat tergantung pada penggunaan yang dimaksudkan. Secara umum, risiko infeksi akan jauh berkurang untuk obat yang diberikan secara lisan atau diterapkan pada kulit utuh dibandingkan dengan formulasi yang digunakan untuk perawatan kulit atau selaput lendir terkelupas, atau mata yang rusak.

Untuk produk yang diperkenalkan ke daerah biasanya steril tubuh, potensi risiko cukup besar. Sebuah tinjauan baru-baru kontaminasi mikroba cairan intravena selama penggunaan (Denyer 1984) menunjukkan bahwa jumlah kecil terutama organisme non-patogen umumnya ditoleransi dengan baik dan infeksi yang jarang terjadi.

Meskipun, seperti dibahas sebelumnya dalam bab ini, beberapa studi terkontrol dengan relawan dewasa yang sehat telah digunakan untuk menilai risiko infeksi, sebagian besar pengetahuan kita tentang signifikansi klinis kontaminasi dalam produk obat berasal dari laporan yang diterbitkan wabah infeksi dari penggunaan produk tersebut. Ini adalah terakhir dalam bagian berikut.

 

6.4.1 Oral obat-obatan

Sastra berisi beberapa laporan wabah infeksi Salmonella dihasilkan dari produk oral terkontaminasi. Pada tahun 1966 wabah infeksi pada 202 pasien di Swedia kemudian ditelusuri ke tablet tiroid yang ditemukan mengandung Salmonella Bareilly, Salmonella munchen dan lain dan organisme lainnya feses lebih dari 106 cfu g-1 (Kallings dkk 1966;. Kalling 1973). Pada tahun 1967 sejumlah kasus gastro-usus infeksi saluran di Amerika Serikat dijiplak untuk kapsul carmine terkontaminasi dengan Salmonella Cubana (Lang et al 1967; Komarmy et al 1967;. Elkhoff 1967). Infeksi Salmonella agona dari berhubungan dengan pancreatin terkontaminasi dilaporkan dalam dua anak (Glen lintas 1972). Shwarzengrund dan Salmonella Salmonella eimsbuttel juga ditemukan dalam batch infeksi pancreatin menyebabkan dua anak dengan fibrosis kistik (Rowe dan Hall 1975).

Shooter dkk. (1969) melaporkan kolonisasi usus (meskipun tidak infeksi) dari sejumlah pasien rumah sakit setelah pemberian sengaja air peppermint mengandung 106 cfu ml-1 Ps.aeruginosa.

Baru-baru ini wabah septikemia yang disebabkan oleh penggunaan obat kumur timol terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa tercatat (Stephenson dkk, 1984). Millership dkk. (1986) juga melaporkan kolonisasi pasien dari penggunaan obat kumur bangsal komunal dan feed yang sangat terkontaminasi dengan coliform.

 

6.4.2 Topikal administrasi

Meskipun kulit utuh muncul sebagai penghalang yang efisien terhadap infeksi, untuk kulit yang rusak risiko infeksi meningkat secara substansial. Multidose kontainer, terutama yang digunakan oleh lebih dari satu orang, rentan terhadap kontaminasi, terutama dalam situasi rumah sakit, dan ada laporan dari wabah infeksi dari penerapan produk tersebut.

Salah satu laporan awal adalah wabah fatal infeksi Clostridium tetani pada bayi disebabkan oleh daya talek terkontaminasi (Tremewen 1946; Hills 1946). Pada tahun 1966, Mulia dan Savin melaporkan sejumlah kasus lesi kulit yang dijiplak untuk krim betametason terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa (Morse et al 1967.). McCormack dan Kunin (1966) disebabkan wabah sepsis pusar untuk marcescens Serratia dalam larutan garam digunakan untuk membasahi sisa tali pusat. Pada tahun 1967, krim tangan di unit terapi intensif (Morse et al 1967.). Bassett et al. (1970) diisolasi Pseudomonas multivorans dari luka opetation terinfeksi di sembilan patiens rumah sakit, sumber infeksi subsewuently ditelusuri ke disinfektan klorheksidin-cetrimide diencerkan ditemukan terkontaminasi dengan 106 pseudomonad per mililiter. Kolonisasi dan infeksi dengan Mzm. Aeruginosa yang timbul dari penggunaan deterjen yang terkontaminasi, desinfektan dan obat-obatan topikal termasuk seng berbasis krim dan salep pengemulsi penghalang juga dilaporkan oleh Victorin (1967), Cooke et al. (1970), Baird dan Shooter (1976), dan Baird et al. (1979a, 1980). Baru-baru ini, salveson dan Bergen (1981) melaporkan kontaminasi dari berbagai organisme dalam krim tangan chlorhexidine digunakan untuk mencegah infeksi pada pasien kateter, penggunaan krim terkontaminasi dikaitkan dengan infeksi saluran kemih pada sejumlah pasien. Klinis infeksi berikut aplikasi larutan antiseptik iodophor terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa dan Mazmur. Cepacia juga telah dilaporkan oleh Nuri dkk. (1982) dan Berkelman dkk. (1984).

 

6.4.3 Infeksi pernapasan

Infeksi saluran pernapasan nosokomial melibatkan bakteri Gram-negatif telah dilaporkan cukup sering dan dalam hal tertentu ini telah dilacak untuk nebulizers dan humidifier yang digunakan dalam terapi inhalasi (Favero dkk 1971;. Pierce dan Sanford 1973; Petersen et al 1978.). Dalam dua kasus, solusi aerosol yang terkontaminasi dengan Klebsiella spp. Dan Ser. Marcescens (Sanders et al. 1970) telah terlibat sebagai penyebab infeksi paru. Wabah infeksi pernapasan juga ditelusuri untuk tabung endotrakeal dilumasi dengan jelly lignokain terkontaminasi (kallings et al. 1966).


6.4.4 Desinfektan

Meskipun disinfektan digunakan untuk membunuh mikro-organisme, beberapa spesies Gram-negatif, terutama pseudomonad, bisa mendapatkan resistensi dan tumbuh dalam larutan desinfektan, memanfaatkan desinfektan antimikroba telah ditinjau oleh Bloomfield (1988). Dari 42 insiden diselidiki, 24 dilaporkan berhubungan dengan, atau terlibat dalam, kolonisasi pasien atau wabah infeksi. Mayoritas laporan yang berkaitan dengan fenolat, amonium kuartener atau formulasi klorheksidin. Kontaminan terutama pseudomonad, khususnya Mzm. Aeroginosa dan Mazmur. Cepacia. Lain Gram-negatif spesies yang termasuk Alcaligenes faecalis, Enterobacter cloacae, Enterobacter agglomerans, E. coli, Ser. Marcescens dan F. meningosepticum. Gram-positif isolat tidak tercatat dalam kajian ini, tetapi dilaporkan dalam sebuah penelitian terbaru tentang disinfektan rumah sakit disiapkan (Nkibiasala et al. 1989).

 

6.4.5 Persiapan Kedokteran Mata

Meskipun sterilitas telah menjadi persyaratan farmakope untuk tetes mata dan lotion sejak tahun 1966, ada sejumlah laporan dalam literatur, khususnya sebelum 1966, infeksi yang dihasilkan dari penggunaan sediaan mata yang terkontaminasi. Organisme perhatian utama kembali Mzm. Aeruginosa, yang menghasilkan ulserasi kornea dan dapat menyebabkan kebutaan.

Pada tahun 1952, Theodore dan Feinstein menerbitkan kertas menunjukkan korelasi yang kuat antara infeksi Pseudomonas dalam praktek klinis dan penggunaan sediaan mata yang terkontaminasi. Allen (1959) memperkirakan bahwa di Amerika Serikat setidaknya 200 orang setiap tahun menderita kehilangan penglihatan dari penggunaan tetes mata yang terkontaminasi terkontaminasi dkk. (1964) melaporkan bukti infeksi mata dari penggunaan tetes mata terkontaminasi dengan spesies Aerobacter. Ringertz dan Ernerfeldt (1965) dan Kalling dkk. (1966) melaporkan Mzm. Aeruginosa infeksi arishing dari batch terkontaminasi neomycins menyebabkan kebutaan dari penggunaan garam terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa selama operasi intraokular. Baru-baru ini sejumlah kasus keratitis dijiplak untuk tetes mata terkontaminasi dengan Ser. Marcescens meskipun organisme tampaknya berasal dari topi penetes (Templeton et al. 1982).

Sejumlah infeksi serius dari penggunaan kosmetik mata yang terkontaminasi juga telah dilaporkan (Wilson et al 1971;. Ahearn et al 1973;. Wilson dkk 1975;. Wilson dan Ahearn 1977; reid dan kayu 1979). Organisme menginfeksi mencakup tidak hanya spesies bakteri, tetapi juga berbagai ragi dan jamur seperti Candida albicans, Fusarium spp dan Penicillium.

 

6.4.6 Mengairi cairan dan cairan dialisis

Sastra berisi beberapa laporan infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh cairan mengairi terkontaminasi (terakhir dkk 1966;. Mitchell dan Haywad 1966). KLB infeksi Pseudomonas dari catheterkit kemih terkontaminasi dijiplak untuk solusi pembersihan kuman yang terkontaminasi dengan bakteri per mililiter 103 (Hardy et al. 1970).

Hemodialisa merupakan masalah tertentu. Favero dkk. (1974) melaporkan dua kasus septikemia dari cairan dialisis terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa. Curtis et al. (1967) menggambarkan wabah bakteremia akibat kontaminasi Bacillus cereus dari cairan dialisis.

 

6.4.7 Ijeksi

Tidak diragukan lagi wabah infeksi yang paling serius yang berhubungan dengan cairan suntik yang terkontaminasi mana kejutan bacteraemic dan dalam beberapa kasus kematian pasien dapat terjadi. Pada tahun 1970, Roberson melaporkan dua kasus infeksi dari arsing penggunaan glukosa-larutan garam terkontaminasi dengan Trichoderma spp dan Pencillium. Sejumlah kasus sepsis berikut administrasi cairan dilaporkan oleh kempa dkk. (1972). Spesies Erwinia, Ent. Cloacae dan Mazmur. Stutzeri diisolasi dari cairan. Phillips et al. (1972) melaporkan wabah infeksi yang melibatkan pasien rumah sakit 40 setelah pemberian influsions terkontaminasi dengan Ps.thomasii. wabah paling terkenal di Inggris mengakibatkan kematian enam pasien rumah sakit setelah pemberian larutan dekstrosa terkontaminasi (Meers et al. 1973). Isi 155 botol batch tersangka diperiksa, dimana sekitar sepertiga yang berawan. K. aerogenes, Ent. Cloacae, Erwina herbicola, Maz. Thomasii, coryneforms dan spesies lain dari Enterobacteriaceae diisolasi dari cairan. Lapage dkk. (1973) mengidentifikasi 80 jenis baterial, terutama enterobacteria, pseudomonad dan coryneforms terkait dengan dua wabah infeksi dari cairan infus yang terkontaminasi.

 

7 GAMBARAN UMUM

Perbaikan substansial dalam kualitas mikroba produk farmasi yang diproduksi telah terlihat dalam dua puluh tahun terakhir ini. Hal ini dapat diilustrasikan dengan membandingkan hasil survei PHLS 1971 (Anon. 1971a) dengan hasil survei yang lebih baru dari rumah sakit-produk pabrikasi yang dilakukan selama periode 1975-1983 oleh Baird (1985). Dimana survei menunjukkan bahwa 2,7 PHLS% dari sampel 1220product terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa dan 15% dengan lainnya batang Gram-negatif, survei lebih baru (13 000 sampel) menunjukkan hanya dua isolat dari Ps. Aeruginosa, dengan hanya 0,24% dari sampel yang mengandung batang Gram-negatif. Meskipun perbaikan, bagaimanapun, tidak ada ruang untuk berpuas diri karena wabah infeksi terus dilaporkan dari waktu ke waktu (Baird et al 1980;. Salveson dan Bergen 1982; Stephenson et al 1984;. Millership et al, 1986.).

Mikroba kontaminasi: pembusukan dan bahaya

S.F.Bloomefield

King’s College London, Chelsea Departement of Pharmacy, Manresa Road, London, SW3 6LX, UK

 

 

  1. Pendahuluan………………………………………………………………………………….
  2. Kontaminasi produk pharmaceutical……………………………………………….
  3. Sumber kontaminasi mikroba dalam produk pharma ceutical…………………..
  4. Faktor yang mempengaruhi survival dan pertumbuhan organisme dalam produk…………………………………………………………………………………………..
  5. Pembusukan mikroba produk farmasi………………………………………………..

5.1  Perincian bahan aktif………………………………………………………………..

5.2  Produksi racun………………………………………………………………………..

5.3  Rumusan umum rincian…………………………………………………………….

5.3.1        Degradasi surfaktan……………………………………………………………..

5.3.2        Degradasi penebalan dan menangguhkan agen………………………………

5.3.3        Pemanfaatan humektan dan co-pelarut………………………………………

5.3.4        Degradasi agen pemanis, penyedap dan pewarna…………………………….

5.4  Geneal penurunan penerimaan produk………………………………………………

5.5  Degradasi pengawet………………………………………………………………………

  1. Infeksi bahaya dari kontaminasi mikroba farmasi…………………………………..

6.1  Jenis organisme………………………………………………………………………

6.2  Dosis infektif………………………………………………………………………………

6.3  Host resistensi terhadap infeksi……………………………………………………..

6.4  Rute administrasi…………………………………………………………………………

6.4.1        Oral obat-obatan……………………………………………………………………..

6.4.2        Topikal administrasi……………………………………………………………….

6.4.3        Infeksi pernapasan…………………………………………………………………..

6.4.4        Desinfektan…………………………………………………………………………..

6.4.5        Persiapan Kedokteran Mata…………………………………………………………

6.4.6        Mengairi cairan dan cairan dialisis………………………………………………

6.4.7        Injeksi…………………………………………………………………………………

  1. Gambaran umum…………………………………………………………………………….

 

1. PENDAHULUAN

Setiap produk farmasi, baik diproduksi di rumah sakit atau lingkungan industri, memiliki potensi untuk terkontaminasi dengan mikro-organisme seperti bakteri, ragi atau jamur. Kontaminasi mikroba mungkin berasal dari bahan baku atau mungkin terkontaminasi selama pembuatan. Produk juga dapat menjadi terkontaminasi selama penyimpanan dan penggunaan.

Kontaminasi mikroba pada produk farmasi merupakan potensi berbahaya karena dua alasan. Pertama, dapat menimbulkan pembusukan produk; fleksibilitas metabolisme mikro-organisme seperti bahwa setiap bahan berasal dari gula sederhana untuk molekul aromatik yang kompleks dapat mengalami modifikasi kimia dalam kehadiran suatu organisme yang cocok. Pembusukan tidak hanya akan mempengaruhi sifat terapeutik tetapi juga dapat mencegah komplen pasien. Kedua, kontaminasi produk memberikan bahaya kesehatan kepada pasien, meskipun tingkat bahaya akan bervariasi dari produk ke produk dan pasien ke pasien, tergantung pada jenis dan jumlah organisme ini, rute penyebaran dan ketahanan pasien terhadap infeksi .

Pendekatan yang paling logis untuk meminimalkan bahaya mikroba akan menentukan bahwa semua produk diproduksi sebagai produk steril dalam kemasan dosis tunggal. Meskipun produk digunakan ke daerah steril tubuh, atau berasal dari ke dalam kontak dengan mata atau produk yang digunakan  pada kulit rusak dan selaput lendir, yang diproduksi tidak sesuai dianggap tidak layak atau layak secara komersial untuk produk topikal oral atau lainnya pada saat ini . Jadi tingkat yang dapat diterima jaminan kualitas mikroba perlu ditetapkan untuk produk tersebut.

Namun, dalam upaya untuk mengatur batas mikroba yang cocok atau standar, kita dihadapkan dengan masalah, karena beberapa faktor dan beragam yang terlibat, kita tidak dapat mendefinisikan dengan tepat tingkat dan jenis kontaminasi yang merupakan bahaya dan apa yang aman. Jadi dengan membatasi kontaminasi mikroba kami hanya mengurangi risiko infeksi dan pembusukan ke tingkat ditentukan oleh pengetahuan kami saat ini dan sumber daya keuangan yang tersedia.

Dalam bab ini, pengetahuan saat ini kontaminasi mikroba produk farmasi dan bahaya terkait terakhir. Ulasan sebelumnya tentang hal ini diberikan oleh smart dan Spooner (1972), Beveridge (1975, 1987), Baird (1988) dan Spooner (1988)

 

 

 

2. KONTAMINASI PRODUK PHARMACEUTICAL

Selama tahun 1960, terutama karena keprihatinan atas meningkatnya jumlah wabah dilaporkan infeksi disebabkan obat-obatan dan kosmetik yang terkontaminasi, sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menilai sejauh mana masalah dan untuk membuat rekomendasi. Di Inggris dua penelitian telah dilakukan, satu oleh Public Health Laboratory Service (PHLS) untuk menyelidiki obat-obatan rumah sakit, dan bahan baku (Anon. 1971a, 1971b). obyek studi ini adalah untuk menilai kualitas mikroba produk diproduksi dan untuk mengidentifikasi sumber-sumber kontaminasi produk. Investigasi ekstensif juga dilakukan di negara-negara Eropa lainnya (terutama Swedia) dan Amerika Serikat. Hasil keseluruhan dari studi ini diringkas pada Tabel 1. Dari 6700 sampel diperiksa, sekitar 27% ditemukan

Tabel 1 – survei kualitas mikroba obat-obatan, perlengkapan mandi dan kosmetik.

Referensi

 

Tipe produk

Nomor
yang diselidiki

Nomor

Baker (1959) Perlengkapan mandi

5

2 (40%)

Kallings et al. (1966) Obat-obatan

134

91 (68%)

Ulrich (1968) Obat-obatan

696

535 (76%)

Hirsch et al. (1969) Obat-obatan

57

47 (82%)

Wolven and Levenstein (1969) Cosmetik

250

61 (24%)

Dunnigan and Evans (1970) Cosmetik

169

33 (20%)

Anon (1971a) Obat-obatan

1220

390 (31%)

Beveridge and Hope (1971) Obat-obatan

138

58 (42%)

Robinson (1971) Obat-obatan

279

85 (30%)

Wolven and Levenstein (1972) Cosmetics

228

8 (3%)

Ahearn et al. (1973) Cosmetik

200

3 (2%)

Baird et al. (1976) Obat-obatan

499

46 (9%)

Awad (1977) Obat-obatan

911

109 (13%)

Awad (1977) Obat-obatan

247

79 (32%)

Awad (1977) Obat-obatan

110

31 (28%)

Awad (1977) Obat-obatan

1462

184 (13%)

Baird (1977) Cosmetik

147

48 (32%)

Wallhaeusser (1978) Obat-obatan

17

12 (70%)

Total    

6764

1814 (27%)

 

Kontaminasi terdeteksi, meskipun tingkat kontaminasi bervariasi dari 2% hingga 82% sesuai dengan jenis produk. Kontaminasi tingkat untuk sampel individu berkisar dari kurang dari sepuluh organisme per sampel sampai dengan 105-106 organisme per gram atau per mililiter. Hasil khas dari survei PHLS (Tabel 2) menunjukkan bahwa.

 

Tabel 2 – Kontaminasi tarif untuk produk farmasi yang diproduksi (PHLS survei, Anon 1971a.)

Tipe produk

Persentase total kontaminasi

Persentase kontaminasi dengan > 105 g-1 or ml-1

Cairan

35%

22%

Gel

34%

15%

Minyak

26%

10%

Kering

33%

7%

Spirits

3%

3%

Total

32%

18%

 

Tingkat kontaminasi keseluruhan adalah untuk air, gel, produk berminyak dan kering, frekuensi banyak kontaminasi tergantung dengan kadar air dalam produk.

Untuk 6000 atau lebih sampel dimana isolat diidentifikasi, sebagian besar ditemukan basil Gram-positif dan micrococci; organisme ini umumnya dianggap sebagai non-patogenik. Ragi dan jamur juga sering ditemukan, terutama dalam krim dan salep. Dari spesies dianggap sebagai patogen potensial (Tabel 3) Pseudomonas aeruginosa dan pseudomonas lainnya yang paling sering diisolasi. Kontaminan lain yang dilaporkan termasuk spesies Alcaligenes, Flavobacterium, Acinetobacter, Serratia dan Citrobacter.

 

Table 3 – Kontaminan terisolasi dari 6068 pharmasetika, produk kosmetik dan perlengkapan mandi selama survei dilakukan dari 1959 sampai 1979

Contaminant

No. isolates

Ps. Aeruginosa

46

Other pseudomonads

36

E. coli

6

Staphylococcus aureus

2

Salmonella spp.

Nil

Enterobacter

5

Klebsiella spp.

6

Proteus spp.

1

aAs described in Table 1.

 

3. SUMBER KONTAMINASI MIKROBA DALAM PRODUK PHARMA CEUTICAL

Dalam rangka mengoptimalkan metode untuk mengendalikan kontaminasi mikroba obat-obatan, perlu untuk memahami sumber-sumber dan rute dari mana kontaminasi mungkin berasal. Kontaminasi mikroba dari bahan baku selalu akan ditransfer ke produk, sedangkan kontaminasi lebih lanjut mungkin diperoleh dari peralatan dan lingkungan, dari operator proses dan bahan kemasan.

Dalam bubuk kering umum asal sintetis yang digunakan sebagai bahan baku obat-obatan hasil jumlah bakteri rendah, organisme ini sedang sporebearers terutama aerobik. Sebaliknya, bubuk kering asal alami banyak terkontaminasi, kebanyakan oleh Gram-positif pembentuk spora-dan mould, dan juga dengan coliforms dan Gram-negatif spesies (Westwood dan Pin Lim 1971;. Anon 1971a, 1971b). Sumber yang paling umum dari spesies pembusukan atau patogen adalah air atau larutan stok unpreserved, misalnya, solusi seperti air peppermint dapat terkontaminasi dengan organisme Gram-negatif jika tidak disiapkan dengan baik atau jika tidak benar disimpan.  Spesies  Gram-negatif yang terbawa air yang dapat tumbuh, bahkan dalam air suling, Acinetobacter, Achromobacter, Enterobacter, dan Pseudomonas Flavobacterium; spesies asal enterik seperti Escherichia coli dan Salmonella, meskipun tidak hidup bebas, dapat bertahan untuk jangka waktu yang substansial dalam air tercemar. Kontaminasi mikroba bahan baku termasuk air dibahas lebih rinci dalam Bab 3.

Kontaminasi yang timbul dari manufaktur dan mengisi pabrik yang disebabkan karena kontak langsung dengan produk tersebut harus dikendalikan dengan hati-hati . Pertumbuhan kontaminan, terutama bakteri Gram-negatif, mudah terjadi pada ruang mati (sendi dan katup, dll) di mana air dan produk residu menumpuk; sekali terkontaminasi akan sangat persistent dan sulit untuk menghilangkan.

Meskipun kontaminasi bisa sangat persistent dan sulit untuk menghilangkan, yang penting  tidak bersentuhan langsung dengan produk, bukti jelas bahwa transfer dapat terjadi di mana kontrol tidak diterapkan dengan benar. Dalam sebuah penelitian dari unit manufaktur rumah sakit (Baird et al. 1976), Maz. Aeruginosa diisolasi dari produk yang diproduksi di apotek. Isolasi strain yang sama dari organisme ini dari lingkungan dalam apotek menunjukkan bahwa sumber kontaminasi dalam banyak produk. Ketika kontrol lingkungan yang ketat prodedures diterapkan, isolasi produk tingkat untuk Mzm. Aeruginosa jatuh ke 2 – 3%.

Kontaminan lingkungan permukaan kering seperti lantai dan dinding terdiri dari batang terutama Gram positif, kokus dan spora jamur. Bakteri Gram-negatif lebih rentan terhadap efek mematikan saat pengeringan, tetapi sejumlah kecil dapat bertahan pada permukaan kering untuk waktu yang cukup (Scott dan Bloomfield 1990). Di daerah basah seperti tenggelam dan mengalir, terutama di mana air tergenang, spesies seperti Pseudomonas dan Acinetobacter dapat bertahan dan tumbuh. Kontaminasi udara terutama berhubungan dengan debu dan skala kulit, sebagian besar jamur dan spora bakteri dan kulit coccus. Baca Bab 3 untuk pembahasan lebih rinci tentang pencemaran lingkungan.

Kontaminasi dari operator proses dianggap sebagai bahaya yang signifikan. Selama aktivitas normal, hilangnya scales kulit akan mudah terkontaminasi dengan spesies dari flora kulit normal. Terutama non-patogen micrococci, diphtheroid dan staphylococci tetapi mungkin juga termasuk Staphylococcus aureus sebagai bagian dari flora kulit normal. Organisme lain (misalnya Salmonella dan E. coli),  juga dapat dilakukan transiently pada permukaan kulit dimana praktek-praktek higienis yang buruk oleh operator; berpotensi ini bisa dimasuk ke dalam produk melalui scales kulit dan langsung kontak. Pengendalian pencemaran manufaktur dibahas lebih lanjut dalam Bab 3, 4 dan 5.

Wadah produk dan penutupan harus bersih bakteriologis. Mereka harus secara memadai dirancang dan dibangun untuk melindungi produk. Ini sangat penting terutama dengan cairan steril. Felts dkk. (1972) melaporkan kontaminasi cairan intravena dengan jenis Erwinia, Enterobacter dan Pseudomonas. Menjadi terkontaminasi ketika botol semprot-didinginkan dengan air keran berikut sterilisasi. Dalam insiden lain dilaporkan (Phillips et al. 1972), kontaminasi cairan infus untuk menyemprotkan-pendingin air yang terkontaminasi dengan Mzm. Thomasii mendapatkan ingress untuk botol infus. Percobaan lebih lanjut menunjukkan bahwa sejumlah kecil air terperangkap karet dan dalam benang sekrup dari leher botol (Coles dan Tredree 1972). Robertson (1970) melaporkan kontaminasi infus glukosa salin dengan Trichoderma dan Penicillium spp. Disebabkan oleh penggunaan botol infus retak. Masalah serupa juga dilaporkan oleh Sack (1970) dan Daisy dkk. (1979).

Selain kontaminasi yang timbul dari bahan baku dan selama pembuatan, produk dapat menjadi terkontaminasi selama penyimpanan dan penggunaan .tipe dan tingkat kontaminasi hampir tidak mungkin untuk diprediksi dan hanya data yang  terbatas yang tersedia. Produk topikal, terutama yang dikemas dalam pot, berada pada risiko tertentu; Baird et al. (1979a) melakukan penelitian terhadap kontaminasi  dari obat-obatan topikal digunakan untuk pengobatan luka . Dalam sampel yang diambil dari dua rumah sakit, 20-25% ditemukan terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginasa (jumlah berkisar 102-106 cfu g-1) dan 21-59% dengan Staph. Aureus (jumlah berkisar 102-104 cfug-1). Dalam sebuah rumah sakit ketiga organisme ini tidak terisolasi dari setiap produk. Pada penyelidikan lebih lanjut ditemukan bahwa perawat di rumah sakit menghapus krim dari wadah dengan tangan kosong, sementara di rumah sakit obat-obatan ketiga krim dikeluarkan dari pot dengan spatulae dan diterapkan dengan tangan memakai sarung tangan. Pengenalan prosedur ini dikombinasikan dengan penggunaan produk dikemas dalam tabung menyebabkan tingkat isolasi untuk jatuh ke 0,4% dan 5% untuk Mzm. Aeruginosa dan Staph. Aureus, masing-masing. Dalam sebuah penelitian obat-obatan topikal yang sama yang digunakan oleh pasien di rumah sakit penyakit kulit, ditemukan bahwa 73% dari 41 sampel salep pengemulsi terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa, dengan jumlah berkisar from104 sampai 106 cfu g-1 (Baird et al. 1980). Proteus spp. Dan Staph. Aureus juga diisolasi dari beberapa sampel. Savin (1967) melaporkan sebuah studi dari 194 pot krim dan salep dimana enam ditemukan mengandung flora kulit dan sebagian mengandung coliform yang tidak ada dalam sampel dari apotek.

Dalam penggunaan obat-obatan kontaminasi digunakan di lingkungan rumah sakit dipelajari oleh Baird dan Petrie (1981). Dari 445 produk sampel, 25,6% ditemukan terkontaminasi, terutama dengan aerobik Gram-positif batang, meskipun batang Gram positif kokus dan Gram-negatif juga ditemukan 2,9% dan 3,1% dari sampel. Sebagian besar Gram-negatif isolat diidentifikasi sebagai Pseudomonas spp, tapi dalam survei Maz. Aeruginosa tidak ditemukan. Jumlah bervariasi antara 102 dan lebih dari 106 cfu ml-1. Sebuah survei kontaminasi mikroba produk farmasi di rumah dilaporkan oleh Baird et al. (1979b). Organisme yang layak itu dari 14% dari 1977 sampel diperiksa. Satu masalah yang dihadapi adalah kurangnya informasi tentang kualitas mikroba sampel tapi itu umumnya menyimpulkan bahwa obat-obatan digunakan di rumah kurang rentan terhadap kontaminasi daripada yang digunakan di rumah sakit.

Sedangkan kontaminasi produk steril selama manufaktur sekarang jarang, kontaminasi cairan intravena dan aparat selama penggunaan klinis masih terjadi. Dari survei literatur (1971 – 1983), Denyer (1984) menyimpulkan bahwa kontaminasi ‘yang digunakan’ cairan intravena dari wadah botol dan wadah plastik drop adalah dari urutan 4,3% dan 2,6%, masing-masing, meskipun secara umum organisme dalam jumlah rendah.

Dalam mengevaluasi hasil ‘di-gunakan’ survei kontaminasi mikroba, harus diingat bahwa tingkat kontaminasi  dalam produk yang digunakan tidak hanya mencerminkan bioburden oleh pasien tetapi juga karakteristik kelangsungan hidup dari kontaminan dalam produk.

 

4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SURVIVAL DAN PERTUMBUHAN ORGANISME DALAM PRODUK

Kualitas mikroba obat-obatan tidak hanya ditentukan oleh jenis dan tingkat organisme yang masuk selama pembuatan, penyimpanan dan penggunaan, tetapi juga oleh perilaku berikutnya dalam produk. Sedangkan sejumlah kecil organisme masuk ke produk selama penggunaan pembuatan mungkin menjadi  konsekuensi pasien, di mana organisme ini mengalami multiplikasi berikutnya dalam produk bahaya infeksi akan meningkat secara signifikan, guyne (1973) dan Felts dkk. (1972) menunjukkan bahwa ketika sejumlah kecil spesies seperti E. coli, Ps. Aeruginosa, Klebsiella pneumoniane, Staph. Aureus dan STAP. Epidemidis masuk ke dalam solusi intravena garam, Ringer-laktat dan dekstrosa 5%, basil Gram-negatif meningkat dalam populasi selama 24 jam sedangkan coccus Gram-positif tetap stasioner atau meninggal off. Dalam semua kasus pertumbuhan, jumlah bakteri dari 106 cfu ml-1 dicatat meskipun solusi tidak menunjukkan kekeruhan terlihat.

Banyak faktor fisikokimia dapat mempengaruhi nasib mikro-organisme memasuki sebuah produk, dalam praktik banyak produk yang disiapkan sendiri sehingga kontaminasi residu berkurang ke tingkat yang rendah selama penyimpanan tidak terdeteksi.

Sebagai mikro-organisme memiliki persyaratan mutlak bagi aktivitas air, air dan ketersediaan air memiliki efek pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Meskipun produk kering kurang rentan daripada produk berair, kontaminasi dan pembusukan bentuk sediaan padat telah dilaporkan dalam literatur pada beberapa kesempatan (Kallings et al 1966; Lang et al 1967; Komarmy et al 1967; Eikhoff 1967…: Beveridge 1975). Faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan kontaminasi mikroba dalam bentuk sediaan padat oral telah dipelajari oleh Blair (1989).

Sejak mikro-organisme tumbuh optimal pada pH netral formulasi atau dekat netral yang asam atau alkali dalam karakter jelas kurang rentan terhadap pembusukan. Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah ketersediaan hara, tekanan osmotik, tegangan permukaan, oksigen dan ketersediaan hara (lihat Chapter1). Potensi untuk eksploitasi diri-melestarikan sifat formulasi farmasi diilustrasikan oleh hasil survei PHLS (Anon. 1971a), secara umum, ditemukan bahwa jumlah mikroba yang rendah dikaitkan dengan produk dari ketersediaan air yang rendah, pH rendah dan tinggi sukrosa konten.

 

5. PEMBUSUKAN MIKROBA PRODUK FARMASI

Kemampuan mikro-organisme untuk menghasilkan kerugian degradatif dalam produk tergantung pada kemampuan mereka untuk mensintesis enzim yang sesuai. Fakta bahwa obat-obatan, kosmetik, makanan dan produk lainnya jauh lebih beresiko berasal dari kenyataan bahwa mikro-organisme sangat fleksibel dan adaptif dalam kemampuan mereka untuk mensintesis enzim degradatif. (bakteri, ragi suatu cetakan) kemampuan degradatif bervariasi seperti spesies yang sering terlibat. Degradatif separuh kehidupan untuk konstituen formulasi individu dapat bervariasi dari beberapa jam hingga beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun tergantung pada sifat dari molekul, lingkungan produk, jumlah dan jenis organisme dan apakah metabolit asal yang diproduksi mendukung pertumbuhan lebih lanjut.

Rendah berat molekul substrat seperti gula, asam amino, asam organik dan gliserol dipecah oleh jalur katabolik primer (lihat Bab 1). Enzim-enzim untuk jalur ini konstitutif dalam berbagai organisme. Sebagian besar senyawa kepentingan farmasi, bagaimanapun, molekul-molekul tinggi-berat badan atau aromatik dan lebih tahan terhadap degradasi sehingga enzim yang bertanggung jawab diproduksi oleh berbagai organisme yang lebih kecil.

Kerusakan protein, polisakarida dan lipid yang dibawa oleh proteinase dan peptidases, polysaccharidases dan lipase, masing-masing (lihat Bab 1). Banyak dari enzim ini memiliki spesifisitas substrat rendah dan akan menyerang berbagai senyawa dalam kelompok. Polisakarida mampu hidrolisis pati, agar dan selulosa yang dihasilkan oleh berbagai organisme termasuk Bacillus, Pseudomonas dan Clostridium. Produksi amilase-sangat lazim di Bacillus spp / spesies ini, bersama dengan Aspergillus dan Penicillium spp, merupakan sumber yang paling umum dari enzim proteinase dan peptidase menyebabkan kerusakan senyawa seperti gelatin. Produksi lipase kurang luas dan terjadi paling sering antara cetakan – maka alasan bahwa pembusukan krim dan emulsi umumnya karena pertumbuhan jamur.

Kemampuan organisme tertentu untuk menurunkan senyawa aromatik dan hidrokarbon rantai panjang yang luar biasa karena jenis molekul yang stabil untuk menyerang oleh banyak agen aktif kimia. Namun, dibatasi untuk kelompok terbatas bakteri, yang paling menonjol menjadi pseudomonad dan terkait Gram-negatif spesies, dan beberapa jamur. Kapasitas untuk mendegradasi senyawa aromatik karena sintesis enzim yang mengkatalisis penggabungan oxygenase langsung dari oksigen ke dalam molekul substrat. Untuk molekul aromatik, pengenalan gugus hidroksil, dikatalisis oleh enzim oksigenase, efek resonansi yang stabil dari cincin benzena, sehingga membuat lebih rentan terhadap serangan oleh enzim yang mengkatalisis oksigenase lanjut pembukaan cincin. Produk fisi cincin kemudian lebih lanjut dimetabolisme, memproduksi intermediet dari siklus trikarboksilat yang pada gilirannya dimetabolisme melalui siklus itu. Jalur kemungkinan untuk degradasi asam asetilsalisilat oleh Acinetobacter lwoffii, sebagaimana dijelaskan oleh Grant et al. (1970), diilustrasikan pada Gambar. 1.

Produk pembusukan yang timbul dari degradasi enzimatik dapat memanifestasikan dirinya dalam beberapa cara. Rincian dari bahan aktif akan menyebabkan hilangnya potensi. Atau degradasi komponen formulasi mungkin terjadi terkait dengan pengiriman dosis yang tidak efisien dan bioavailabilitas berkurang. Kerusakan formulasi diamati, seperti produksi pigmen dan bau berbahaya, akan membuat produk tidak dapat diterima pasien, aktivitas mikroba dalam produk tersebut juga dapat menghasilkan produksi racun berpotensi berbahaya atau degradasi pengawet memungkinkan pertumbuhan spesies kontaminan lainnya.

 

5.1 Perincian bahan aktif

Percobaan laboratorium menunjukkan berbagai agen terapi yang dapat terdegradasi oleh enzim mikroba. Degradasi antibiotik, khususnya penisilin degradasi oleh β-laktamase, telah dipelajari secara ekstensif, seperti ditinjau oleh franklin dan Snow (1989). Enzim mikroba yang menurunkan kloramfenikol telah dikenal sejak 1949 (Smith dan Worrel 1949) Studi laboratorium dari degradasi mikroba senyawa seperti aspirin, parasetamol phenacetin dan (Grant 1970,

1971; Grant dan Wilson 1973; Hart dan Orr 1974), alkaloid (Bucherer 1965; Hibah 1973;. Kedzia dkk 1982) telah dilaporkan dalam literatur. Dalam beberapa kasus jalur degradatif telah dijelaskan. Laporan transformasi mikroba molekul biologis aktif dalam produk diformulasikan telah baru-baru ditinjau oleh Denyer (1988) seperti ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4 – transformasi Mikroba senyawa biologis aktif dalam produk diformulasikan

Produk

Transformasi

Organisme

Referensi

Syrup of Tolu Cinnamic acid→toluene-like product Penicillium s  pp. Wills (1958)
Atropine eye-drops Loss of atropine Corynebacterium spp.

Pseudomonas spp.

Kedzia et al.(1961)

Beveridge (1975)

Belladonna and ipecacuanha paediatric mixture BPC Loss of atropine Mixed flora  
Aspirin mixture Aspirin hydrolysis - Beveridge (unpublished)
Paracetamol Mixture Paracetamol degradation - Beveridge (unpublished)
Aspirin and codeine tablets BP Aspirin hydrolysis - Denyer (unpublished)
Prednisolone tablets Localized steroid transformation Aspergillus spp. Beveridge (1987, and unpublished)
Hydrocortisone cream Hydrocortisone androst-4-ene-11-ol-3:17 dione Cladosporium herbarium Cox and Sewell (1968)
Rose-hip preparation Destruction of vitamin C Anaerobic bacteria Beveridge (unpublished)

Dicetak ulang dengan izin dari Elsevier Sains Terapan dari Denyer (1988).

 

5.2 Produksi racun

Beberapa spesies mikro-organisme mampu melepaskan metabolit toksik yang mungkin menjadikan produk tersebut berbahaya bagi pasien. Mungkin yang paling penting dari ini dalam kaitannya dengan produk farmasi pirogen. Ini adalah terutama lipopolisakarida komponen Gram-negatif dinding sel bakteri yang dapat menyebabkan reaksi demam akut jika diperkenalkan secara langsung ke dalam aliran darah. Racun ini adalah panas yang stabil dan dapat hadir bahkan ketika organisme yang layak tidak lagi terdeteksi. Mereka, bagaimanapun, hanya kurang teradsorpsi melalui saluran pencernaan dan karena itu penting kecil dalam persiapan oral.

Racun bakteri yang berhubungan dengan makanan poising akut wabah belum dilaporkan dalam obat-obatan, meskipun kehadiran menghasilkan racun Bacillus cereus (Arribas et al. 1988) dan aflatoksin penghasil Aspergillus flavus (Hikoto et al. 1978) telah terdeteksi . Telah ditunjukkan eksperimental bahwa pati farmasi dapat mendukung pembentukan mikotoksin ketika artifisial diinokulasi dengan strain racun Aspergillus (Fernandez dan Genis 1970). Toksin productiooon dalam farmasi telah dibahas lebih lanjut oleh Wallhaeusser (1977).

 

5.3 Rumusan umum rincian

Pembusukan biasanya diamati sebagai hasil dari gangguan umum formulasi. Formulasi yang kompleks sangat rentan terhadap pembusukan jenis, yang mungkin melibatkan fenomena seperti retak atau creaming emulsi kerusakan formulasi, seperti ditinjau oleh Denyer (1988), ditunjukkan dalam Tabel 5. Perubahan ini tidak hanya akan membuat produk estetis tidak dapat diterima tetapi juga dapat mempengaruhi pengiriman dosis melalui pemisahan pparticles ditangguhkan atau fase berminyak diemulsikan, atau altertation ofdrug charactristics rilis dari permukaan yang rusak tablet. Perubahan fisikokimia pada gilirannya menjadi efek dari banyak peristiwa degradatif yang berbeda dalam produk.

 

5.3.1 Degradasi surfaktan

Banyak dari surfaktan yang digunakan dalam emulsi farmasi mengalami degradasi mikroba, terutama surfaktan non-ionik. Kemampuan untuk menurunkan molekul surfaktan lagi terbatas pada rentang kecil organisme, terutama pseudomonad. Kerentanan terhadap biodegradasi tergantung pada struktur kimia, biodegradasi menurun karena panjang rantai hidrokarbon dan derajat percabangan rantai meningkat. Formulasi yang mengandung surfaktan anionik biasanya cukup terlindung dengan baik karena sifat alkalin dari formulasi. Namun demikian sulfat dan alkil sulfonat ester alkilbenzen dan dapat dihidrolisis dengan alkohol yang sesuai, yang kemudian diubah menjadi asam lemak. ω-Oksidasi dari kelompok metil terminal kemudian diikuti oleh β-oksidasi rantai hidrokarbon dan fisi dari cincin aromatik.

Banyak surfaktan non-ionik yang ditemukan dapat terurai, meskipun jalur degradasi mungkin belum dijelaskan, ini umumnya melibatkan jalur hidrolitik dan oksidatif. Biodegradasi surfaktan telah ditinjau oleh Swisher (1987).

Tabel 5 – Produk menderita perubahan degradatif diamati berikut kontaminasi mikroba

Tipe produk Contoh Perubahan yang diamati pembusukan organisme referensi
Solusi dan campuran Solusi sederhana berair kekeruhan Ganggang, jamur, bakteri, ragi Smart and Spooner (1972)
  Konsentrat dill air Pertumbuhan terlihat Penicillium roqueforti Parker and Barnes (1967)
  Campuran pencernaan Perubahan warna(putih ke hitam) Sulphate reducers Spooner (1988)
  Magnesium Ammoniacal Coliforms Robinson (1971)
  Hydroxida antacids bau    
Suspending/ thickening agents Carboxmethylcellulose gels/ lubricants Hilangnya viskositas Trichoderma spp. Beveridge (1975)
  Pati, tragakan Lendir akasia Hilangnya viskositas - Beveridge (1975)
  Tragacanth mucilage Fermentasi (alcohol dan gas) Ragi Denyer (unpublished)
Sirup Syrup BP Fermentasi Osmotoletant yeasts Westwood and Pin-Lim (1971)
  Syrup-containing cough remedies Microbial deposits Osmotolerant moulds Smart and Spooner (1972)
Emulsi Oil-water olive oil emulsions Pemisahan fase, perubahan warna, rasa tidak enak dan bau Trichoderma viride, Ps. Aeruginosa, Asp. Flavus, Asp. Niger. Beveridge (1975)
Krim Calamine Terlihat pertumbuhan Mould Smart and spooner (1972)
  Cosmetik Terlihat pertumbuhan Penicillium spp. Parker and Barnes (1967)
Tablets Aspirin and codeine BP Permukaan perubahan warna dan bau asam asetat - Denyer (unpublished)
  Nitrazepam Perubahan warna, dan bau asam asetat    
  Prednisolone Permukaan Aspergillus spp. Beveridge (unpublished
  Sugar-coated tablets Disintegrasi dan ‘mengadu’ lapisan Penicillium spp. Aspergillus spp. Parker and Barners (1967)

Dicetak ulang dengan izin dari Elsevier Sains Terapan dari Denyer (1988).

5.3.2 Degradasi penebalan dan menangguhkan agen

Berbagai macam bahan yang digunakan dalam obat-obatan untuk tujuan ini, banyak yang oleh enzim ekstraseluler biodegradable. Degradasi ini menghasilkan monomer polimer molekul seperti gula yang berfungsi sebagai substrat untuk pertumbuhan dan efek pembusukan lebih lanjut. Pati, akasia carboxymethylcelluloses natrium, dan dextran semua biodegradable. Agar-agar tahan terhadap serangan meskipun merendahkan agar-organisme memang ada. Polyethylene glikol kecuali yang berat molekul tinggi yang terdegradasi, meskipun polimer yang digunakan dalam kemasan umumnya tahan. Gelatin dihidrolisis oleh berbagai macam sering terjadi mikro-organisme.

 

5.3.3 Pemanfaatan humektan dan co-pelarut

Gliserol dan sorbitol mendukung pertumbuhan mikroba pada konsentrasi rendah. Pada konsentrasi rendah alkohol dapat berfungsi sebagai substrat untuk pertumbuhan.

 

5.3.4 Degradasi agen pemanis, penyedap dan pewarna

Gula dan agen pemanis lainnya dapat bertindak sebagai substrat untuk serangan mikroba, terutama oleh ragi osmophilic. Suspensi atau emulsi oral yang mengandung gula bertanggung jawab untuk fermentasi dan produksi gas dan asam yang mungkin cukup untuk mengubah stabilitas formulasi, solusi stok agen penyedap dan pewarna, dan larutan garam bahkan sederhana seperti kalium sitrat dan kalsium glukonat, akan mendukung pertumbuhan gizi non-bakteri dan ragi menuntut.

 

5.3.5 Degradasi minyak dan emulsi

Mikro-organisme tidak tumbuh di lingkungan non-air, namun dalam suatu sistem emulsi mereka dapat tumbuh dalam fase berair memproduksi enzim lipolitik yang menyerang komponen trigliserida minyak pada gliserol antarmuka minyak-air membebaskan dan asam lemak. Asam lemak selanjutnya dapat dimetabolisme oleh β-oksidasi rantai alkil dengan produksi keton. Gliserol adalah substrat dapat dipakai untuk banyak organisme. Beberapa wawasan pembusukan sistem emulsi telah diperoleh dari penelitian terhadap pemecahan minyak pemotongan rekayasa (guyne dan Bennett 1959).

Salep dan minyak kurang rentan terhadap serangan, tetapi pembusukan banyak terjadi di mana produk-produk ini mengandung jejak air terkondensasi atau disimpan dalam suasana lembab. Pembusukan minyak Arachis dan parafin cair telah dilaporkan (Rivers dan Walters 1966).

 

5.4 Geneal penurunan penerimaan produk

Perubahan formulasi produk tidak hanya mempengaruhi potensi terapi tetapi juga dapat membuat produk dapat diterima pasien. Selain itu, perubahan lainnya yang melibatkan degradasi mikroba dengan produksi bahan sisa metabolisme dapat membuat produk estetis tidak dapat diterima. Contoh senyawa tersebut meliputi sulfida hidrogen, amina, keton, asam lemak, alkohol atau amonia, yang memberikan bau beracun atau terasa tidak menyenangkan untuk produk. Produk mungkin menjadi berubah warna oleh berbagai pigmen mikroba; organisme yang paling sering terlibat adalah pseudomonad, yang memproduksi pigmen; organisme yang paling sering terlibat adalah pseudomonad, yang memproduksi pigmen bervariasi dari biru menjadi coklat.

Tanda paling jelas dari pembusukan adalah pertumbuhan terlihat baik sebagai koloni atau kulit tipis pada permukaan produk. Atau polimerisasi molekul gula atau sirup atau surfaktan dalam shampoo menghasilkan massa berlendir kental dalam produk, sementara agregasi dari bahan dapat menghasilkan sedimen dalam produk cair atau tekstur berpasir dalam krim.

 

5.5 Degradasi pengawet

Meskipun agen antimikroba digunakan dalam produk farmasi untuk mencegah pembusukan, bahan pengawet yang umum digunakan banyak sendiri terdegradasi oleh mikroorganisme, terutama pseudomonad tetapi juga spesies Acinetobacter, Moracella dan Nocardia. Pengawet diketahui rentan terhadap degradasi termasuk klorheksidin, cetrimide, phenolic, phenyletly alkohol, asam benzoat, benzalkonium klorida dan p-hydroxybenzoates (Beveridge dan Hugo 1964a, 1964b; Hugo dan Foster 1964; Beveridge dan Tinggi 1969; Beveridge dan Hart 1970; Hibah 1970; Hart 1970;. kido et al 1988).

 

6. INFEKSI BAHAYA DARI KONTAMINASI MIKROBA FARMASI

Pengalaman telah menunjukkan bahwa produk tersebut mungkin tidak menunjukkan bukti sensorik kontaminasi tapi masih mungkin mengandung populasi mikroba yang tumbuh. Pada orang dewasa sehat yang normal ini merupakan masalah kecil kecuali organisme adalah patogen utama, tetapi jika pengguna immunocompromised dengan cara apapun, atau produk diperkenalkan ke daerah biasanya steril tubuh atau diterapkan pada kulit rusak, selaput lendir atau mata, infeksi dapat terjadi. Signifikansi klinis dari mikro-organisme dalam obat-obatan yang terakhir oleh Parker (1972) dan ringertz dan Ringertz (1982). Secara keseluruhan risiko infeksi tergantung pada empat faktor.

 

6.1 Jenis organisme

Dari organisme yang telah diisolasi dari produk farmasi, Salmonella adalah satu-satunya yang harus dianggap sebagai patogen utama, i, e. suatu organisme yang menghasilkan penyakit bahkan ketika tidak sengaja diberikan. Sebagian besar patogen primer tidak bertahan dengan baik di luar tubuh manusia atau hewan. Sebaliknya, organisme patogen dianggap sebagai potensial atau bersyarat telah cukup sering dilaporkan sebagai pencemar obat-obatan. Ini umumnya tidak berbahaya bagi orang dewasa normal dan sehat, tetapi mudah menjadi menular dimana mekanisme resistensi terganggu. Patogen oportunis tersebut termasuk pseudomonad dan enterobacteria dan spesies flavobacterium dan Staphylococcus.

Dari Enterobacteriaceae itu adalah spesies yang hidup bebas (Enterobacter, Klebsiella, Serratia) yang sebagian besar biasanya terjadi pada obat-obatan, walaupun dapat menyebabkan penyakit spesies ini tidak biasanya ditemukan sebagai bagian dari flora tubuh normal. Sebaliknya, spesies seperti E. coli, Proteus spp. Dan beberapa spesies Klebsiella biasanya ditemukan sebagai bagian dari flora tubuh normal, walaupun tidak berbahaya dalam usus, mereka mudah menyebabkan penyakit jika dipindahkan ke daerah lain. Organisme ini hanya memiliki kemampuan terbatas untuk bertahan hidup di luar tubuh dan kurang sering ditemukan sebagai pencemar obat-obatan.

Mzm. Aeruginosa adalah organisme hidup bebas. Meskipun hadir sebagai bagian dari flora usus normal hanya sekitar 4-6% dari populasi normal, itu mudah akan menyebabkan infeksi pada luka atau luka bakar. Pseudomonas cepacia lain hidup bebas spesies yang telah menyebabkan infeksi pada sejumlah kesempatan (Levey dan Guinness 1981;. Berkelman et al 1984). Flavobacterium meningosepticum adalah spesies ditularkan melalui air berpigmen yang dapat menyebabkan sepsis umum berat pada bayi (Parker 1972). Sampai dengan 30% dari populasi mungkin pembawa baik persisten atau intermiten Staph.aureus (Armstrong-Ester dan Smith 1976), walaupun organisme ini tidak berkembang di luar tubuh, sangat tahan terhadap pengeringan dan dapat bertahan dalam produk-produk untuk substansial periode waktu.

Spesies lain yang paling sering terlibat dalam infeksi nosokomial oportunistik termasuk Acinetobacter anitratus, Staph. Epidermidis, dan pyogencs Streptococcus. Namun, tidak satupun dari organisme tersebut belum pasti impicated wabah karena obat-obatan yang terkontaminasi.

 

6.2 Dosis infektif

Pengamatan tercatat dalam literatur menunjukkan bahwa ‘infektif dosis’ dari suatu organisme dapat bervariasi dan tergantung pada beberapa faktor. Diberikan secara oral, dosis cukup besar mungkin diperlukan; eksperimen dengan orang dewasa yang sehat menunjukkan bahwa dosis infektif Salmonella atau E. coli dapat setinggi 106-107 organisme atau serendah 102-103, tergantung pada spesies yang terlibat (McCullough dan Eisele 1951; Ferguson dan Juni 1952). Wabah melibatkan coklat dan keju Cheddar menunjukkan bahwa dosis infektif untuk Salmonella dapat sesedikit 50 – 100 organisme, dan kurang dari sepuluh organisme, masing-masing (Gill et al 1983; Greenwood dan Hooper 1983; D’Aoust 1985.). Pada anak-anak sangat kecil dosis infektif untuk Salmonella dapat serendah 200. uang dan Cooke (1969) menemukan bahwa konsumsi minimal 106 Ps. Aeruginosa mungkin diperlukan untuk kolonisasi usus orang normal.

Sejauh preparat topikal yang bersangkutan, percobaan dengan sukarelawan sehat menunjukkan bahwa inokulum hingga 106 Staph. Aureus mungkin diperlukan untuk menghasilkan nanah, namun sesedikit 102 mungkin cukup di mana kulit trauma atau tersumbat (Marples 1976). Menurut Crompton dkk. (1962), suntikan pada mata dari sesedikit 60 sel dari Ps. Aeruginosa cukup untuk menyebabkan infeksi pada kelinci. Lecet bahkan relatif sepele mata secara substansial dapat meningkatkan risiko infeksi.

 

6.3 Host resistensi terhadap infeksi

Meskipun dalam kebanyakan situasi orang dewasa sehat normal memiliki ketahanan yang memadai terhadap infeksi, produk farmasi sering diberikan kepada orang-orang yang tubuhnya pertahanan terhadap infeksi terganggu. Situasi ini mungkin timbul pada pasien dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya seperti leukemia atau diabetes. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan terapi obat imunosupresif yang mungkin termasuk pengobatan steroid atau kemoterapi. Perlawanan lokal Gangguan berhubungan dengan luka bedah dan kecelakaan, luka bakar dan luka tekanan. Hal ini juga sering dikaitkan dengan memasukkan kateter atau perangkat bedah lainnya. Pasien geriatri dan bayi, khususnya selama beberapa hari pertama kehidupan, menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi.

 

6.4 Rute administrasi

Infeksi risiko yang terkait dengan farmasi yang terkontaminasi akan sangat tergantung pada penggunaan yang dimaksudkan. Secara umum, risiko infeksi akan jauh berkurang untuk obat yang diberikan secara lisan atau diterapkan pada kulit utuh dibandingkan dengan formulasi yang digunakan untuk perawatan kulit atau selaput lendir terkelupas, atau mata yang rusak.

Untuk produk yang diperkenalkan ke daerah biasanya steril tubuh, potensi risiko cukup besar. Sebuah tinjauan baru-baru kontaminasi mikroba cairan intravena selama penggunaan (Denyer 1984) menunjukkan bahwa jumlah kecil terutama organisme non-patogen umumnya ditoleransi dengan baik dan infeksi yang jarang terjadi.

Meskipun, seperti dibahas sebelumnya dalam bab ini, beberapa studi terkontrol dengan relawan dewasa yang sehat telah digunakan untuk menilai risiko infeksi, sebagian besar pengetahuan kita tentang signifikansi klinis kontaminasi dalam produk obat berasal dari laporan yang diterbitkan wabah infeksi dari penggunaan produk tersebut. Ini adalah terakhir dalam bagian berikut.

 

6.4.1 Oral obat-obatan

Sastra berisi beberapa laporan wabah infeksi Salmonella dihasilkan dari produk oral terkontaminasi. Pada tahun 1966 wabah infeksi pada 202 pasien di Swedia kemudian ditelusuri ke tablet tiroid yang ditemukan mengandung Salmonella Bareilly, Salmonella munchen dan lain dan organisme lainnya feses lebih dari 106 cfu g-1 (Kallings dkk 1966;. Kalling 1973). Pada tahun 1967 sejumlah kasus gastro-usus infeksi saluran di Amerika Serikat dijiplak untuk kapsul carmine terkontaminasi dengan Salmonella Cubana (Lang et al 1967; Komarmy et al 1967;. Elkhoff 1967). Infeksi Salmonella agona dari berhubungan dengan pancreatin terkontaminasi dilaporkan dalam dua anak (Glen lintas 1972). Shwarzengrund dan Salmonella Salmonella eimsbuttel juga ditemukan dalam batch infeksi pancreatin menyebabkan dua anak dengan fibrosis kistik (Rowe dan Hall 1975).

Shooter dkk. (1969) melaporkan kolonisasi usus (meskipun tidak infeksi) dari sejumlah pasien rumah sakit setelah pemberian sengaja air peppermint mengandung 106 cfu ml-1 Ps.aeruginosa.

Baru-baru ini wabah septikemia yang disebabkan oleh penggunaan obat kumur timol terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa tercatat (Stephenson dkk, 1984). Millership dkk. (1986) juga melaporkan kolonisasi pasien dari penggunaan obat kumur bangsal komunal dan feed yang sangat terkontaminasi dengan coliform.

 

6.4.2 Topikal administrasi

Meskipun kulit utuh muncul sebagai penghalang yang efisien terhadap infeksi, untuk kulit yang rusak risiko infeksi meningkat secara substansial. Multidose kontainer, terutama yang digunakan oleh lebih dari satu orang, rentan terhadap kontaminasi, terutama dalam situasi rumah sakit, dan ada laporan dari wabah infeksi dari penerapan produk tersebut.

Salah satu laporan awal adalah wabah fatal infeksi Clostridium tetani pada bayi disebabkan oleh daya talek terkontaminasi (Tremewen 1946; Hills 1946). Pada tahun 1966, Mulia dan Savin melaporkan sejumlah kasus lesi kulit yang dijiplak untuk krim betametason terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa (Morse et al 1967.). McCormack dan Kunin (1966) disebabkan wabah sepsis pusar untuk marcescens Serratia dalam larutan garam digunakan untuk membasahi sisa tali pusat. Pada tahun 1967, krim tangan di unit terapi intensif (Morse et al 1967.). Bassett et al. (1970) diisolasi Pseudomonas multivorans dari luka opetation terinfeksi di sembilan patiens rumah sakit, sumber infeksi subsewuently ditelusuri ke disinfektan klorheksidin-cetrimide diencerkan ditemukan terkontaminasi dengan 106 pseudomonad per mililiter. Kolonisasi dan infeksi dengan Mzm. Aeruginosa yang timbul dari penggunaan deterjen yang terkontaminasi, desinfektan dan obat-obatan topikal termasuk seng berbasis krim dan salep pengemulsi penghalang juga dilaporkan oleh Victorin (1967), Cooke et al. (1970), Baird dan Shooter (1976), dan Baird et al. (1979a, 1980). Baru-baru ini, salveson dan Bergen (1981) melaporkan kontaminasi dari berbagai organisme dalam krim tangan chlorhexidine digunakan untuk mencegah infeksi pada pasien kateter, penggunaan krim terkontaminasi dikaitkan dengan infeksi saluran kemih pada sejumlah pasien. Klinis infeksi berikut aplikasi larutan antiseptik iodophor terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa dan Mazmur. Cepacia juga telah dilaporkan oleh Nuri dkk. (1982) dan Berkelman dkk. (1984).

 

6.4.3 Infeksi pernapasan

Infeksi saluran pernapasan nosokomial melibatkan bakteri Gram-negatif telah dilaporkan cukup sering dan dalam hal tertentu ini telah dilacak untuk nebulizers dan humidifier yang digunakan dalam terapi inhalasi (Favero dkk 1971;. Pierce dan Sanford 1973; Petersen et al 1978.). Dalam dua kasus, solusi aerosol yang terkontaminasi dengan Klebsiella spp. Dan Ser. Marcescens (Sanders et al. 1970) telah terlibat sebagai penyebab infeksi paru. Wabah infeksi pernapasan juga ditelusuri untuk tabung endotrakeal dilumasi dengan jelly lignokain terkontaminasi (kallings et al. 1966).


6.4.4 Desinfektan

Meskipun disinfektan digunakan untuk membunuh mikro-organisme, beberapa spesies Gram-negatif, terutama pseudomonad, bisa mendapatkan resistensi dan tumbuh dalam larutan desinfektan, memanfaatkan desinfektan antimikroba telah ditinjau oleh Bloomfield (1988). Dari 42 insiden diselidiki, 24 dilaporkan berhubungan dengan, atau terlibat dalam, kolonisasi pasien atau wabah infeksi. Mayoritas laporan yang berkaitan dengan fenolat, amonium kuartener atau formulasi klorheksidin. Kontaminan terutama pseudomonad, khususnya Mzm. Aeroginosa dan Mazmur. Cepacia. Lain Gram-negatif spesies yang termasuk Alcaligenes faecalis, Enterobacter cloacae, Enterobacter agglomerans, E. coli, Ser. Marcescens dan F. meningosepticum. Gram-positif isolat tidak tercatat dalam kajian ini, tetapi dilaporkan dalam sebuah penelitian terbaru tentang disinfektan rumah sakit disiapkan (Nkibiasala et al. 1989).

 

6.4.5 Persiapan Kedokteran Mata

Meskipun sterilitas telah menjadi persyaratan farmakope untuk tetes mata dan lotion sejak tahun 1966, ada sejumlah laporan dalam literatur, khususnya sebelum 1966, infeksi yang dihasilkan dari penggunaan sediaan mata yang terkontaminasi. Organisme perhatian utama kembali Mzm. Aeruginosa, yang menghasilkan ulserasi kornea dan dapat menyebabkan kebutaan.

Pada tahun 1952, Theodore dan Feinstein menerbitkan kertas menunjukkan korelasi yang kuat antara infeksi Pseudomonas dalam praktek klinis dan penggunaan sediaan mata yang terkontaminasi. Allen (1959) memperkirakan bahwa di Amerika Serikat setidaknya 200 orang setiap tahun menderita kehilangan penglihatan dari penggunaan tetes mata yang terkontaminasi terkontaminasi dkk. (1964) melaporkan bukti infeksi mata dari penggunaan tetes mata terkontaminasi dengan spesies Aerobacter. Ringertz dan Ernerfeldt (1965) dan Kalling dkk. (1966) melaporkan Mzm. Aeruginosa infeksi arishing dari batch terkontaminasi neomycins menyebabkan kebutaan dari penggunaan garam terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa selama operasi intraokular. Baru-baru ini sejumlah kasus keratitis dijiplak untuk tetes mata terkontaminasi dengan Ser. Marcescens meskipun organisme tampaknya berasal dari topi penetes (Templeton et al. 1982).

Sejumlah infeksi serius dari penggunaan kosmetik mata yang terkontaminasi juga telah dilaporkan (Wilson et al 1971;. Ahearn et al 1973;. Wilson dkk 1975;. Wilson dan Ahearn 1977; reid dan kayu 1979). Organisme menginfeksi mencakup tidak hanya spesies bakteri, tetapi juga berbagai ragi dan jamur seperti Candida albicans, Fusarium spp dan Penicillium.

 

6.4.6 Mengairi cairan dan cairan dialisis

Sastra berisi beberapa laporan infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh cairan mengairi terkontaminasi (terakhir dkk 1966;. Mitchell dan Haywad 1966). KLB infeksi Pseudomonas dari catheterkit kemih terkontaminasi dijiplak untuk solusi pembersihan kuman yang terkontaminasi dengan bakteri per mililiter 103 (Hardy et al. 1970).

Hemodialisa merupakan masalah tertentu. Favero dkk. (1974) melaporkan dua kasus septikemia dari cairan dialisis terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa. Curtis et al. (1967) menggambarkan wabah bakteremia akibat kontaminasi Bacillus cereus dari cairan dialisis.

 

6.4.7 Ijeksi

Tidak diragukan lagi wabah infeksi yang paling serius yang berhubungan dengan cairan suntik yang terkontaminasi mana kejutan bacteraemic dan dalam beberapa kasus kematian pasien dapat terjadi. Pada tahun 1970, Roberson melaporkan dua kasus infeksi dari arsing penggunaan glukosa-larutan garam terkontaminasi dengan Trichoderma spp dan Pencillium. Sejumlah kasus sepsis berikut administrasi cairan dilaporkan oleh kempa dkk. (1972). Spesies Erwinia, Ent. Cloacae dan Mazmur. Stutzeri diisolasi dari cairan. Phillips et al. (1972) melaporkan wabah infeksi yang melibatkan pasien rumah sakit 40 setelah pemberian influsions terkontaminasi dengan Ps.thomasii. wabah paling terkenal di Inggris mengakibatkan kematian enam pasien rumah sakit setelah pemberian larutan dekstrosa terkontaminasi (Meers et al. 1973). Isi 155 botol batch tersangka diperiksa, dimana sekitar sepertiga yang berawan. K. aerogenes, Ent. Cloacae, Erwina herbicola, Maz. Thomasii, coryneforms dan spesies lain dari Enterobacteriaceae diisolasi dari cairan. Lapage dkk. (1973) mengidentifikasi 80 jenis baterial, terutama enterobacteria, pseudomonad dan coryneforms terkait dengan dua wabah infeksi dari cairan infus yang terkontaminasi.

 

7 GAMBARAN UMUM

Perbaikan substansial dalam kualitas mikroba produk farmasi yang diproduksi telah terlihat dalam dua puluh tahun terakhir ini. Hal ini dapat diilustrasikan dengan membandingkan hasil survei PHLS 1971 (Anon. 1971a) dengan hasil survei yang lebih baru dari rumah sakit-produk pabrikasi yang dilakukan selama periode 1975-1983 oleh Baird (1985). Dimana survei menunjukkan bahwa 2,7 PHLS% dari sampel 1220product terkontaminasi dengan Mzm. Aeruginosa dan 15% dengan lainnya batang Gram-negatif, survei lebih baru (13 000 sampel) menunjukkan hanya dua isolat dari Ps. Aeruginosa, dengan hanya 0,24% dari sampel yang mengandung batang Gram-negatif. Meskipun perbaikan, bagaimanapun, tidak ada ruang untuk berpuas diri karena wabah infeksi terus dilaporkan dari waktu ke waktu (Baird et al 1980;. Salveson dan Bergen 1982; Stephenson et al 1984;. Millership et al, 1986.).

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.